"Weeesss!" Ardan nyaris terjungkal dari kursi gegara Adit menepuk bahunya tiba-tiba. Cowok itu baru saja tiba saat Ardan sibuk bercermin menggunakan cermin yang ia selalu bawa ke mana-mana. Jangan tanya asal-muasal cermin itu. Karena Ardan tentu saja tidak membelinya. Ia merampok milik Dina. Hihihi. Untungnya, saudara kembar sablengnya itu tak tahu. Dan lagi, ia sudah lama mencuri cermin itu. Adit terbahak sementara Ardan mengelus d**a. Adit kalau sedang usil emang gak kira-kira. Eeh tapi keduanya sama sih. Sejak dulu memang sama-sama usil. "Kok lo di sini sih?" tanya Ardan. Ia heran karena ia memang sedang dinas di sini, di Surabaya. Sudah dua hari ia di sini. Tapi baru kali ini ia bertemu Adit setelah dua tahun terakhir. Ia memang tak begitu tahu Adit ke mana saja. Hanya mendengar kala

