Tuan Hawthorne menunggu, tapi kalimat yang memintanya untuk berhenti tak kunjung datang. Jasmine membuatnya bingung, memenuhi pikirannya dengan pertanyaan tanpa jawaban. Apakah dia harus berhenti? Atau lebih baik meneruskan langkah-langkahnya untuk menemukan batas toleransi Jasmine? "Jasmine," panggilnya. Jasmine membuka mata perlahan, mencari tahu sudah sejauh mana mereka melangkah. Rasa malu menghampirinya saat menyadari tubuhnya terbuka tanpa penghalang, sementara jubah piama Tuan Hawthorne tampak berantakan dengan tali pinggang yang hampir lepas. "S—sekarang a—aku ..." Jasmine terbata-bata, mencengkeram seprai dengan erat. Tuan Hawthorne menatap tubuh Jasmine yang dipenuhi dengan tanda-tanda kemerahan. Tangannya terulur, menggeser rambut yang menutupi leher, dan memperlihatkan tand

