"Kalau aku menolak ikut pulang ke apartemenmu, apa kau akan marah?" tanya Candy takut-takut melirik ke arah Joseph Levine, dosen killernya.
"Ckk ... kita sudah sepakat, bukan? Ikuti permainanku saja, aku janji akan tetap dalam zona aman. Percayalah!" sahut Josh mendesak Candy agar mau ikut pulang bersamanya malam ini. Dia memiliki berbagai fantasi liar tentang mahasiswinya yang masih ijo royo-royo tersebut.
Candy menurunkan bahunya lesu, itu benar ... dia memang telah sepakat. Belum sempat dirinya menjawab, waitress telah mengirimkan sepiring hidangan pembuka; assorted seafood mix platter. Dia lebih tertarik melihat dan mencicipi sajian khas fine dining restoran di hadapannya.
Sebuah scalop putih yang dipanggang, daging kepiting, seekor lobster air tawar warna merah, dan beberapa kerang bambu ditemani irisan rumput laut berwarna hijau dan alga merah menjadi sebuah karya seni di bidang kuliner di atas piring keramik putih lebar.
Melihat partner kencannya yang lebih tertarik mengulik isi piring dibanding dirinya, Josh pun berdehem. "Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, Beibeh!" tegurnya.
"Oke ... oke, atur sajalah, Prof. Aku sedang ingin menikmati makan malam tanpa banyak pikiran. Lagi pula, kita harus berangkat ke kampus pagi. Anda bekerja, aku kuliah!" sahut Candy ringan. Dia tak yakin dosen killer yang punya disiplin tinggi semacam Joseph Levine akan membolos kerja karena berpacaran dengan mahasiswinya semalaman.
Maka Joseph pun cukup puas dengan jawaban Candy. Baginya, misi penting yang dia miliki saat ini adalah menaklukkan gadis bengal itu secepatnya. Dia pun mengisi perut dengan berbagai menu yang disajikan satu per satu sesuai urutan dari appetizer, main course, sampai desert.
Candy tidak menyadari kombinasi menu yang dimakannya adalah jenis-jenis makanan afrodisiak, pembangkit hasrat. Dia asyik saja menyantap semuanya karena lezat tanpa curiga. Badannya mendadak lebih hangat dibanding sebelum makan malam. Maka dia mengambil kipas tangan portabel dari tas tangannya untuk meredakan kegerahan.
Di seberang meja, Joseph tertawa kecil seraya berkata, "Cuacanya agak bikin gerah ya, Sayang? Yuk kita balik aja sekarang biar kena AC mobil!"
"Oke, ayo!" jawab Candy lalu beranjak bangkit dari kursinya mengikuti Josh menuju ke kasir untuk membayar.
Pasangan kekasih rahasia itu pun berjalan ke parkiran, mereka beruntung karena tak bertemu kenalan atau teman di restoran fine dining tadi. Di dalam mobil, Josh sengaja jual mahal tak menebar kemesraan kepada targetnya. Sementara Candy justru lirik-lirik dalam diam ke bangku pengemudi.
"Hmm ... kok diam?" tegur Josh sembari mengemudikan mobilnya. Dia tersenyum simpul mengetahui Candy sedang panas dalam.
"Apa apartemen kamu masih jauh, Josh?" tanya Candy gelisah.
"Sekitar sepuluh menit mungkin kalau jalanan lancar, kenapa?" balas Josh seraya menatap Candy yang merona wajahnya sekilas.
Candy mengutak-atik AC mobil agar angin tersembur ke tubuhnya dan juga menurunkan suhu. "Nggakpapa kok, nanya aja!" tukas gadis itu.
'Ohh ... masih kuat jaim begitu? Oke, siapa takut? Lihat saja nanti kalau sudah sampai pasti ngegelendot kayak kucing manja!' batin Josh penuh keyakinan taktiknya akan berhasil.
Di sampingnya, Candy duduk tak tenang. Dia masih saja curi-curi pandang ke arah dosen killer yang tampan bermata biru itu. "Ngomong-ngomong, kita mau ngapain sih nanti di apartemen kamu, Josh?" tanya Candy penasaran. Dia yang tadinya mencoba menjaga jarak justru saat ini ingin lekas-lekas melemparkan diri ke pelukan Josh yang nyaman.
"Well, namanya orang pacaran ya ngobrol, mesra-mesraan kayak pada umumnya begitu. Aku ada TV layar lebar juga buat nonton film. Santai aja, jangan dibuat beban, oke Sayang?" jawab Josh seraya menyeringai puas.
