Namira mulai menjalani aktifitas dedngan kesehariannya yang berulang, dan Namira bukan perempuan yang mudah curiga.
Ia terbiasa melihat segala sesuatu dengan hati yang jernih dan pikiran yang tenang dan dnegan positif, dia tak pernah berpikiran buruk atau yang salah kepada suaminya. Selama enam tahun pernikahan, ia percaya bahwa kepercayaan adalah fondasi utama rumah tangga. Dan sejauh ini, Raditya tidak pernah memberinya alasan untuk meragukan apa pun, dan Radit tidak pernah membuatnya merasa curiga., namun balim lagi, tidak ada yang smepurna di dunia ini dan belakangan ini di rumah tangga mereka, ada hal-hal kecil yang mulai terasa ganjil dirasakan oleh Namira.
Bukan sesuatu yang terlalu mencolok. Bukan pula kesalahan besar. Hanya potongan-potongan sikap yang sekilas tampak sepele, tetapi jika disusun perlahan, meninggalkan rasa yang tak nyaman.
Semua bermula dari percakapan sederhana tentang keluarga besar Raditya, yang mana Namira ingin selalu dekat dengan mereka.
“Mas, libur sekolah nanti kita ke rumah Papa Mama kamu, ya?” ucap Namira suatu malam sambil melipat pakaian anak-anak.
Raditya yang sedang duduk di tepi ranjang, mengikat tali jam tangannya, berhenti sejenak. Gerakannya melambat, seperti ada yang di pikirkannya. Lalu ia berdeham kecil.
“Nanti saja kita lihat waktunya ya sayang,” jawabnya singkat.
Namira menoleh. “Kan Azam sama Azzura juga jarang ketemu kakek-neneknya.”
Raditya tersenyum tipis, senyum yang terlalu cepat muncul dan terlalu cepat menghilang. “Aku lagi banyak kerjaan sayang.”
Jawaban itu terdengar masuk akal, bagi Namira, aplagi dia tau suaminya lagi tahap pembuktian diri kepada papanya kalau dia layak menjadi suami anaknya.
Namira tidak membantah. Ia mengangguk dan melanjutkan kegiatannya. Namun entah mengapa, ada rasa hampa kecil yang tertinggal setelah percakapan itu, yang membuat hati Namira penuh tanda tanya.
Bukan pertama kali.
Setiap kali Namira menyinggung soal pulang ke kampung halaman Raditya, selalu ada alasan. Jadwal kerja. Proyek mendesak. Kondisi badan yang kurang fit. Bahkan alasan cuaca pun pernah digunakan, seperti dia enggan kalau Namira dan anak-anaknya ke sana.
Namira mulai mencatatnya tanpa sadar.
Bukan sebagai tuduhan, melainkan sebagai kebingungan dna keheranan.
Ia mengenal Raditya sebagai pria yang bertanggung jawab dan sangat menghormati orang tua. Namun mengapa, untuk urusan keluarga besarnya sendiri, Raditya selalu tampak menghindar?
Azam pernah bertanya suatu sore, saat mereka sedang menyusun balok mainan di ruang keluarga.
“Ma, kakek nenek Ayah tinggal di mana?”
Namira terdiam sejenak. “Di luar kota, Sayang.”
“Kenapa kita jarang ke sana?”
Pertanyaan polos itu menghantam lebih keras dari yang Namira kira.
Ia tersenyum, meski dadanya menghangat oleh rasa yang sulit dijelaskan. “Ayah lagi sibuk, Azzam tau kan Ayah lagi kerja.”
Jawaban yang sama.
Jawaban yang mulai terasa hambar diucapakan oleh bibir namira kepada anaknya.
Selama enam tahun pernikahan, mereka hanya satu kali mengunjungi keluarga besar Raditya. Itu pun tidak lama hanya tiga hari. Namira masih mengingatnya dengan jelas.
Rumah sederhana di pinggir desa. Sambutan yang sopan, tetapi terasa kaku. Senyum-senyum yang tampak dijaga. Tidak ada kehangatan berlebihan, tidak pula keakraban yang tumbuh cepat, semua seperti terkesan ada sesuatu hal yang di sembunyikan, dengan adik suaminya pun Namira hanya sebatas say hallo, kedua mertua pun sebatas ngomong saja.
Namira sempat mengira itu hanya karena mereka jarang bertemu.
Namun Raditya terlihat berbeda selama kunjungan itu.
