Sisa malam Anin dihabiskan untuk tangis dan bermunajat. Akankah terulang lagi siksa batinnya? Roda kehidupan berputar. Satu pekan berlalu dari penantian malam, setelah haid malah hasilnya mengerikan. Anin kembali oleng dari titik puncak kebahagiaannya. Ia kembali beranjak ke bagian duka yang menyesakkan. Anin punya ketakutan untuk keluar dari kamar, khawatir Hadid berbalik seperti dulu yang kasar dan harus Anin hadapi dengan sabar. Perlahan, pintu kamar terbuka. Hadid muncul sementara Anin masih berada dalam mukenanya. "Mm, ada apa, Mas?" "Mau liat keadaan kamu aja, Nin." Anin menggulung bibir, bergetar menyesakkan. "Anin gak baik-baik aja, Mas." "Bentar lagi subuh, salat sunah bareng mau, Nin?" Anin lekas mengangguk. Hadid pun masuk. "Mas ..." Hadid berbalik setelah salamnya itu.

