5. Ruang Rawat Velove

1035 Words
Fernand dan Nadia melangkah menuju ruangaan dokter yang bertugas menangani Velove untuk membicarakan tentang kesehatan anak itu. Sepulang dari rumah Denis dan istri barunya, Nadia telah memberikan perintah kepada nanny Velove untuk segera menyiapkan segala berkas-berkas kepindahan anak itu ke Indonesia. Fernando mengetuk pintu ruangan dokter yang merawat Velove. Sahutan masuk dari dalam membuat lelaki itu menggeser pintu ruangan itu dan melenggang masuk ke dalam bersama Nadia. "Silahkan masuk Dokter Fernand," ucap dokter itu dibalas senyuman oleh Fernand. Kebetulan, mereka pernah berada dalam acara seminar kesehatan yang sama. "Maaf dokter, kami langsung ke intinya saja. Kedatangan kami kemari untuk membawa pasien Velove ke Indonesia. Untuk itu kami membutuhkan izin dari dokter," ucap Fernando menjelaskan maksud tujuannya. Dokter itu tersenyum dan mengangguk mengerti. "Silahkan Dokter Fernand, saya rasa Velove akan cepat sembuh jika dirawat dokter hebat seperti anda. Nanti akan saya urus segala keperluannya."  "Terimakasih dokter," Nadia tersenyum tulus dan menyalami dokter itu di ikuti Fernand. "Tunggu sebentar," panggil dokter yang merawat Velove menghentikan Nadia dan Fernando. Dokter itu menatap Nadia dan Fernand silih berganti. "Ada apa dokter?" Tanya Fernando bingung. "Bisakah anda membawa Velove ke psikolog atau psikiater? Dia butuh pengobatan untuk kesehatan mentalnya," ucap dokter itu membuat Nadia tercengang. Wanita itu tidak menyangka jika keponakannya sampai memerlukan seorang ahli psikis untuk mengobati kesehatan mentalnya yang terguncang. Denis benar-benar lelaki yang biadab! "Saya akan mencari psikolog terbaik untuk keponakan saya dokter," jawab Nadia membuat dokter itu tersenyum lega. Dari pemeriksaan singkat yang dia lihat, Velove mengalami guncangan hebat dan bisa berakibat fatal untuk mental anak itu. Setelah sampai di ruang rawat Velove, Nadia melihat gadis kecil yang menggemaskan itu dengan tatapan yang tidak bisa diartikan. Nadia mendekati ranjang Velove dan menggenggam tangan Velove dengan kuat. ‘Maafkan aunty sayang,’ batin Nadia terasa teriris melihat wajah Velove yang sangat damai saat tengah tertidur. Hatinya sangat nyeri membayangkan dirinya menjadi Velove. Kalau boleh, biarkan saja Nadia yang menggantikan Velove saat ini. Perihal kesakitan dan juga penderitaan sudah bagaikan makanan wajib Nadia sebelum dirinya berdamai dengan masa lalunya. Nadia mengelus kepala Velove, wanita itu mencium kening Velove penuh dengan rasa sayang. 'Aku ingin menggantikan posisi Vee di sini, terkutuklah Denis! Papa seperti apa dia yang menelantarkan anaknya sendiri? Aku tau dia sangat kehilangan, tapi bukan begini juga caranya. Aku bersumpah akan memberinya penyeselan.' batin Nadia menggeram. Fernando mengelus punggung Nadia dengan lembut, Nadia memeluk Fernando menumpahkan kesedihannya di d**a bidang suaminya. "Hikss..aku aunty yang jahat," isak Nadia. "Tidak sayang, kamu aunty terbaik di seluruh dunia ini," Fernand mencoba menenangkan Nadia agar tangisan istrinya mereda. Tak lama kemudian pintu ruang rawat Velove terbuka, Gita membawa beberapa koper besar membuat Fernand dan Nadia menaikkan sebelah alisnya. "Itu semua barang Velove ?" Tanya Nadia menatap tak percaya koper-koper di depan pintu. Gita tersenyum dan menghampiri mereka, "Saya akan ikut kemanapun nona Vee pergi Nyonya. Saya mohon izinkan saya ikut dengan nona muda nyonya," pinta Gita penuh harap karena Gita tidak ingin berpisah dari Velove yang sudah seperti anaknya sendiri. Nadia menganga mendengar penuturan Gita. Apakah Gita sedalam itu mencintai Velove sampai rela mengikuti kemanapun anak itu