Part 3 - Untoward

2071 Words
Namjoo terus saja tersenyum sepanjang hari. Tentu saja! Pangerannya telah datang. Taeoh sudah pulang. Penantiannya bertahun-tahun yang seperti istri bang Toyib akhirnya berakhir sudah. "Namjoo-ya, ada apa? Mengapa kau senyum-senyum sendiri begitu?" tanya Changwoo, sahabat Namjoo. "Sebentar lagi, denting dari lonceng pernikahan akan terdengar. Pangeranku telah datang. Dan saat itu terjadi, kalian semua harus datang untuk menjadi saksi cinta kami berdua ..." Namjoo tenggelam dalam dunia penuh dramanya sebelum akhirnya keluar dari kelas dengan perasaan gembira. "Ada apa dengannya?" tanya teman Namjoo yang lain. "Entahlah, mungkin penyakit gilanya kambuh." Changwoo mengendikkan bahunya acuh. Pernikahan? Seseorang yang mendengar kata yang keluar dari bibir Namjoo itu tersentak. Namjoonya? Namjoonya akan menikah? Dengan siapa? Apa yang harus ia lakukan? Ia ingin menghancurkan pernikahan Namjoo, tapi Namjoo benar-benar bahagia tadi. Mungkin ia harus menyerah saja ... Tunggu! Ini pikiran anak kecil kan? Pernikahan? Seseorang yang patah hati? Ada apa dengan anak-anak ini?! *** Nayoung benar-benar tak mengerti dengan apa yang sedang terjadi. Hari ini benar-benar hari terburuk dalam hidupnya. Tadi ia dikalahkan oleh seorang murid baru. Dan sekarang ia harus dikejutkan dengan sebuah kabar dari ibunya. "Kau akan dijodohkan." "Apa?!" jeritnya. Ibu dan ayahnya mengangguk bersamaan. Seorang pelayan membawakan sebuah tab. Ibu Nayoung mengambil tab itu. "Kami telah menerima e-mail dari nenekmu. Katanya kau harus setuju tentang ini. Kau akan dijodohkan dengan anak bangsawan jadi kau tak perlu takut. Calon suamimu adalah bibit unggul." ucap Nyonya Park sambil menyodorkan tab itu pada Nayoung. Nayoung menerima tab itu dengan emosi dan langsung melemparnya ke lantai. Ayah dan ibunya hanya menatap Nayoung datar. Mungkin mereka sudah menebak apa yang akan anak mereka lakukan. "Bibit unggul? Apa aku akan menikah dengan tumbuhan sampai harus memikirkan ia bibit unggul atau tidak?" marah Nayoung. "Kau tenang saja. Kami akan mengirimkan e-mail itu padamu lagi. Kau bisa membacanya nanti." ucap Tuan Park. "Ayah~" rengek Nayoung. "Kau tentu tahu aku suka pada seseorang bukan? Kau bahkan tahu aku selalu membawanya setiap ada urusan bisnis di negara lain. Jadi mengapa kau melakukan ini padaku?" rengeknya lagi. "Kali ini urusanmu bukan denganku, tapi dengan nenekmu. Lakukan apapun agar perjodohan ini batal. Semangat!" Tuan dan Nyonya Park mengepalkan tangan mereka bersamaan, masih dengan wajah datar mereka. Nayoung langsung jatuh terduduk di sofa. Bagaimana ini? Ia tak ingin menikahi pria lain selain Wooseok. Baginya Wooseok adalah cinta sejatinya! *** Gaeun menggigiti bibirnya, kebiasaannya saat sedang berpikir keras. "Mengapa kau malah menceritakan hal ini padaku? Aku mana bisa membantu. Kalau hal-hal yang harus diselesaikan secara licik bukannya kau, Byunggyu dan Wooseok jagonya?" komentar Gaeunun. "Kau pikir aku tega membuat Wooseok tahu aku akan dijodohkan? Walau ia bilang tak menyukaiku, aku tahu dengan jelas di lubuk hatinya yang paling dalam ia pasti benar-benar menyukaiku." ucap Nayoung sedih. "Siapa yang menyukaimu?! Aku tak menyukaimu!" Sebuah suara mengagetkan mereka. Wooseok dan Byunggyu menghampiri mereka dan duduk di depan kedua gadis itu. Nayoung menatap Gaeun, mengisyaratkan pada sahabatnya itu untuk diam. "Ada apa? Ada yang kau sembunyikan dari kami?" tanya Byunggyu yang kelewat peka. Nayoung tetap meminta Gaeun tutup mulut. Itu membuat Byunggyu dan Wooseok semakin penasaran. "Ini rahasia wanita! Kau pria, jadi tak usah dengar pembicaraan kami! Pergi sana!" Usir Nayoung. Byunggyu dan Wooseok mengendikkan bahu mereka. Mereka heran mengapa Nayoung bersikeras mengusir mereka? Keduanya kembali ke bangku mereka. "Kira-kira apa yang mereka sembunyikan? Sepertinya bukan rahasia biasa." tanya Wooseok. "Aku punya firasat buruk soal ini. Firasatku tak pernah salah. Akan ada kesialan yang akan menimpa kita. Dan ini pasti berhubungan dengan masalah Nayoung." ucap Byunggyu yakin. Mereka kembali menatap ke arah Nayoung dan Gaeun. "Aku punya ide!" ucap Wooseokbersemangat yang membuat Byunggyu kembali merasakan firasat buruk. *** Bomin merasa ia sedang tidak enak badan. Ia muntah-muntah terus sejak tadi. Byungjin yang khawatir pada istrinya segera menyeret Bomin, "Kita ke dokter sekarang!" "Tidak mau! Jangan bawa aku ke tempat laknat yang bernama rumah sakit itu!" Bomin memeluk pintu kamarnya. Jangan pikir ia sedang menduakan Byungjin dengan pintu kamarnya sehingga ia memeluk pintu itu. Ia hanya tak ingin pergi ke rumah sakit. Bomin tahu ada yang salah dengan tubuhnya. Dan bila dugaannya benar, Byunggyu bisa membunuhnya! Bomin kembali merasa dirinya ingin muntah. Ia melepaskan pelukannya dari pintu dan berlari ke kamar mandi. Byungjin meremas rambutnya sendiri dengan kasar. Bagaimana ia tak memaksa Bomin ke rumah sakit kalau kondisi istrinya itu mengkhawatirkan begini? "Sayang, ayolah! Tolong jangan keras kepala begitu! Kau beralasan takut dokter tapi bukannya Eunjin juga seorang dokter? Begini saja, aku panggilkan dokter agar kau tak usah ke rumah sakit. Ya?" Byungjin memijat tengkuk Bomin dengan lembut. Bomin menoleh pada Byungjin dengan tatapan sedih. "Sayang, maafkan aku ..." ucap Bomin lirih. "Ada apa? Mengapa minta maaf begitu?" tanya Sehun heran. "Sepertinya hidupku tidak lama lagi." Gumam Bomin sedih. Byungjin membelalakkan matanya dan mencengkram lengan Bomin. Ia terlihat panik. "Kenapa kau bicara seperti itu, Sayang? Apa selama ini ... Selama ini kau mengidap sebuah penyakit tapi tak memberitahuku?" tanyanya cemas. Bomin menggeleng pelan. Ia menatap ke arah perutnya, lalu menatap Byungjin nanar. "Sepertinya ... Aku hamil lagi..." Byungjin membelalak. Wajahnya memucat. Ia menatap Bomin dengan horor. Matilah mereka! Bagaimana ini? Byunggyu pasti akan mengamuk! Byungjin segera memikirkan cara untuk kabur, "Sayang, bagaimana kalau kita kabur ke rumah Kakak Ipar saja sementara ini? Ini demi keselamatan kita berdua." Itu ide yang bagus! Mereka akan berpura-pura berlibur selama setahun lalu kembali setelah melahirkan anak itu. Bomin mengangguk cepat. "Ayah! Ibu! kalian dimana?" suara Taeoh terdengar dari luar. Byungjin dan Bomin saling berpandangan. Ada apa Taeoh memanggil mereka? Mereka pun keluar dari kamar mandi dan menuju ruang keluarga tempat Taeoh berada. "Ada apa?" tanya Byungjin. "Aku mendapat telpon dari guru Kak Byunggyu. Kalian harus ke sekolah sekarang." ucap Taeoh. Bomin dan Byungjin saling menatap horor. Taeoh memandang mereka heran. Ia bertanya-tanya, apa ia mengatakan hal yang salah sampai-sampai suami istri itu pucat begitu? *** "Begini saja, setelah ini kita ke rumah Kak Bomin, aku yakin dia bisa membantu kita." saran Gaeun. Nayoung mengangguk dengan lelah. Tiba-tiba mereka dikejutkan dengan suara tawa dari semua murid-murid di kelas mereka. Nayoung yang bertanya-tanya ada apa pun menatap ke arah pintu tempat murid-murid berkumpul. Mata Gaeun dan Nayoung membelalak. Wooseok dan Byunggyu datang dengan memakai seragam wanita dan wig panjang. Wooseok berjalan dengan percaya diri dan mengibaskan rambutnya pada murid-murid yang menggodanya. Byunggyu hanya bisa pasrah sambil menutupi wajahnya dengan tangan karena malu. Mereka berdua datang ke bangku Nayoung dan duduk kembali di depan dua gadis itu. "Apa yang terjadi pada kalian? Aku tahu kalian sering melakukan hal gila, tapi bisa tidak jangan menunjukkannya di depan orang banyak? Demi tuhan! Kau ini seorang ketua OSIS Oh Byunggyu!" marah Nayoung. "Sudah kubilang ini ide yang buruk bukan, dasar bodoh!" Byunggyu mencabut wig Wooseok membuat pemuda menjerit seperti seorang gadis. "Kyaaaa! Jangan salahkan aku! Kau yang ingin tahu apa yang mereka bicarakan," Wooseok mengambil kembali wignya dari tangan Byunggyu. "Nah, kami sudah jadi wanita. Sekarang ceritakan apa yang kalian bicarakan?" tanya Wooseok penasaran. Belum sempat Nayoung berbicara. Ia sudah menatap horor ke belakang Byunggyu. "Ada apa?" tanya Wooseok heran. Wooseok dan Byunggyu menoleh dan mendapati wali kelas mereka yang menatap mereka sambil bersedekap garang. Oh, mereka sedang berada dalam masalah besar! "Kali ini aku takkan membantu kalian." gumam Nayoung yang membuat keduanya langsung di seret ke ruang guru. *** Byungjin keluar dari ruang guru dengan rasa malu. Oh astaga dipanggil ke sekolah karena putramu memakai pakaian wanita? Apa yang lebih memalukan dari itu? Kalau Bomin sih biasa-biasa saja. Urat malunya sudah putus, ingat? "Kalian sudah boleh menurunkan meja itu sekarang." ucap Bomin. Wooseok dan Byunggyu yang masih mengenakan pakaian wanita pun menurunkan meja yang tadi mereka angkat di atas kepala mereka. Bomin hanya bisa geleng-geleng kepala melihat rok yang dikenakan keduanya. "Boleh aku bertanya? Sejak kapan kalian menjadi seperti ini. Ceritakan padaku, aku bisa membimbing kalian kembali menjadi pria seutuhnya. Aku janji." ucap Bomin. Byunggyu dan Wooseok melotot. Apa maksud Bomin? Apa Bomin benar-benar berpikir mereka menjadi seorang waria? "Ibu! Aku hanya melakukan ini karena penasaran!" sangkal Byunggyu. "Aku mengerti. Apa kau penasaran bagaimana rasanya menjadi wanita seperti Namjoo? Baiklah, kami akan tetap menerimamu sebagai anak kami bagaimanapun keadaanmu." ucap