Diam yang Paling Jujur

1093 Words

Aku tahu dia akan pergi. Bukan dari pesan yang dia kirim, karena tidak ada pesan itu. Tapi dari suasana kota yang tiba-tiba terasa lebih hening. Seperti ada satu suara yang tidak akan terdengar lagi. Suara langkah Revan. 📎 Di kafe tempat biasa aku mengoreksi tugas murid-muridku, aku duduk sendiri hari ini. Kopi favoritku sudah dingin, dan di tanganku ada amplop tak beralamat. Isinya surat—tapi tak akan kukirim ke mana-mana. Surat ini hanya untukku, untuk menyelesaikan apa yang tertunda. Revan, Terima kasih karena pernah mencintaiku, meski hanya sampai titik tertentu. Dan maaf… karena aku mencintaimu lebih lama dari yang seharusnya. 📎 Aku tersenyum kecil. Sejak kapan aku jadi seseorang yang menulis surat tanpa niat untuk mengirimnya? Mungkin sejak kehilangan jadi hal yang biasa. Mu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD