Sudut Pandang Aleta Aku pikir pertemuan itu akan membuatku marah. Tapi nyatanya, aku hanya merasa… letih. Revan, dengan semua kenangan yang melekat padanya, berdiri di hadapanku bukan sebagai pria yang dulu kucintai, tapi sebagai masa lalu yang datang tanpa izin—sekadar memastikan bahwa aku memang sudah melepaskannya. Dan ya, aku sudah melepaskannya. Tidak dengan dendam. Tidak dengan tangisan. Tapi dengan keheningan yang panjang dan penerimaan yang tak lagi membutuhkan penjelasan. 📎 Malam itu, aku duduk sendiri di ruang tengah. Arga sudah tertidur. Dengkurannya pelan, nyaris tak terdengar, hanya ritme nafas yang menenangkan dari kamar kami. Aku menolak tidur. Bukan karena gelisah. Tapi karena tubuhku terlalu jenuh untuk memejamkan mata. Di pangkuanku, tergeletak sebuah surat lama. Li