Byungjin lesu yang membuat Bomin menepuk-nepuk punggungnya lembut. Byunggyu hanya bisa menepuk dahinya frustasi. Wooseok sendiri hanya menyengir. "Jadi bisa jelaskan? Siapa yang pertama merasakannya? Perasaan ingin menjadi seorang wanita itu ... Byunggyu atau Wooseok yang memulai?" tanya Bomin antusias. "Sayang, mengapa kau malah antusias begini?" kesal Byungjin yang membuat Bomin menyengir kuda. "Kak Bomin! Kak Byunggyu benar! Tadi kami hanya penasaran dengan percakapan Nayoung dan Gaeun. Saat kami tanya mereka bilang itu pembicaraan antar wanita. Karena itulah kami berpakaian seperti wanita. Kalau kau ingin membuktikan kejantananku, aku akan menunjukkannya padamu!" Wooseok maju dan membuka satu-persatu kancing bajunya yang untung saja langsung ditahan oleh Byunggyu dan Byungjin. "Ingat! Dia istriku sekarang anak muda!" omel Byungjin. Yeah, akhirnya Byungjin bisa menghela nafas lega karena ternyata Byunggyu tak benar-benar menjadi pria yang belok dari keharusan. Walau ia sedikit sebal pada Wooseok yang menggoda istrinya. Mendengar ucapan Wooseok tentang rahasia Gaeun dan Nayoung membuat Bomin penasaran. Entah karena bawaan kehamilannya atau karena ia yang memang mudah penasaran. "Aku menemui Nayoung dulu." ucap Bomin melangkah ke kelas Nayoung. Tapi tiba-tiba ia berhenti melangkah dan berbalik menatap Byungjin. "Sayang, akan lebih baik bila kita beritahu Byunggyu sekarang. Kalau ia tak bisa menerimanya, dengan terpaksa aku akan menggugurkan calon keluarga baru kita ini." ucap Bomin sambil tersenyum dan mengelus perutnya sebelum kembali melangkah menemui Nayoung. Byunggyu dan Wooseok sontak menatap Byungjin dengan penasaran. Byungjin benar-benar tak menyukai tatapan mereka. Istrinya membuatnya berada dalam situasi yang sulit. *** Bomin menatap Nayoung tak percaya. Ia kembali menatap laptop yang ada di depannya dan membaca isi dari e-mail yang dikirimkan oleh nenek Nayoung. "Kau benar-benar dijodohkan dengan orang ini? Nenekmu benar-benar sudah kehilangan akalnya. Aku tak menyangka ada orang yang lebih tidak waras dariku." Bomin menggeleng tak percaya. "Karena itulah otakku yang jenius dan licik ini tak bisa bekerja untuk melawan nenekku, kak! Apa yang harus kulakukan?" jerit Nayoung. Nayoung dan Bomin duduk berhadapan di kantin sekolah yang sepi. Kalian bertanya mengapa sepi? Karena Nayoung menggunakan otoritasnya sebagai wakil ketua OSIS agar ia dan Bomin bisa berbincang dengan leluasa. "Sebenarnya aku memiliki ide tentang ini." ucap Bomin sambil menopang dagunya. "Apa? Kau punya ide apa?" tanya Nayoung. "Tapi sebelum aku membantumu, kau juga harus membantuku. Give and take. Bagaimana, apa anda setuju Nona Nayoung?" tanya Bomin dengan senyuman bisnisnya. "Apapun agar perjodohanku dibatalkan!" seru Nayoung dengan senyuman liciknya. *** Byunggyu benar-benar marah. Ia takkan mengampuni ibu dan ayahnya saat ini. Bagaimana bisa Bomin bisa kebocoran lagi? Setelah menceramah Byungjin dan Bomin, ia mengurung dirinya di kamar. Bahkan Taeoh yang merupakan sepupu kesayangan Byunggyu pun dilarang masuk ke kamarnya. Tok.. Tok... Tok.... Suara ketukan