"Biar lah itu menjadi urusan keduanya," begitu tutur Wira. Ia tak mau parno hanya karena masalah sesepele ini. Walau yang namanya urusan asmara itu tak pernah sepele. Ardan pun tak berkutik. Ia memang tak akan memengambil keputusan apapun untuk urusan ini. Untuk saat ini, keputusan terbaik adalah apa yang dikatakan Papanya ini. Aisha menghela nafas. Ia agak lelah dengan situasi ini. Tapi mau bagaimana lagi? Jalan penyelesaiannya seakan buntu. Dan lagi..... "Ardan keluar dulu!" pamitnya. Aisha melihat anak sablengnya keluar begitu saja tanpa memakai helm. Tak lama, motor Ardan sudah bergerak keluar. "Iiih! Abang Ardan mau ke manaaaaa?" teriak Adel. Gadis kecil itu berjalan bersama Agha dari arah masjid. Lebih tepatnya, keduanya baru pulang dari rumah Ustad Marshall. Ardan hanya membuny

