Alankar mengulas senyum memperhatikan Regan yang tampak masuk dan duduk di dalam ruang OSIS. Ia sadar, gadis sexi itu pasti akan menjadi pusat perhatian. Sementara Regan, ia hanya menghembuskan napas kesal, bagaimana mungkin ia ditindak hanya karena pakaian.
Di sisi lain, ia juga harus berusaha pura pura tidak mengenal Alankar dan bersikap secuek mungkin, mungkin dengan begitu, Alankar akan memperhatikannya. Bukankah semua wanita terpaku pada Alankar kecuali Maria? Regan harus bisa meniru sikap Maria kalau ingin mendapatkan perhatian pemuda di depannya.
“ Siapa namamu?” Tanya Jack. Regan bahkan tidak menyangka kalau Paman Jack dulunya setegas dan semengerikan ini.
“ Anindita Regantara, panggil saja Regan!” Jawab Regan ketus.
“ Regan? Nama macam itu. Kau berasal dari mana?” Tanya Jack sembari mencatat
“ Swiss.” Jawab Regan asal asalan
“ Pantas saja, pakaianmu seperti orang barat. Kenapa kau memendekkan rok dan mengetatkan baju? Mau jadi pusat perhatian?” Tegur Jack
Regan menatapnya tajam
“ Kenapa sih pakaian saja jadi masalah. Bukannya kalian suka?” Celetuk gadis itu memicingkan mata. Jack menghela napas, memang benar ia suka bentuk tubuh dan cara berpakaian gadis di depannya. Selain itu, Regan juga sangat cantik.
Hingga...
“ Kau gadis di perpustakaan tadi kan?” Sapa Alankar mengulas senyum yang demi tuhan mana pun dia benar benar pemuda yang sempurna. Regan harus menahan diri, ia harus membuang muka dan belajar tidak menunjukkan rasa
“ Aku lupa.” Senyum Regan sinis. Sikap menantang yang justru membuat Alankar semakin penasaran.
Deg deg deg
Jantung Regan seakan bisa didengar orang sekabupaten saat Alankar mendekat dan duduk di sisinya.
“ Kau mengenalnya Al?” Tanya Jack mengernyit
“ Tidak, tapi ini menarik. Siapa kau sebenarnya?” Tanya pemuda itu
“ Regan. Bukankah tadi aku sudah menjawab. Dan ya, soal di perpustakaan tadi, aku juga sepertinya linglung. Mungkin semalam terlalu mabuk.” Balas Regan menatap Alankar tajam walaupun hatinya sudah berdebar tidak karuan.
“ Kau tahu siapa aku kan?” Ujar Alankar menatap Regan, mungkin menguji imannya
“ Ya, Alankar Adirangga. Sosok menyebalkan yang tidak taat aturan, selalu melakukan pelanggaran karena anak dari pemilik sekolah lalu kalau kau bisa melanggar aturan kenapa aku harus patuh. Inikah hanya soal pakaian saja!” Regan kemudian berdiri dari duduknya. Ia tidak akan tahan berada lama lama dengan pemuda pujaannya
“ Berani sekali kau melawan Alankar! Ganti bajumu sekarang!” Perintah Jack
“ Kalau aku menolak?” Regan mengangkat dagunya
“ Kau akan menerima akibatnya sendiri.” Senyum Alankar menjawab
“ Lama lama berada di sini membuatku panas. Urus saja diri kalian sendiri bukankah kalian sibuk.” Regan segera beranjak ke luar meninggalkan Jack dan Alankar yang berdiri dengan tangan di dalam saku
“ Gadis itu bar bar sekali. Dari mana dia berasal.” Celetuk Jack yang sebenarnya juga mulai menyukai Regan
“ Bukankah sudah dia bilang tadi, Swiss. Mungkin itu sikap orang orang di sana.” Jawab Alankar menatap Regan yang semakin menjauh
Dia... Cantik.
“ Ya tuhan! Jantungku! Regan tenang... Tenang... Bernapas Huft... Bernapas.. bisa bisa aku mati berdiri di sana.” Celetuk gadis itu menghentikan langkahnya di sekitar tembok sekolah, menyandarkan punggungnya kemudian mengatur napasnya yang sejak tadi tegang.
