“ Ayo ikut!” Ajak Jack membawa Regan ke sekolah saat semua siswa belum datang. Pemuda itu membawa Regan ke dalam ruang kesiswaan dan mencarikan seragam yang cocok untuknya
“ Pakailah! Sepertinya ini ukuranmu.” Ujarnya menyodorkan seragam ke tangan Regan yang justru mengernyit melihat lihat seragam itu
“ Ini kuno sekali. Gak ada yang bentukannya kayak daster sekalian gitu? Roknya terlalu panjang, bajunya tidak berbentuk. Tidak ada yang akan terlihat cantik mengenakan seragam seperti ini.” Gerutu Regan enggan
“ Kita ke sekolah untuk mencari ilmu. Bukan untuk terlihat cantik. Pakailah sebelum para siswa datang.” Tukas Jack memaksa
Benar juga sih, Regan kembali ke zaman nenek moyang. Jadi ia harus menyesuaikan. Dengan berat hati, gadis itu membawa seragam barunya ke ruang ganti. Bagaimana bisa Alankar masih terlihat keren walaupun ia memakai seragam yang kedodoran begitu? Regan menatap bayangan dirinya di cermin
“ Berasa jadi nenek nenek kolot kalau begini.” Gumamnya. Tapi bukan Regan namanya kalau kehabisan akal, jika tidak bisa cantik dengan seragam yang ia kenakan, maka Regan bisa cantik dengan memamerkan rambut indahnya, ia juga memiliki aksesoris supaya terlihat sempurna. Gadis itu mengikatkan almamater sekolah ke pinggang kemudian memingkas sedikit lengan bajunya, mengikat rambutnya ke belakang dan menyisakan sedikit di depan, memasang lipgloss. Setelah itu ia terlihat sempurna
“ Hei cepatlah! Kau ganti baju atau melahirkan di dalam!” Teriak Jack, lututnya sudah lemas menunggu. Lalu saat Regan ke luar...
Jack ternganga, bagaimana bisa Regan membuat seragam itu terlihat seperti busana Fashion show? Atau memang gadis itu yang cantik dari lahir sehingga apa pun yang ia kenakan terlihat indah?
“ Aku cantik kan kak?” Senyum Regan mengagetkan
Jack mengangguk grogie
“ Pergilah ke kelasmu. Kelas 1A Biologi! Belajarlah dan jangan membuat onar.” Pinta Jack kemudian bergegas ke luar
“ Tunggu!” Teriak Regan mengejar
“ Nanti aku masih bisa kan pulang ke rumahmu? Aku tidak memiliki tempat tinggal.” Pintanya
“ Ya, tinggallah selama yang kau mau. Aku tidak keberatan.” Jawab Jack membuat Regan tersenyum lebar
Jack kemudian bergegas pergi ke ruang OSIS
Beberapa siswa mulai berdatangan. Dan seperti biasa, Regan menjadi pusat perhatian. Sebelum...
Sebuah mobil mewah pada jamannya mendarat mulus di halaman sekolah. Seluruh siswi langsung berbisik ria, ya inilah yang seharusnya terjadi kalau Alankar benar benar hidup. Ia akan menjadi pusat perhatian. Sosok itu benar benar menawan, siapa yang tidak akan menyukainya. Sejenak, Regan teringat akan sepupunya Kleo, kenapa Alankar terlihat begitu mirip dengan Kleo, apakah Qian memang se terobsesi itu pada Alankar hingga membentuk karakter Kleo menjadi begitu mirip dengannya?
Saat turun dari mobil, banyak sekali siswa dan siswi yang menyapa Alankar. Dia terlihat sangat populer. Hingga tatapannya terarah pada Regan yang masih tampak duduk di depan kelasnya sembari membaca buku, hanya Regan gadis yang tidak berkumpul dan tidak mendekat saat ia datang dan itu entah kenapa terasa menyebalkan bagi Alankar. Melihat Alankar menatapnya, Regan justru menutup bukunya kemudian masuk ke dalam kelas.
“ Al, ada proposal yang diajukan oleh guru kesenian untuk acara minggu depan.” Sapa Adit berlari ke arah Alankar. Pemuda itu masih menatap ke arah kelas 1A Biologi, tempat di mana Regan berada.
“ Al..
“ Lupakan itu, bukankah aku menyuruhmu mencari data tentang anak baru kemarin. Apa kau sudah menemukannya?” Tanya Alankar sepertinya masih menaruh dendam
“ Ya, dia murid baru di kelas 1A Biologi. Pindahan dari luar negeri, hari ini baru masuk datanya.” Tutur Adit menjawab
“ Bagus, aku ingin dia dikeluarkan dari sekolah hari ini juga!” Perintah Alankar
“ Apa?” Adit mengernyit seakan tak yakin pada perintah sang tuan muda barusan
“ Aku ingin Aninditha Regantara dikeluarkan dari sekolah ini agar tidak ada lagi yang berani mengacau apalagi melawan seorang Adirangga. Kau mengerti! Lakukan sekarang!” Tukas Alankar kemudian melangkah tegap menuju ruang kelas 2. Adit hanya bisa mengangkat sebelah alisnya, Alankar memang baik tapi jika sudah sangat kesal ia bisa melakukan apa saja. Termasuk melakukan DO sepihak dan harus disetujui dewan kedisiplinan jika alasannya masuk akal. Mungkin Regan sudah sangat membuatnya kesal.
“ Baiklah, dengan senang hati.” Gumam Adit kemudian beranjak menuju ruang dewan.
Benar saja, tak lama setelah jam pelajaran dimulai... Seorang anggota kedisiplinan sekolah memasuki kelas Regan dan meminta Regan datang ke kantor.
Di sana, beberapa guru dan OSIS termasuk Alankar tampak berkumpul, duduk di kursi masing masing sementara Regan berdiri di depan mereka mirip seperti orang yang hendak presentasi, bedanya saat itu Regan tengah diadili.
“ Ada apa ya?” Tanya Regan polos. Beberapa OSIS menatapnya kagum, dari sisi penampilan, gadis itu memang terlihat sangat sempurna.
“ Kau dikeluarkan dari sekolah ini.” Tutur salah seorang guru yang membuat Regan mengernyit
“ Tapi apa kesalahan saya? Saya baru masuk hari ini.” Celetuk gadis itu tenang
“ Rambutmu di cat kan? Itu dilarang disekolah ini!” Tuding Adit
Regan menatap Adit teduh
Ayah... Kenapa kau sejahat ini padaku? – Batinnya
“ Apa itu ada hubungannya dengan pelajaran? Tidak kan? Ini rambut asli saya, jadi saya tidak melakukan kesalahan apa pun bukan?” Jawab gadis itu tegas.
“ Kemarin kau membuat heboh di sekolah dengan penampilanmu yang tidak sopan.” Tutur Qian
“ Ya, tapi lihat saya hari ini. Itu karena kemarin saya tidak tahu aturan di sekolah ini. Saya pikir sekolah ini sama dengan sekolah saya sebelumnya. Yang terpenting sekarang saya berubah.” Balas Regan
“ Sekolah ini tidak membutuhkan siswa yang hanya mengedepankan sensasi. Kau sama saja dengan menghina sekolah ini karena almamater sekolah kau ikat ke pinggang, bukankah itu nanti diduduki.” Senyum Adit
“ Saya akan melepasnya.” Regan bergegas melepas ikatan almamater di pinggangnya
Alankar memejamkan matanya tak tahan, gadis itu selalu mempunyai alasan untuk menjawab dewan kedisiplinan. Maka, pemuda itu pun berdiri dengan tatapan tegas
“ Aku yang menginginkan kau ke luar dari sekolah ini. Aku, Alankar Adirangga!” Tekannya
Deg
Regan terdiam mendengar kejujuran Alankar. Jari jarinya yang mengepal seketika lunglai, apakah Alankar begitu membencinya? Kemarin, ia mengirimkan preman dan sekarang ia menginginkan Regan ke luar dari sekolah itu. Bola mata Regan berkaca kaca
“ Jika aku menginginkan hal itu maka akan terjadi. Kau di DO dari sekolah ini jadi silahkan ke luar!” Perintah pemuda itu tegas. Mata birunya menatap Regan nanar
Regan mengangguk, berusaha untuk tidak menangis. Ia sendirian di tempat itu, tidak memiliki siapa pun. Hanya demi menyelamatkan Alankar. Rasanya begitu sakit harus bertahan dikondisi begitu
“ Beri aku kesempatan.” Tuturnya dengan suara pelan
“ APA?” Alankar mengulas senyum
“ Beri aku kesempatan. Aku ingin bersekolah di sini. Aku janji, aku akan mematuhi peraturan.” Tutur gadis itu mengangkat wajahnya
“ Al, apa tidak sebaiknya kita memberinya kesempatan?” Tanya Jack kasihan. Melihat Regan hampir menangis membuatnya tak tahan. Bagaimanapun Regan tidak benar benar melakukan kesalahan
“ Tolong! Aku hanya ingin menyelamatkan seseorang.” Tutur Regan akhirnya, ia kemudian terisak
“ Aku sendirian di sini. Aku hanya ingin sekolah saja. Jangan cabut hak itu dariku. Jika aku melakukan kesalahan tegur saja. Tapi jangan keluarkan aku.” Ucapnya yang entah kenapa membuat Alankar bergeming. Rasanya, air mata Regan pernah ia lihat sebelumnya, caranya menangis, kesedihannya, semuanya terasa sangat familier.
“ Kau berjanji akan mematuhi apa pun keinginanku?” Tanya Alankar penuh penekanan
Regan mengangguk pelan
“ Kalau begitu! Temui aku di ruangan OSIS saat jam istirahat! Aku akan memutuskan kau bisa sekolah di sini atau tidak!” Tekan Alankar kemudian merapikan almamater OSIS-nya dan beranjak ke luar dari ruangan. Meninggalkan Regan yang masih berdiri menyeka air mata.
“ Kemarin kau terlihat sangat garang. Sekarang seperti kucing yang malang.” Senyum Adit mendekat. Regan menatap sosok itu getir, bayangan wajah tua ayahnya memenuhi ke dua pandangan, ingin rasanya Regan memeluk dan mengatakan bahwa ia adalah putri Adit di masa depan. Tapi cukup melihat Adit baik baik saja, ia sudah sangat lega.
“ Sudahlah dit, ayo kita ke kelas!” Ajak Jack
“ Tunggu, apa ini? Air mata? Jadi gadis sepertimu masih bisa menangis?” Ledek Adit mengusap air mata dari pipi Regan dengan tangannya. Saat itulah, Regan melihat ada bekas luka di tangan pemuda itu.
Ya, bekas luka yang masih baru dan masih di perban. Regan jadi ingat di masa depan... Saat ia masih sangat kecil dan ayahnya mengajaknya bermain, Regan melihat bekas luka di tempat yang sama tapi sudah mengering.
“ Ayah terluka?” Tanyanya polos
“ Oh ini? Ini dulu saat ayah masih sekolah, ayah tersandung dan menjatuhkan sebuah botol kaca, kacanya menancap di lengan ayah.” Cerita ayahnya
“ Apakah sakit?” Tanya Regan polos
“ Dulu sangat sakit, ayah tidak merawatnya dengan baik hingga akhirnya infeksi dan berbekas. Tapi sekarang sudah tidak sakit lagi.” Senyum Adit kala itu kemudian menggendong Regan ke pangkuannya.
Air mata Regan menetes mengingat hal itu. Ia tanpa sadar memegang tangan Adit kemudian menatap luka yang masih basah di tangannya
“ Kau seharusnya hati hati, jangan sampai terjatuh, jika ada botol yang pecah maka bisa terluka. Rawat lukamu dengan baik, jika ini infeksi, ini akan membekas.” Tuturnya tanpa sadar
“ Bagaimana kau bisa tahu kalau luka ini karena terjatuh dan memecahkan botol?” Adit mengernyit
Deg
Regan melepaskan pegangannya. Sial, ia keceplosan karena suasana
“ Maaf kak, a-aku hanya menebak. Permisi!” Gadis itu bergegas ke luar. Ia tak mungkin bisa menjawab jika Adit menanyakan hal lainnya
“ Aneh.” Celetuk Adit
Tapi kenapa, sentuhan Regan tadi membuatnya seakan merasakan sesuatu? Sesuatu yang bahkan lebih besar dari pada saat Maria menyentuhnya.
“ Ya, aku juga merasa ada yang aneh dengannya. Apa kau tahu? Kemarin sore aku melihatnya menghajar 4 orang sekaligus.” Celetuk Jack
“ Apa? 4 orang?”
“ Iya, ada 4 orang mungkin dari kelas lain yang mencoba mengganggunya di depan perpustakaanku kemarin. Aku mencoba membantunya, tapi justru dia yang mengalahkan mereka semua.” Cerita Jack dengan mata berbinar binar
“ Hebat juga. Ya sudah, aku ke kelas duluan ya.” Adit melangkah mendahului Jack
Di luar, pemuda itu menghela napas panjang.
“ Sial, jadi semua teman temanku dihajar seorang perempuan kemarin. Mereka memang tidak bisa diandalkan. Aku menyuruh mereka bersenang senang tapi justru mereka yang dipermainkan.” Gumam Adit meremas jari jarinya. Benar, rupanya ialah sosok yang telah meminta tolong 4 orang temannya untuk mencelakai dan menakut nakuti Regan kemarin sore, bukan Alankar.
Sementara itu... Saat tengah berjalan menuju kelas, tiba tiba Alankar mendengar lantunan suara piano yang begitu merdu. Suara yang membawanya melangkah ke arah ruang musik di sekolah itu.
Dengan pelan, pemuda itu membuka pintu ruang musik. Ia melihat Maria yang tampak anggun memainkan musik di sana. Alankar mengulas senyum, entah kenapa... Rasanya begitu tenang mendengarkan petikan tangan gadis itu. Sementara itu, Maria mengulas senyum. Ia bisa melihat Alankar dengan jelas dari pantulan kaca yang sengaja ia letakkan di depannya. Menyadari Alankar terpesona, gadis itu memainkan lagu yang lebih sulit dan indah. Benar saja, rencananya berhasil. Alankar memasuki ruangan itu dan memberikan tepuk tangan padanya. Mari terlihat begitu elegan, ia mengikat rambutnya ke atas, mengenakan sipat mata tipis. Sesuai dengan apa yang disukai Alankar dan pesona itu terlihat berlipat lipat saat ia memainkan piano dengan merdu.
“ Maaf kak, aku mengganggu. Sebenarnya tadi aku terjatuh. Jadi guru meminta beristirahat di UKS, karena tidak betah... Aku memutuskan berjalan dan menemukan ruangan ini.” Tuturnya lembut
“ Tidak apa apa, kau bermain dengan indah. Boleh kita memainkan piano itu bersama? Aku memiliki sebuah lagu yang cukup menarik.” Ajak Alankar mendekat
“ Dengan senang hati.” Jawab Maria
Tentu saja, ia senang. Karena semua itu memang bagian dari rencananya. Alankar tidak suka wanita yang muncul di mana saja ia berada, ia lebih menyukai wanita yang menarik pandangannya dan membuatnya mendekat
Maria mengingat rencananya semalam
“ Kak, Alankar menyukai piano dan musik, ini keberuntungan bagiku. Besok, aku akan ke ruang musik dan menunggunya lewat. Aku akan memainkan nada yang bagus, menghias diriku seperti yang ia sukai. Maka aku yakin, aku bisa membuat seorang Alankar melangkah ke arahku dengan mudah.”
Ya, itulah yang direncanakan Maria dan takdir selalu membantunya.
Karena mencintai Maria, adalah bagian dari suratan yang tidak mungkin bisa diubah.
Mampukah Regan mengalahkan atau merubah takdir yang merupakan tangan kanan Tuhan?