Ia lebih pendiam. Lebih waspada dan awas. Ponselnya hampir tak pernah lepas dari genggaman. Setiap kali Namira bertanya sesuatu, ia menjawab seperlunya. Dan setiap malam, ia terlihat gelisah, seolah sedang menunggu sesuatu yang tak pernah datang.
Ketika Namira mengajak tinggal lebih lama, Raditya langsung menolak degan tegas, dan lagi alasan pekerjaan sebagai alasannya.
“Kita pulang besok saja,” katanya waktu itu.
“Masih libur,” Namira sempat membujuk.
Raditya menggeleng. “Aku nggak nyaman terlalu lama di sini.”
Namira tidak bertanya lebih jauh.
Ia mengira Raditya hanya belum terbiasa membawa keluarganya kembali ke masa lalu yang sederhana.
Kini, ketika kenangan itu kembali muncul, Namira mulai bertanya-tanya.
Apakah benar sesederhana itu?
Atau ada sesuatu yang tidak pernah ia lihat?
Suatu siang, Namira berkunjung ke rumah Orang tuanya pak Rahman dan Ibu Naomi. Mereka sedang minum teh ambil melihat kedua anak Namira yang tengah bermain dengan hewan peliharaan Neneknya, seekor kunci angora di teras ketika pembicaraan mengalir ke arah keluarga Raditya.
“Radit jarang pulang kampung, ya Nam?” tanya Ibu Naomi santai.
Namira tersenyum kecil. “Iya, Bu. Katanya lagi banyak kerjaan.”
Pak Rahman mengangguk pelan, lalu berkata, “Dia memang jarang cerita soal keluarganya.”
Nada suaranya netral. Namun entah mengapa, Namira menangkap sesuatu di balik kalimat itu.
“Papa pernah ketemu orang tua Mas Radit?” tanya Namira hati-hati.
Pak Rahman meletakkan cangkirnya. “Pernah sekali. Singkat, pas kalian nikah juga mereka tak banyak bicara.”
Tidak ada penjelasan lanjutan.
Dan Namira tidak berani memaksa.
Malam itu, saat anak-anak sudah tidur, Namira kembali membuka pembicaraan.
“Mas,” panggilnya pelan dengan sebuah senyuman
Raditya yang sedang memeriksa ponsel kemuidian menoleh. “Kenapa?”
“Kamu nggak kangen orang tua kamu mas?”
Pertanyaan itu sederhana. Namun Raditya membeku.
Hanya sepersekian detik. Tapi cukup bagi Namira untuk menyadarinya.
Raditya tersenyum, tetapi matanya tidak ikut tersenyum. “Kangen itu urusan hati. Nggak harus sering pulang, dna lahgian kan mas juga sering komunikasi lewat telepon sayang.”
Jawaban itu terdengar bijak. Namun juga seperti dinding.
Namira menelan pertanyaan lain yang sudah hampir keluar dari bibirnya.
Ia memilih diam.
Karena Namira masih ingin percaya bahwa tidak semua hal perlu dipertanyakan.
Namun malam itu, untuk pertama kalinya, Namira terjaga lebih lama setelah Raditya tertidur.
Ia memandangi wajah suaminya dalam gelap. Wajah yang selama ini ia yakini sebagai rumah paling aman.
Ada rasa asing yang menyelinap perlahan.
Bukan karena apa yang Raditya lakukan.
Melainkan karena apa yang tidak pernah ia ceritakan.
Namira menarik selimut lebih rapat.
Ia belum tahu bahwa retakan kecil itu, yang kini hampir tak terlihat, suatu hari akan membelah keyakinannya menjadi dua.
Dan ketika itu terjadi, tak ada lagi tempat aman untuk bersembunyi ataunpun lari.
Malam kian larut. Di luar jendela, lampu taman redup oleh embun, sementara suara kendaraan sesekali melintas jauh di kejauhan. Namira memejamkan mata, berusaha menenangkan pikirannya yang entah mengapa sulit diajak diam. Ia mengingat kembali setiap jawaban Raditya, setiap senyum singkat yang terasa tergesa, setiap alasan yang terdengar wajar namun tak pernah benar-benar tuntas.
Ia menghela napas panjang. Namira memilih percaya, bukan karena ia bodoh, melainkan karena ia mencintai. Namun jauh di dalam hatinya, ada satu kesadaran yang mulai tumbuh perlahan bahwa tidak semua jarak tercipta karena kesibukan. Sebagian lahir dari rahasia yang sengaja disembunyikan.