Hingga... Sayup sayup ia mendengar seseorang tengah berbincang pelan. Regan mendengarkan dengan baik, perlahan... Ia mengintip. Benar saja, ia melihat seorang pemuda dengan rambut acak dan terlihat culun dengan kacamatanya, bersama seorang gadis yang tadi sempat ia tabrak, Maria.
Di sana...
Ia juga melihat seorang pemuda yang lumayan tampan dengan almamater OSIS yang melekat di tubuhnya. Regan terdiam sejenak, mencoba mengenali. Hingga...
“ Ayah?” Gumam Regan. Benar... Itu tidak lain adalah Raditya, ayah Regan semasa muda. Rasanya begitu lega melihat ayahnya masih hidup walaupun sudah pasti... Adit tidak akan mengenalinya. Regan berjanji pada dirinya sendiri, ia akan berusaha menyelamatkan ayahnya
Jika itu ayahnya... Apakah pemuda culun itu adalah paman Qian? Ayah Kleo?
Regan ingin sekali melangkah ke sana dan mengenal mereka. Tapi...
“ Patuhi apa kata kakak, Maria. Ini semua demi kebaikan kita. Sebentar saja. Kau ini cantik, kau pasti bisa kan menarik simpati Alankar? Kakak sudah meletakkan segala hal yang ia sukai di dalam buku ini. Ayolah Maria, hanya satu tahun saja.” Pinta Qian pada gadis itu.
Kakak?
Apa jangan jangan...
“ Iya... Ini akan menguntungkan. Kita tidak berniat menipu Al. Kita hanya butuh uang dan perhatiannya saja. Hanya sebentar.” Tutur Radit memegang lembut bahu gadis itu. Regan memilih bersembunyi dan tetap di tempatnya.
Maria tampak diam, mungkin awalnya ia sangat ragu. Kemudian... Ia menatap Radit kelu.
“ Kalau kau mencintaiku. Kau pasti bisa melakukan hal ini kan?” Pintanya
Regan meneteskan air mata. Kenapa ayahnya terlihat begitu hina?
“ Ini hanya sementara kan?” Tanya gadis itu polos. Apakah ia secinta itu pada Radit hingga mau menuruti segala kemauannya?
“ Ya, ini hanya sementara. Berpura puralah tidak mengenalku. Qian juga ingin lebih dekat dengan Alankar. Kau akan menjadi populer jika bisa menjadi pacarnya, dan OSIS juga akan makmur selain itu kau bisa menguras semua hartanya kan. Setelah cukup, tinggalkan dia dan kita bisa bersama.” Senyum Radit licik. Sikap yang benar benar menyakiti hati Regan. Kenapa demi harta, ayahnya tega melakukan semua itu. Bukannya selama ini Radit yang mengajari Regan menjadi wanita yang mandiri dan tegar. Kenapa di masa lalu Radit terlihat begitu menyedihkan
“ Tapi bagaimana cara menarik simpatinya?” Tanya Maria
“ Aku sudah sangat lama mengenalnya. Akan aku jelaskan.” Senyum Radit kemudian menjelaskan segalanya. Apa yang Alankar suka, tipe Alankar dan apa yang membuat Alankar muak pada wanita. Itu agar Maria bisa tahu bagaimana caranya bersikap. Agar Alankar bisa jatuh cinta padanya. Reganpun mendengarkan hal itu dengan baik, ia harus bisa menjadi saingan Maria. Setidaknya, jika ia bisa merubah takdir Alankar untuk tidak mencintai Maria, maka semua takdir akan berubah.
Benar saja, siang itu... Saat jam istirahat berdenting, Maria sengaja melangkah ke arah kantin. Radit sudah memberi tahunya, kalau Alankar suka ke kantin sebelum semua siswa datang. Itu kesempatan Maria menarik simpatinya, karena memang... Pertama kali Maria bertemu dengan Alankar adalah di kantin.
Gadis itu mengikat rambutnya ke atas, seperti yang Radit jelaskan... Alankar menyukai itu. Maria menghela napas saat melihat Alankar dan Radit memasuki kantin. Tidak menyangka targetnya se tampan dan sesempurna itu. Memang Maria sempat melihatnya sekilas saat MOS tapi tidak sejelas sekarang. Ia pun melangkah masuk, memesan makanan kemudian sengaja berjalan ke arah meja Alankar. Maria sengaja pura pura tersandung kemudian jatuh ke lantai, gelas yang ia pegang mengenai Alankar yang spontan berdiri dari duduknya.
“ Maaf kak, maaf.... Aku tidak sengaja.” Ucapnya dengan akting yang benar benar mulus. Alankar menghela napas, ia sama sekali tidak suka bajunya dikotori.
“ Aku akan mengurus gadis ini.” Ujar Radit berdiri. Tapi... Alankar melarangnya. Ia justru mengangkat dagu gadis itu agar menatapnya
“ Siapa namamu?” Tanya Alankar
Maria memalingkan tatapannya
“ Maria kak.” Jawabnya dengan wajah penuh sesal. Alankar menatap Maria dari ujung rambut sampai ujung kaki. Apa yang maria kenakan, ikatan rambutnya, caranya berbicara, hiasan di matanya, kenapa gadis itu seakan menjadi jelmaan dari gadis impian Alankar. Di sisi lain, Maria memang manis dan cantik. Melihat sikap Alankar, Radit mengulas senyum, ia berhasil.
Sebelum...
“ Maria?” Sapa seseorang dari arah pintu kantin.
Butuh tekad yang kuat untuk melakukan ini, muncul di hadapan orang orang yang dikenal dari masa depan, dan berpura pura tidak mengenalnya, terlebih... Itu adalah ayah kandung dan paman sendiri.
Regan melangkah masuk ke kantin dengan wajah tenang. Ia menggagalkan cara Maria ingin mengenalkan dirinya pada Alankar dengan menyebutkan namanya. Gadis itu terlihat mengikat rambutnya ke atas asal, khas gadis kota masa depan dengan almamater sekolah yang ia ikat di pinggang. Semakin menambah pesonanya. Regan tentu jauh lebih cantik dari pada Maria. Bahkan, kedatangannya membuat Qian dan Radit hampir tak berkedip
“ Halo.” Sapa Regan pada Maria yang mengernyit kesal. Tentu saja, usahanya gagal
“ Hai, kau lagi.” Alankar mencoba menyapa Regan. Tapi... Regan tidak memedulikannya sama sekali. Ia justru menatap Maria dengan senyum ramah, senyum yang begitu manis
“ Maaf, aku mencarimu. Aku tidak pandai berteman. Melihatmu di sini membuatku senang. Astaga! Kau jatuh?” Tanya Regan pura pura terkejut
“ Ya, aku tersandung tali sepatuku.” Jawab Maria
“ Tapi sepatumu baik baik saja.” Regan mengernyit. Wajah Maria langsung berubah pucat. Ia menatap Radit yang justru ternganga hingga akhirnya sadar, wanitanya sedang terdesak
“ Al, kita ke kelas yuk!” Ajak Radit menyelamatkan Maria
“ Tunggu sebentar.” Ujar Alankar kemudian mendekati Regan
“ Kau mau menemaniku ke perpustakaan? Aku ingin mencari buku.” Ajak Regan menyentuh lengan Maria.
“ Gadis sepertimu suka membaca?” Tanya Maria mengernyit melihat gaya Regan yang terlihat urakan
“ Don’t Judge by Cover. Kau mau menemaniku?” Tanya Regan pada Maria lagi
Tapi...
“ Pergilah bersamaku!” Ajak Alankar yang seketika membuat seisi kantin menjadi senyap. Regan seakan tak percaya, Alankar mengajaknya? Apa ini mimpi? Jantungnya berdegup kencang seakan ingin keluar dari tempatnya
“ Kenapa? Bukankah sama saja pergi bersamanya atau denganku?” Senyum pemuda itu semanis malaikat.
“ Baiklah! Senior pasti lebih tahu buku mana yang bagus bukan? Ayo!” Ajak Regan slengean kemudian menarik lengan Alankar begitu saja. Membuat pemuda itu mengulas senyum.
Sebaliknya, Radit meremas jari jarinya kesal. Siapa sebenarnya gadis itu?
“ Adit...
Maria terlihat tak berdaya
“ Tenanglah! Aku akan mencari cara lain.” Celetuk pemuda itu kemudian bergegas ke luar dari kantin
Benar saja, Regan yang melangkah bersama Alankar menjadi pusat perhatian. Tidak hanya karena kecantikan dan gayanya yang berani tapi karena ia bersama dengan sosok yang paling disegani dan paling populer di sana.
Melihat Regan menjadi pusat perhatian, tiba tiba... Alankar menarik almamater yang Regan ikatkan ke pinggangnya kemudian membuka almamater itu dan menyelimutkannya ke tubuh Regan.
“ Hati hati, apa yang kau tampilkan bisa dianggap sebagai pancingan.” Senyum pemuda itu kemudian mendahului Regan. Membuat gadis itu terkesiap.
Dia baik... Bahkan sangat baik. Batin gadis itu mengulas senyum senang
Setibanya di perpustakaan...
Alankar menutup pintu perpustakaan itu rapat. Ia kemudian mendekati Regan yang tampak memilih milih buku untuk dibaca. Tidak sulit, karena Regan memang suka membaca, dia pintar, karena itu ia mendapatkan beasiswa di sana.
“ Kau menyukaiku kan?” Tanya Alankar duduk di sisinya. Pertanyaan yang seketika membuat Regan menutup buku yang ia pegang
“ Apa? Apa aku tidak salah dengar?” Tanyanya
“ Tidak, aku bisa melihat itu dari matamu. Kau selalu menarik perhatianku, dengan sikapmu, dengan penampilanmu, berada di mana pun aku berada. Apa itu suatu kebetulan. Apa yang kau inginkan? Sama seperti gadis lain? Murahan! Bukankah sudah aku bilang, kau memang cantik, tapi tidak cukup menarik.” Senyum Alankar dingin
Deg
Sikapnya ini...?
Kenapa begitu mirip dengan jiwanya di masa depan.
“ Kenapa? Kau merasa tampan Hmm?”
“ Katakan saja apa keinginanmu dan berhenti berputar putar di sekitarku. Aku tahu cara pakaianmu sengaja untuk menarik simpatiku kan?”
Mendengar itu, Regan berdiri dari duduknya
“ Ternyata, ke perpustakaan denganmu bukan ide yang baik ya. Aku mau pergi.” Tekannya beranjak. Tapi... Alankar menahan lengannya lalu menarik Regan dan memeluk pinggangnya merapat
“ Mau ke mana? Bukankah ini maumu? Jangan sok suci. Gadis sepertimu pasti bukan perawan kan?”
Plak
Demi Tuhan! Aku tidak berniat melakukan ini
“ Beraninya kau!” Alankar terlihat benar benar marah. Bagaimana tidak, Regan tiba tiba menamparnya kuat, membuat bekas merah di pipinya
“ Jangan karena kau kaya, kau punya segalanya kau bisa melakukan apa pun yang kau mau. Apa hakmu menilai diriku? Kau benar benar tidak punya moral!” Tunjuk Regan dengan wajah memerah
“ Gadis sepertimu berbicara soal moral. Aku akan mengingat tamparan ini! Kau akan menerima akibatnya segera.” Balas Alankar kemudian beranjak pergi dengan wajah marah meninggalkan Regan yang kemudian menangis terisak
Kenapa justru terjadi sebaliknya? Usaha Regan untuk menarik perhatian Alankar kenapa berbalik menjadi kebencian?
Sekarang apa yang harus Regan lakukan?
Ke mana ia harus pergi?
Di sana...
“ Al, bukannya kau ke perpustakaan. Kenapa terlihat sangat marah?” Tanya Radit yang berpapasan dengannya di koridor
“ Kebetulan bertemu denganmu di sini! Aku minta cari tahu siapa gadis itu, di kelas berapa? Aku akan membuat perhitungan dengannya!” Perintah Alankar kesal kemudian masuk ke dalam ruang OSIS dan membanting pintunya kasar. Radit mengulas senyum melihat sikap Alankar, Regan pasti telah membuatnya marah
Tapi siapa Regan sebenarnya?
Radit segera berlari menuju kelas 1A Biologi menemui Maria dan mengatakan apa yang baru saja terjadi. Tentu saja, gadis itu mengulas senyum senang
“ Sayang, aku punya rencana untuk gadis itu.” Senyum Maria penuh maksud
“ Apa?” Tanya Radit mengernyit
“ Ke marilah!” Maria membisikkan sesuatu di telinga Radit, sesuatu yang membuat Radit mengulas senyum senang
Apa yang direncanakan Maria?