"Ibu akan bersamamu, Nak."
Hari ini adalah hari pertama Hayu mulai bekerja. Dia bersyukur Tuhan mempertemukan dirinya dengan Alam dan Arimbi. Alam meminjamkan uangnya untuk beberapa bulan ke depan kepada Hayu karena uang simpananya tidak cukup. Setidaknya dia bisa memenuhi kebutuhan meskipun uang itu diperoleh hasil dari pinjaman dari Alam.
"Ibu, apa ibu tidak menjemput Aina nanti di sekolah?" tanya putri kecilnya di meja makan sebelum berangkat ke sekolah.
"Maaf Sayang. Ibu tidak bisa. Ini hari pertama ibu bekerja. Nanti bos ibu marah deh," guraunya sambil mengolesi selai kacang di roti.
"Jadi siapa yang jemput Aina?" Kembali Aina bertanya dengan seksama.
"Ibu sudah bicara sama pak sopir antar jemput Aina agar diturunkan di tempat ibu bekerja," kata Hayu memberi solusi.
"Apa boleh Aina di sana? Nanti tante cantik marah," ujarnya sambil mengunyah rotinya.
"Jangan bicara jika sedang makan, Nak." Hayu memberi peringatan agar tidak bicara jika sedang mengunyah makanan.
Aina mengangguk dan diam.
"Kata Tante cantik, Aina boleh di kafe sepulang sekolah asal jangan menganggu ibu bekerja." Hayu memberitahu agar Aina mengerti.
"Benarkah Bu?" Aina menunjukkan wajah yang sumringah.
"Aina tidak mau lagi di tinggal sendirian lagi. Dulu di rumah paman dan bibi, Aina selalu ditinggal sendiri," ucapnya dengan mimik serius.
"Tidak akan lagi, Nak. Ibu akan bersamamu."
"Ayo lekas habiskan makananmu. Nanti Pak Burhan datang menjemputmu." Hayu menyuruhnya agar menghabiskan makanannya yang tak pernah dihabiskannya.
"Ibu, Aina sudah minum obatnya," kata Aina dengan menunjukkan obat yang akan masuk ke mulutnya.
"Anak pintar." Hayu memberinya pujian.
Aina tak pernah lupa akan tanggungjawabnya. Tiap pagi dan menjelang tidur malam dia akan selalu meminum obat jantungnya. Sebenarnya sebagai seorang ibu, Hayu tidak tega, tetapi hanya itu satu-satunya cara untuk memperpanjang umurnya.
Syndrom Hipoplastik Jantung Kiri adalah penyakit jantung bawaan yang diderita oleh putri kecilnya. Hayu masih ingat rasa takut yang merayapi ketika melahirkannya. Tiba-tiba saja seluruh tubuhnya menjadi biru. Ketika usia empat tahun, Aina melakukan operasi jantung karena itulah rumah yang sebenarnya menjadi warisan Hayu terpaksa dijual oleh kakaknya.
"Ibu kok bengong?" Aina menarik baju Hayu yang menatap kosong.
"Apa Nak?"
"Itu Bu. Jemputan Aina sudah datang. Aina pergi dulu, ya," pamit Aina sambil menyalami punggung tangan Hayu.
"Hati-hati, Nak," katanya sembari mengecup kening Aina.
"Sampai ketemu di kafe ya, Bu," teriaknya dari luar.
Setelah mobil jemputan Aina berangkat. Hayu harus menyiapkan diri untuk bekerja sekarang. Ketika dia hendak mengunci pintu ada sebuah mobil terparkir di depan rumah. Hayu kira ada tamu yang berkunjung, tetapi yang terlihat malah Alam.
"Selamat pagi Hayu," sapanya dengan sumringah.
"Selamat pagi juga Alam," balas Hayu dengan tersenyum.
"Aina sudah berangkat, ya?" tanya Alam sambil celingak celinguk.
"Sudah dari tadi," kata Hayu singkat karena dia takut terlambat masuk kerja.
"Mari aku antar," pinta Alam dengan membuka pintu mobil padahal Hayu akan naik angkot hari ini.
"Tidak usah Alam. Aku naik angkot saja."
"Ayolah. Nanti kamu akan terlambat." Alam menarik lengannya dan menyuruh masuk. Hayu akhirnya menurut daripada dia terlambat di hari pertamanya kerja.
*****
Arimbi melihat kedatangan dua orang dari balik pintu kaca. Matanya tak lepas dari sesosok Alam yang sedang menuju ke dirinya.
"Maaf Arimbi aku tidak terlambat, kan?" tanya Hayu yang agak terlambat.
"Tidak kok Hayu," jawab Arimbi dengan senyuman yang mengembang.
"Ada apa sih kok kamu lihat ke arahku terus, Dek?" Alam merasa risih karena Arimbi melihatnya terus dengan tersenyum.
"Tumben Mas pagi-pagi sudah ke kafe. Ada apa nih?" seloroh Arimbi.
"Memangnya Mas tidak boleh ke kafemu. Mas ingin sarapan."
"Heran saja aku. Biasanya Mas tidak pernah sarapan di sini. Di rumah Mas saja tidak pernah sarapan. Kan aneh?" goda Arimbi yang membuat Alam malu.
"Sudahlah Dek. Cepat siapkan sarapan untuk Mas, ya. Nanti Mas terlambat ke rumah sakit."
"Ayo Hayu kita tinggalkan dia sendirian di sini. Aku akan memperkenalkan kamu ke pegawai lainnya." Arimbi segera menggandeng lengan Hayu masuk ke dapur.
Alam melihat Hayu dari belakang. Tersenyum sendiri melihat tingkah konyolnya hari ini. Sejak kafe ini berdiri tujuh tahun yang lalu hanya dapat di hitung oleh jari saja Alam mengunjungi kafe tempat adik sepupunya. Alam selalu memesan lewat telepon jika ingin makan malam di rumah sakit atau saat pembantu rumah tangga mudik tiap sabtu.
*****
"Hayu, sudah lama kenal sama Mas Alam?" Arimbi bertanya kepada Hayu setelah mereka berkeliling di kafe.
"Belum lama, Arimbi. Aku mengenalnya beberapa minggu saja kebetulan rumah kami berdekatan dan Alam yang membantu aku melahirkan Aina."
"Oh, ya?" Ekspresinya agak kaget saat mendengar perkataan Hayu.
"Pantas saja," lanjut Arimbi pelan tapi masih bisa didengar Hayu.
"Ada apa Arimbi?"
"Tidak apa-apa kok. Kau mau teh?" tawarnya saat mereka sampai di kantor.
"Tidak terima kasih." Hayu menyela sambil duduk di sofa.
"Oh, ya apakah tugasku hanya di depan kasir saja?" Hayu menanyakan perihal tugasnya.
"Iya sementara itu saja, Hayu. Jika aku membuka cabang di tempat lain aku harap kau mengurusnya," sahutnya spontan.
"Ah, Arimbi. Mana aku memiliki kemampuan itu. Aku hanya seorang kasir." Hayu merendahkan diri.
"Justru itulah aku menempatkan kamu di kasir dulu sebab aku tidak sanggup jika aku mengurus kafe ini sendirian." Arimbi mengecap tehnya.
"Oh, ya Arimbi apakah Alam tinggal sendirian di rumahnya? Aku tidak bertemu keluarganya," ujar Hayu bertanya tentang Alam.
"Mas Alam memang tinggal sendirian. Ayahnya yang juga Pamanku tinggal di Solo bersama Seroja adik bungsunya. Ibu Mas Alam meninggal ketika melahirkan adiknya. Ya karena itulah Mas Alam menjadi dokter anak," terang Arimbi dengan jelas.
"Oh begitu pantas saja Alam dekat dengan anak-anak."
"Iya tentu saja. Aku juga suka dengan anak-anak tapi sayang Tuhan masih belum mempercayakan seorang anak kepada aku dan suami," ungkap Arimbi dengan menatap langit yang mulai mendung.
"Suatu saat nanti Tuhan akan memberikan seorang anak untukmu, Arimbi." Hayu memberinya semangat dan dukungan.
"Iya amin, Hayu," jawab Arimbi menghapus air matanya.
"Ayo kita kembali kerja," ajaknya pergi dulu yang masih menyisakan sedih di hati Hayu.
Hayu memiliki seorang anak tapi dia tak memiliki seorang suami sedangkan Arimbi memiliki suami tapi masih belum memiliki anak. Nasib yang mengenaskan, bukan? gumam Hayu lirih.
****,
Hayu cemas saat jarum jam menunjukkan angka dua karena mobil antar jemput Aina belum tiba. Hayu menatap ragu apakah dia akan menelepon pihak sekolah atau menunggu beberapa menit lagi siapa tahu mobilnya terjebak macet.
Aina tidak pernah selambat ini pulang dari sekolahnya. Jam dua Aina sudah tiba di rumah dan sudah menonton acara kesukaannya. Hayu dibayangi rasa kalut mengkhawatirkan kondisi Aina yang tidak sehat.
Telepon dari kasir mengejutkan Hayu yang sedari tadi melamun dan menatap kosong arah luar.
"Selamat siang ada yang bisa kami bantu?" sahut Hayu menjawab telepon.
"Ibu, ini Aina."
Hayu terlihat senang saat mendengar suara anaknya.
"Aina kenapa tidak naik mobil? Aina di mana?" Rentetan pertanyaan diajukan Hayu.
"Aina lagi jalan-jalan, Bu." Aina terdengar gembira.
"Sama siapa, Nak?" kata Hayu, nada bicaranya panik.
"Sama Om ganteng," celotehnya disertai tawa.
"Sudah, ya Bu. Aina mau naik bianglala."
"Aina ... Aina ..." panggil Hayu disambungan telepon yang sudah dimatikan.
"Aina ada bersamaku, Hayu. Jangan khawatir."
Pesan yang masuk melalui ponselnya membuat Hayu semakin panik karena nomernya tak bernama di kontak ponsel Hayu.