Dia membelokkan mobil ke arah kanan di perempatan lalu lurus menuju ke komplek apartemen mewah yang berjejer rapi. Mobil itu memasuki pintu ke arah parkir basement gedung dan akhirnya terparkir rapi.
"Kita sudah sampai, Candy. Ayo turun!" ajak Josh seraya mematikan mesin mobil.
Tanpa menunggu dibukakan pintu, Candy langsung turun penuh semangat. Dia berlari-lari kecil lalu menggandeng lengan kekar Joseph Levine. Mereka naik lift panoramik menuju ke lantai 15 dari gedung pencakar langit tempat tinggal pria itu.
"Josh, apa aku demam sih? Badanku masih kepanasan sejak di restoran!" keluh Candy dengan wajah merona seperti kepiting rebus.
Dengan penuh perhatian, Josh menempelkan punggung tangannya ke dahi Candy. "Ehh ... nggak kenapa-kenapa kok. Mungkin efek menjelang musim kemarau aja tuh!" jawab Josh menyembunyikan fakta bahwa sebenarnya Candy sedang b*******h karena makan menu afrodisiak.
"TING." Lift sampai di angka 15, mereka pun turun lalu Josh mengajak Candy menuju ke sebuah pintu kayu Eboni dan memasukkan kombinasi nomor sandi pintu apartemennya.
"Tujuh tujuh tiga tiga delapan delapan, itu nomor sandi pintumu, Josh. Apa kamu akan menggantinya karena aku sudah tahu?" ucap Candy iseng seraya tertawa renyah memasuki apartemen pria lajang tersebut.
"Nggak perlu, makin kamu betah dan sering main ke mari, aku malah senang, Gadis Tengil!" sahut Josh sambil mencarikan sandal rumah untuk Candy. Lantainya dingin saat malam ditambah AC, dia tak ingin Candy kembung.
Setelah berganti alas kaki, Candy menubruk badan Josh dari belakang. Tiba-tiba dia memeluk pria itu erat-erat sehingga Joseph bertanya, "Kok aku dipeluk begini, ada apa?"
"Katamu kita pacaran dan mesra-mesraan, bukan? I like physical touch, Josh!" jawab Candy beralasan.
"Ohh ... gitu ya. Artinya kamu demen dibelai-belai 'kan? Ayo kita duduk di sofa aja, biar kubelai sampai kamu ngerasa disayang banget sama aku, Candy!" balas Joseph lalu meraup Candy ke gendongannya. Mereka bersitatap saat langkah-langkah Josh terayun stabil menuju sofa di sisi barat apartemen bertipe studio itu.
Perlahan Joseph duduk dan memangku Candy yang kedua tangannya masih melingkari leher pria itu. Wajah Josh tertunduk mendekati Candy lalu bibir mereka saling berpagutan. Melumat satu sama lain sampai bibir Candy bengkak dan napasnya terengah-engah.
"Kamu tuh jagonya French kiss, Ganteng. Boleh tahu nggak, kenapa sampai umur kamu tinggi belum juga nikah?" puji Candy, masih ingin terus clingy ke badan tegap berotot Josh.
"Hmm ... rahasia. Belum waktunya kamu tahu. Pernah dengar pepatah ini nggak? Ketika bermain kartu, jangan pernah membuka semua yang ada di tanganmu!" jawab Josh sengaja. Dia ingin Candy merasa terus penasaran kepadanya hingga terjerat tanpa bisa lepas.
Jemari tangan Candy menelusuri fitur wajah Josh; alis tebal, bertulang kokoh, dan hidungnya mancung. "Kamu beneran dilihat dari jarak dekat, cuakep bingits. Jujur deh, ada cewek lain yang kamu pacarin nggak selain aku?" selidik Candy.
"Sebelum kamu?"
"Hu-um!" Candy mengangguk-angguk antusias.
"Banyaklah ... aku sudah berusia 35 tahun, Candy. Bukan anak ABG yang baru lulus SMA!" jawab Josh ringan.
Bibir Candy mengerucut. "Berarti udah nggak perjaka ya? Dasar Om-om omes!"
(Omes: otak m***m)
"Tapi, kamu juga suka 'kan? Malahan kemarin baru sekali ketemu di dance floor diskotek udah minta disosor. Hahaha!" sindir Joseph. Dia lalu membanting tubuh mungil Candy hingga terlentang di atas sofa lalu mengurungnya dengan dua lengan kekarnya.
"Boleh minta cium lagi?" tantang Candy dengan mata berbinar nakal.
Tanpa butuh kata-kata untuk menjawab, Josh menyusuri leher jenjang nan mulus milik Candy dengan bibirnya dan mengusapkan lidahnya berputar-putar di sana hingga gadis itu tak tahan untuk mendesah.