lagi. Byunggyu menghela nafas dan menutupi wajahnya dengan bantal. Mengabaikan suara ketukan itu. "Hei! Oh Byunggyu! Aku tahu kau di dalam. Kalau kau tak membuka pintunya, aku akan benar-benar menurunkan nilaiku agar para gadis-gadis yang menjadi penggemarmu itu bisa berkencan denganmu! Kau dengar itu?!" Byunggyu bangun dari ranjangnya dengan cepat. Nayoung menggunakan ancaman itu lagi. Byunggyu berdecak dan melangkah ke arah pintu. Klik ... Byunggyu melihat wajah Nayoung yang menyeringai. "Ancamanku selalu berhasil." cibir Nayoung. "Masuklah!" ucap Byunggyu malas. Nayoung masuk ke dalam kamar Byunggyu dan tercengang. Bagaimana bisa kamar seorang anak lebih bersih dari kamar orang tuanya? "Wuaaaa, Oh Byunggyu kamarmu nyaman sekali!" Nayoung melemparkan tubuhnya ke atas ranjang Byunggyu. "Hei, seorang gadis tak seharusnya dengan santai tidur di atas ranjang pria!" protes Byunggyu. "Kau menganggapku seorang gadis? Wuaaa aku terharu!" ucap Nayoung dengan nada yang dilebih-lebihkan Byunggyu mengendikkan bahunya dan duduk di kursi belajarnya membelakangi Nayoung. "Byunggyu-ya kudengar Kak Bomin hamil? Ah, irinya! Kau bisa mendapatkan adik baru sedangkan aku satu pun tak punya." Nayoung menggerutu dengan bibir yang mengerucut. "Jujurlah, kau di suruh oleh ibuku untuk membujukku bukan?" cibir Byunggyu. "Memangnya apa masalahmu? Kau terlihat benar-benar menyayangi Namjoo walau ia lahir karena kecerobohan Paman Byungjin dan Kak Bomin. Apa sulitnya menerima adik barumu? Apa kau tega menyuruh Kak Bomin aborsi?" tanya Nayoung heran. "Kurasa tak akan ada yang lebih mengerti darimu. Karena pemikiran kita selalu sama," Byunggyu membalikkan tubuhnya dan menatap Nayoung serius. "Kau tahu? Walau sikapku seperti ini pada ibuku tapi aku benar-benar menyayanginya. Kau ingat saat ibuku hamil Namjoo? Ia benar-benar menderita hingga makan saja tak bisa. Melihatnya tersiksa hanya karena impiannya memiliki banyak anak, aku tak bisa melihat ibuku seperti itu!" Nayoung terdiam. Astaga ia tak tahu Byunggyu orang yang seperti ini. Benar-benar tak cocok dengan image ketusnya. "Lalu kau ingin ibumu aborsi? Ia akan lebih menderita lagi karena itu. Percayalah sedikit pada Kak Bomin! Saat hamil Namjoo, walau ia menderita pernah tidak kau dengar ia mengeluh atau setidaknya memasang wajah sedih?" Nayoung menatap Byunggyu. "Tidak bukan? Karena itu biarkan Kak Bomin berjuang untuk kebahagiaannya." Byunggyu terdiam. Mungkin ia sedang memikirkan ucapan Nayoung. Karena terlalu lama berpikir, ia tak menyadari bahwa Nayoung sudah tertidur di ranjangnya. "Hei Park Nayoung! Kau benar-benar tidur?" Byunggyu berdiri dan menatap Nayoung yang tertidur. Ia ingin membangunkannya, tapi ia mana tega bila Nayoung terlihat pulas begitu? "Ah, terserahlah!" Byunggyu memperbaiki posisi tidur Nayoung dan menyelimutinya. "Selamat malam Nayoung-ah." Byunggyu keluar dari kamarnya. Mungkin ia berniat tidur di kamar Wooseok atau Taeoh. Begitu Byunggyu keluar kamar, Nayoung membuka matanya dan menyeringai. "Saatnya beraksi!" **** Makassar, 14 Mei 2016
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD