BAB 2 (Benih Asmara)

1052 Words
Desir angin berhasil menggerakkan rambut hitam Birawa yang dibelah tengah. Laki-laki dua puluh satu tahun itu tampak menikmati indahnya pemandangan yang berhasil membius penglihatannya. Ombak yang mengayun begitu tenang, menyapu halus pasir-pasir di bibir pantai penuh kelembutan. Birawa menghela napas. Kemudian ia tampak memejamkan netra dan kembali mengembuskan napas itu perlahan. Mahasiswa semester akhir di STKIP itu terlihat menepi dari kerumunan. Di bawah nyiur kelapa yang melambai mesra tertepa angin, tatapan Birawa jauh menerawang. Debur ombak sesekali terdengar, mengingatkan Birawa pada sosok kesayangan yang sangat ia rindukan. Perempuan paruh baya yang begitu mencintai pemandangan alam Pantai Prigi. Ini kali ke tiga Birawa kembali berwisata. Namun, kali ini tanpa ditemani sosok penuh kasih yang telah membesarkannya. Pendar di mata Birawa seketika memancar di sela kesyahduan suasana hati. Tatkala sepasang mata sendu itu mendapati sesosok yang tak asing berlalu di hadapannya. Seorang gadis berpostur ideal, berjalan meliuk menyisiri bibir pantai. Kaki indahnya sesekali melompat menghindari empasan air yang menerjang. Rambut hitam yang tergerai indah, tersapu angin kian menampakkan kulit putih di leher jenjangnya. Senyum gadis itu masih terlihat menawan. Tawanya juga penuh keriangan, tanpa beban. Perlahan Birawa menggerakkan langkah, memastikan jika penglihatannya tidak salah. Pemilik wajah manis itu adalah Ayana, gadis blasteran Sunda-Jawa, teman baik saat duduk di bangku Sekolah Dasar dulu. "Ay ..., " sapa Birawa saat raganya tak lagi terlalu berjarak dengan Ayana. Pemilik iris cokelat itu mengalihkan pandangan. Menatap Birawa yang lebih dulu menatapnya lekat-lekat. Sejenak Ayana menautkan alis hitamnya, keningnya tampak sedikit menampakkan kerutan, gadis itu terlihat sedang mengingat-ingat. Birawa mengangguk. Senyum menghiasi bibirnya yang sedikit kehitaman. "Birawa?" tanya gadis itu ragu-ragu. "Gimana kabar kamu?" Birawa mengulurkan tangan. "Baik. Ngapain di sini?" balas Ayana. "Wisata aja, bareng temen-temen seangkatan. Lama, ya, kita gak ketemu?" Ayana hanya tersenyum tipis. Gadis itu masih tampak sama kala duduk di bangku menengah pertama, sedikit bicara. Sebelum memutuskan ikut Bulek Arti dan tinggal di Trenggalek, hampir sembilan tahun Birawa dan Ayana duduk di bangku sekolah yang sama. Sejak SMP, Ayana memang sudah tampak mencolok dari siswi lain. Kulit putih yang serupa warna s**u, postur tubuh ideal, dan rambut hitam legamnya yang sungguh menawan. Ada getar ketertarikan Birawa pada Ayana sejak mereka kelas delapan. Namun, saat itu Birawa tak berniat mengutarakannya. Menjadi sahabat dan teman bermain kala itu sudah cukup bagi Birawa. "Boleh simpan nomor ponselmu di sini, Ay?" Birawa menyodorkan gawai hitam miliknya ke arah Ayana. Dua menit kemudian, gadis berambut sebahu itu mengembalikan ponsel di tangan kepada pemiliknya. "Nanti aku telepon kamu." Birawa mengucapkan terimakasih, sebelum akhirnya rombongan Ayana menarik gadis itu berlalu dari hadapan. ❤ Pertemuan yang tak disangka. Sekadar ingin melepas penat dan mengobati rindu pada sang ibu di Pantai Prigi, rupanya justru membawa Birawa bertemu kembali dengan Ayana. Kenangan pun menghampiri benak Birawa, tatkala ia dan Ayana berteduh di emper toko, menunggu hujan reda. Sebagian rambut hitam Ayana tampak basah, langkah kaki seribu yang ia ambil tak mampu menyelamatkannya diri serbuan hujan. Saat tiba di emperan, seragam putih biru yang ia kenakan pun sebagian telah basah. Birawa tersenyum. Melihat gadis di sebelah mulai kedinginan dan menggesek ke dua telempapnya. Wajah cantik tanpa polesan make up itu pun makin terlihat memesona. Sejak hari itu, rasa nyaman berteman dengan Ayana mulai berubah. Birawa kerap mencuri pandang saat di kelas. Ia juga lebih sering menyusun agenda belajar bersama demi bisa lebih intens berdekatan dengan Ayana. Dengan dalih, sudah kelas sembilan, harus lebih banyak bertukar pikiran dan membahas soal-soal ujian. Birawa membuka pola di ponselnya. Dengan cekatan, ibu jari kanan Birawa pun segera menyentuh aplikasi hijau pada layar. Ia menelusuri kontak hingga pencariannya terhenti di satu nama, Zilva Ayana. Akun itu tak berfoto, pasti karna Ayana belum menyimpan nomor Birawa di ponselnya. [Hay, Ay ... ini aku, Birawa.] Birawa mengirim pesan tanpa berpikir panjang. Terkirim. Namun, hampir tiga puluh menit pesan itu masih belum centang biru. Ayana belum membacanya. [Boleh aku telpon kamu, Ay?] Birawa mulai gelisah. Sesekali ia terlihat memainkan dan memutar-mutar ponsel di tangan. Entah sejak kapan jiwa itu kembali bergelora. Keinginan mendekati Ayana tak dapat lagi dibendung oleh Birawa. Menaruh hati pada seseorang di usia remaja, hanyalah semu bagi Birawa. Sekadar mengisi kekosongan hati, dan memupuk semangat dalam melewati hari. Kelas yang tak pernah terpisahkan sejak sama-sama masuk di sekolah menengah pertama, hingga kerap kali keduanya terlihat pulang bersama. Bagi Birawa, saat itu Ayana hanyalah sahabat yang selalu membersamai. Kedewasaan perlahan merubah perasaan Birawa, perpisahan tujuh tahun silam rupanya telah menyisakan rasa yang sekarang mulai disadarinya. Cinta. Tatapan mata birawa terpaku. Pesan yang ia kirim satu jam lalu akhirnya centang biru. Ayana terlihat sedang mengetik sesuatu. [Boleh, Bi.] Tak lama kemudian, keduanya pun larut dalam percakapan. ❤ Tiga bulan berselang sejak pertemuan di pantai penuh kenangan, membawa butir-butir rasa di hati Birawa dan Ayana. Ribuan kilo meter jarak pun tak menghalangi keinginan keduanya membangun dan mencoba berkomitmen. Bagi Ayana, Birawa adalah yang pertama. Gadis cantik itu belum sekali pun pernah menjalin hubungan dengan seorang lelaki. Ia tumbuh mendewasa di Jakarta, tinggal bersama saudara sulung dan iparnya. Namun, pergaulan tak membawa gadis seperti Ayana dengan mudah membuka diri terhadap lawan jenis. Birawa adalah sosok yang berbeda. Pembawaan yang tenang, tutur kata santun, serta kelembutan yang ia miliki, membuat cinta Ayana yang tersembunyi di relung terdalam itu pun tercuri. Meski keadaan tak berpihak pada keduanya untuk bisa bertemu setiap waktu. Namun, selalu ada cara untuk membunuh rindu. "Ay ...," Suara Birawa tertahan. Detik berlalu seiring hitungan kuota yang mengurang. "Seandainya hubungan kita makin terbentang jarak, gimana?" Birawa melanjutkan kalimatnya. Dari seberang panggilan video, Birawa menangkap dahi Ayana yang tampak mengernyit. "Aku gak suka dengan kalimat andai-andai. Plis, kamu jelasin! Maksud kamu apa?" cecar Ayana sembari meraih segelas air putih di nakas. Sejenak Birawa terdiam dan menarik napas dalam-dalam. Senyum manis pun terurai tipis di bibirnya kemudian. "Aku dapet beasiswa ke India, Ay." Sontak, Ayana pun tersedak kemudian kembali meletakkan gelas dari tangannya. "What? India?! Jauh banget, Bi ... Apa gak bisa S2 di Indonesia aja?" pintanya dengan wajah resah. Birawa kembali tersenyum. Bagaimana mungkin ia akan mendapatkan beasiswa dan melanjutkan S2 di Indonesia, jika selama ini memang India lah yang menjadi incaranya. Sedemikian rupa Birawa telah mempersiapkan semuanya, jauh sebelum ia kembali bertemu dengan Ayana, gadis yang kini menjadi pacarnya. Uji kemampuan berbahasa inggris pria berdarah jawa itu nyaris sempurna, Keputusan berat, tetapi Birawa tetap pada tekadnya. India. Ia akan bertaruh rindu di sana.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD