Pagi itu, sinar matahari baru saja menyusup malu-malu ke sela tirai dapur. Aroma roti panggang bercampur mentega hangat menguar di udara, menyatu dengan tawa kecil seorang anak lelaki dan suara perempuan yang jarang terdengar tertawa sejak pernikahan berlangsung. David, yang baru saja turun dari lantai atas dengan kemeja kantornya separuh terpakai, berhenti di ambang pintu dapur. Pandangannya jatuh pada pemandangan yang tak biasa. Rurayya berdiri di dekat meja dapur, mengenakan celemek hijau pastel. Rambutnya tertutup rapi oleh hijab, dan wajahnya berseri meskipun hanya tersenyum tipis. Di hadapannya, Madiev duduk di kursi tinggi sambil tertawa kecil melihat potongan roti berbentuk bintang yang dibuat Rurayya untuknya. dia udah gak ngambek lagi? "Ayah! ayo sini cepet, kak ray udah mas