pergi. Syukurlah, paling tidak ada yang sangat tulus menjaga dan menyayangi keponakannya di sana. "Kamu serius Nanny?" Tanya Nadia memastikan ucapan Gita. "Saya serius Nyonya, bagi saya nona Vee adalah keluarga saya sendiri," jawab Gita mantap. "Tentu saja kamu boleh ikut bersama kami nanny. Velove pasti akan senang melihatmu bersama dengannya," jawab Nadia membuat Gita tersenyum bahagia dan memeluk Nadia erat. "Terimakasih nyonya," ucap Gita dengan tulus. “Aku yang seharusnya berterimakasih denganmu nanny, terimakasih sudah menjaga dan merawat Velove dengan sangat baik,” ucap Nadia tersenyum penuh dengan rasa syukur. Syukurlah, Nadia mengambil langkah yang tepat untuk Velove. Setidaknya, bersama dengan mereka Velove akan bahagia dan tidak kekurangan kasih sayang. * Nadia bersama dengan Gita tengah berada di ruang administrasi untuk membayar tagihan rumah sakit. Sedangkan Fernando bersama dengan sopir pribadi Velove menuju sekolah anak itu guna mengurus kepindahan sekolah Velove ke Indonesia. Nadia sudah memberikan kabar kepada papa dan mamanya bahwa dirinya akan membawa pulang Velove ke Indonesia karena suatu hal. Wanita itu tidak memberitahu orang tuanya perihal alasan yang membuatnya sampai membawa Velove bersamanya. Nadia tidak ingin keluarganya datang ke sana dan membuat keributan yang lebih besar lagi dan membuat kondisi psikis Velove semakin terguncang. "Terima kasih atas kerja sama anda," jawab Fernand dengan formal saat semua berkas telah dia terima di tangannya. "Sekali lagi kami minta maaf atas kejadian yang sudah menimpa ananda Velove, Pak Fernand," ucap kepala sekolah Velove dengan sangat menyesal. "Tidak masalah, saya mengerti saat anak-anak bermain terkadang ada bertengkarnya," jawab Fernand maklum karena mereka masih anak-anak. Sedangkan di lain tempat, Denis mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Denis berusaha semampunya agar dia bisa segera sampai di rumah sakit tempat putrinya dirawat. Lelaki itu mendengkeram kemudinya dengan erat, dia harus menemui putrinya yang selama ini dia sia-siakan sebelum keluarga Pevita membawa Velove tinggal di Indonesia. "Mas hati-hati," Inara dengan ketakutan memegang bahu Denis, dia mencoba memeringati Denis karena dia takut terjadi apa-apa dengan mereka. “Aku harus sampai ke sana sebelum mereka membawa Velove pergi dari sini,” ucap Denis sirat akan ketegangan. Inara memejamkan matanya karena miris, lelaki itu seperti kerasukan setan mengendarai mobilnya dengan sangat kencang hingga banyak mobil lain yang mengklakson mobil yang mereka tumpangi. “Mas awass!” pekik Inara saat mobil Denis hampir saja menyerempet motor di depannya. Inara menatap suaminya tidak percaya, “Mas mau bunuh aku dan anak kita?” tanya Inara menatap suaminya dengan marah. “Oh s**t!” umpat Denis kacau. Denis berlari keluar dari mobil begitu mereka sampai di parkiran rumah sakit. Denis menuju meja informasi, “Dimana ruangan Denita Velove Amberley? Anak kecil berusia lima tahun,” tanya Denis tidak sabaran. Lelaki itu bergegas menuju kamar rawat Velove setelah bertanya di bagian informasi. Inara tergopoh-gopoh mengikuti langkah Denis sambil memegang perutnya agar tidak terjadi apa-apa dengan kandungannya. Wanita itu sampai menghela napasnya berkali-kali, seandainya saja Denis tidak memperlakukan Velove dengan buruk mungkin mereka tidak harus segila ini hanya untuk menemui anak itu. Denis membuka ruang rawat Velove dengan kasar, membuat Nadia yang baru saja menggantikan baju kepada Velove terbelalak. Wanita itu dengan cepat membawa Velove ke dalam pelukannya. "Denis," Nadia terkejut melihat Denis di ruang rawat Velove.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD