Soul, Kutuk Aku!

2117 Words
“ Cepat sedikit pak!” Teriak Regan yang tampak seperti orang ketakutan, ia selalu melihat jam tangannya berharap waktu berhenti dan ketakutannya berlalu “ Please Al, jangan lakukan ini! Tolong jangan sakiti ayah! Jangan! Ayah sudah berubah. Tolong jangan!” Gumam Regan “ Pak tolong lebih cepat sedikit!” Teriak Regan memegang pundak ojek Online yang ia naiki “ Kalau mau cepat naik jet non. Ini sudah sangat kencang. Non mau kita ditangkap polisi?” Celetuk sopir itu kesal juga akhirnya. Ia tidak mengerti betapa takutnya Regan Setibanya di Rumah Sakit... Regan berlari cepat, ia tidak peduli penampilannya seberantakan apa. “ Maaf nona, sekarang bukan jam kunjung.” Satpam melarang Regan “ Lepaskan! Aku ingin bertemu ayah! Kalian tidak mengerti hal buruk bisa saja terjadi. Tolong biarkan aku bertemu ayah! Aku putrinya!” Tekan Regan “ Oh baiklah silahkan!” Reganpun berlari kencang menuju lift, tapi pintu Lift tidak kunjung terbuka. Akhirnya ia memilih menaiki tangga darurat. Terengah engah berlari dengan kecepatan maksimal. Hingga... Ia tiba di depan ruangan ayahnya. Regan melihat Kleo tertidur di kursi tunggu. Gadis itu menyeka air mata dan mengatur napasnya yang berantakan. Dengan tangan gemetar, ia melangkah masuk Benar, tak ada hantu yang bisa membunuh manusia bukan? Regan mengulas senyum tenang melihat ayahnya yang tampak tertidur tenang dibalut selimut. Tapi ... Saat ia mendekat... Tes tes tes Sesuatu menetes dari selimut itu. Dan tiba tiba... Ia melihat genangan di bawah ranjang, genangan darah. Bahkan oksigen ayahnya terlihat diam. Regan bergegas membuka selimut ayahnya. Dan benar saja... Ia tercekat, ayahnya tidak tertidur. Ada belati yang menancap tepat di dadanya. “ Ayah.” Regan mengguncang tubuh ayahnya yang sama sekali tidak merespon. Wajahnya mulai memerah, ia bahkan tidak bisa menangis lagi “ Gak! Ayah tidak boleh begini. Ayah tidak boleh pergi seperti ini! Ayah! Ayah!” Regan mencabut belati yang menancap dalam ke jantung sang ayah “ Aaarrrkkk!!!” Teriak Regan pecah bersama tangis yang membuatnya tersungkur jatuh ke lantai memegangi belati itu. “ Ayah!!!” Teriaknya sesak Mendengar teriakan itu, Kleo langsung berlari masuk bersama beberapa perawat lainnya. Beberapa perawat yang melihat hal itu langsung menghubungi kepolisian terdekat. “ Ya Tuhan! Regan! Ada apa ini?” Teriak Kleo mencoba memegang lengan Regan dan memaksanya berdiri. “ Ayah, ayahku... Ayah... Ma-mati.” Tutur Regan gugup. Tak lama kemudian, ia melihat sosok Alankar berdiri di ambang pintu, di belakang semua orang, ia menatap Regan dengan mata berkaca kaca “ Maaf.” Gumamnya “ Kenapa kau lakukan ini hah! Kenapa? Kenapa kau membunuh ayah? Kau yang melakukannya kan? Kenapaaaa?” Teriak Regan menunjuk ke arah pintu. Tentu saja, saat orang lain melihat, tak ada siapa pun di sana. “ Regan sadarlah! Tidak ada siapa pun di sana.” Kleo mencoba menenangkan. “ Gak, Kleo percaya kan padaku? Dia ada di sana, Alankar ada di sana! Dia di sana. Dia yang melakukan semua ini! Dia!” Tangis Regan Kleo bergeming, ia melepaskan pegangannya di bahu Regan. Gadis itu benar benar seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya. “ Tidak ada hantu yang bisa menyakiti manusia Regan.” Ujarnya getir “ Tidak Kleo, aku berkata jujur, kutukan itu, dia bahkan menyebabkan kematian beruntun selama 40 tahun terakhir, dia pembunuh! Dia berbeda. Dia ingin balas dendam. Kleo percayalah padaku, aku mohon! Jika tidak ayahmu akan menjadi korban terakhir.” Isak Regan Kleo menggeleng pelan, ia melangkah mundur “ Kleo Please percaya padaku.” Kleo melirik ke arah Adit yang sudah dinyatakan meninggal karena kehabisan darah, itu mengerikan, Regan dikuasai pikirannya sendiri dan melenyapkan ayahnya. Setidaknya itu yang terlihat “ Kenapa Al? Kenapa?” Tangis Regan sesak ia memeluk tubuh ayahnya sedih Hingga... “ Pegang dia!” Perintah polisi yang datang. Barang bukti mengarah pada Regan, ia menggenggam belati itu, berdiri di dekat ayahnya. Semua sidik jari di tubuh Adit adalah milik Regan, tak ada sidik jari lain. Di belati itu juga tidak ada sidik jari orang lain selain Regan. Berikut di CCTV, Regan adalah orang terakhir yang masuk ke ruangan itu. “ Saya tidak mungkin membunuh ayah saya sendiri! Lepaskan saya!” Teriak Regan memberontak Bagaimana mungkin ini terjadi? Alankar bukan hanya melenyapkan orang orang di sekitarnya, ia juga dengan mulus menjadikan Regan tersangka yang seolah olah gila “ LEPASKAN! SAYA TIDAK BERSALAH! HANTU ITU YANG MEMBUNUHNYA! HANTU ITU!!” Teriak Regan, tapi apalah daya, polisi itu memborgol lengannya, menyeretnya ke luar dan memaksanya masuk ke dalam mobil tahanan “ Pak saya mohon, saya tidak mungkin membunuh ayah saya sendiri. Lepaskan saya!” Pinta Regan memelas. Ini tidak boleh terjadi, Walau bagaimanapun, Regan ingin setidaknya menghadiri pemakaman ayahnya. Tapi polisi itu tidak mau mendengarkan penjelasannya “ Diam dan jelaskan saja di kantor polisi nanti!” Perintahnya Regan menangis sedih, bagaimana bisa Alankar melakukan semua ini padanya? Regan tahu, apa yang diperbuat ayahnya dulu sangatlah salah, tapi Adit sudah berubah, ia satu satunya keluarga yang Regan punya. Kenapa Alankar begitu tega? Mengingat semua kenangannya bersama Alankar, Regan menangis sesak, bukankah tawa dan canda itu selama ini terlihat nyata dan begitu tulus? Alankar tidak terlihat berpura pura. Kenapa dendam bisa membuatnya sejahat ini pada Regan? Sejenak, Regan terdiam. Ia mengingat sesuatu... Ya, sesuatu yang terselip di balik jaketnya, Black Note “ Kau bahkan bisa mengutuk dirimu sendiri dan kembali ke masa yang kau mau. Tapi tentu ada syaratnya.. buku itu akan meminta jiwamu.” Tutur Alankar waktu itu Benar, di masa ini, Regan sudah tidak memiliki siapa pun. Kenapa ia tidak pergi ke masa yang lain untuk mengubah semuanya? Jika Alankar tidak meninggal, mungkin semua kejadian ini tidak akan pernah ada. Itu mungkin terdengar aneh, tapi... Regan ingin mencobanya. Tak lama kemudian, mobil polisi itu hampir melintasi sekolahnya. “ Aduh!” Celetuk Regan memegang perutnya “ Kenapa?” “ Pak bisa saya mampir ke sekolah dulu? Saya sakit perut, sepertinya diare. Saya mohon! Saya sudah tidak tahan lagi.” Pinta Regan beralasan. Melihat wajah Regan yang pucat dan serius, Polisi itu menghentikan laju mobilnya “ Baiklah! Saya akan menemanimu turun! Tapi awas kalau kabur!” Tekannya Regan mengangguk pucat. -----***----***----***------ Beralih ke tempat Qian... Mendengar kabar kematian rekannya, membuat wajah Qian berubah pucat. “ Tidak! Ini tidak mungkin! Radit tidak mungkin meninggal. Bagaimana ini!” Gumamnya takut kemudian berdiri dari duduknya dan bergegas mengunci pintu kamar hotel. Ya, dia tengah berada di hotel untuk urusan bisnis. Qian menutup semua jendela dan tirainya kemudian mematikan lampu dan bergulung di dalam selimutnya. Berharap... Alankar tidak akan datang padanya Selama ini ia bahkan rela mengadopsi anak temannya agar Kleo putranya sendiri selamat. Ia tahu, jika ia tidak melakukan hal itu, mungkin Kleo lah yang akan meninggal. Ya, benar, Qian tahu Yusef akan meninggal suatu saat nanti. Tapi setidaknya, Kleo selamat, putra tercintanya. Jauh dalam hening dan denting jam yang hampir menunjuk pada angka 2:45... “ Qian.” Deg Suara siapa itu? “ Tidak, aku pasti berkhayal. Tidak mungkin! Tidak!” Gumam Qian ketakutan. Tap tap tap Terdengar langkah kaki mendekat, semakin dekat dan semakin dekat. Qian berusaha menutup matanya dan mengabaikan. Tapi... Ia justru mengingat genangan darah itu. Genangan darah milik Alankar 40 tahun yang lalu. Semakin ia mencoba terpejam, semakin ia mengingat kejadian itu. “ Kau ingat bau darahku bukan?” Suara itu begitu dekat dengannya. Refleks membuat Qian membuka selimutnya. Dan... “ Aaarrkkkhh!” Teriaknya melihat Alankar berdiri di sisi tempat tidurnya dengan wajah penuh darah. Qian langsung terlonjak turun dari ranjangnya, mencoba mencari sakelar lampu tapi... Alankar tiba tiba berada di depannya “ Kenapa Qian? Kenapa kau mengkhianatiku?” Tanya Alankar “ A-aku... Kau tidak nyata. Hahahah kau ti-tidak nyata. K-kau sudah mati! Aku pasti sudah gila.” Qian melangkah mundur “ Kau sudah mati!” “ Ya, aku memang sudah mati. Kau tahu kenapa aku mendatangimu paling belakang? Kau sangat licik, setelah ini aku akan membunuh putramu.” Senyum Alankar “ Jangan! Jangan sakiti Kleo! Jangan! Bunuh saja aku! Bunuh saja aku! Tapi jangan sakiti dia.” Pinta Qian menyatukan tangannya dan membuat permohonan “ Aku tahu kau orang yang baik. Tolong jangan sakiti Kleo, dia tidak bersalah.” “ Apakah Yusef bersalah?” Senyum Alankar dingin Qian menangis, ia terisak ketakutan “ Bagaimana rasanya takut? Bagaimana rasanya menjemput kematian?” Seringai Alankar mendekat “ Kau tidak akan bisa menyentuhku! Kau hantu! Ya, kau hanya bayangan! Kau tidak bisa menyentuh apa pun. Hahaha kenapa aku harus takut? Kenapa?” Tawa Qian kemudian, menyembunyikan ketakutannya. Alankar mengulas senyum kemudian seluruh ruangan itu gemetar, lampu lampu kristal di atasnya pecah dan itu semakin membuat wajah Qian pucat “ Kau kira aku harus menyentuh semuanya untuk bisa membunuhmu?” “ Al, aku mohon! Aku masih ingin hidup.” “ APA KAU PIKIR AKU TIDAK INGIN HIDUP!” Bentak Alankar dengan wajah memerah “ Tolong jangan bunuh aku! Tolong! Jangan!” Qian menangis, merengek seperti perempuan. Ia terus melangkah mundur saat Alankar mendekatinya. Hingga... “ Ya, aku tidak akan membunuhmu.” Senyum Alankar. Qian mengambil napas lega, “ Terima kasih... Kau memang ba... Aaarrkkhh!!!” Tubuh Qian terjatuh ke bawah “ Tapi kau yang akan membunuh dirimu sendiri.” Senyum Alankar Benar, ia membuka jendela itu, Qian yang ketakutan terus melangkah mundur hingga akhirnya kakinya tergelincir dan hanya butuh sedikit dorongan, maka ia jatuh dengan sendirinya dari lantai 12 itu. Kepalanya pecah dan seluruh isi otaknya berhamburan ke luar. Tak ada wajah yang berbentuk, tubuh itu remuk. Bola mata Alankar memerah melihat kematian mengerikan di depannya. Tanpa sadar, bola matanya meneteskan air mata. “ Kalian memang pantas mati. Kenapa aku harus merasa bersalah.” Ujarnya mencoba tersenyum kemudian menghilang, tepat saat jam berdenting 3x. Namun... Deg Tubuh Alankar seolah kembali terlihat, jam tangannya bergerak setelah lama tidak berdetak “ Ada apa ini?” Gumamnya menatap ke langit lepas yang terlihat bergemuruh. Ada yang sedang mempermainkan waktu. “ Sial!” Gerutunya geram kemudian bergegas menghilang. Ya, seseorang telah membuka buku itu dan membaca mantra yang sama dengannya. Di sana, Regan merasakan seluruh tubuhnya sakit. Gadis itu berlari cepat sembari membuka mantra dari Black Note di depannya. “ Berhenti! Jangan kabur!” Teriak polisi mengeluarkan pistolnya. Regan bergegas mengambil batu dan menghantam gembok yang merantai pintu perpustakaan lama berkali kali. “ Semua kutukan ini bermula dari sini kan? Maka harus diakhiri di sini juga!” Gumamnya. Tangan Regan berdarah mencoba membuka gembok itu sampai akhirnya pintunya berhasil terbuka. Gadis itu melangkah masuk dengan kaki pincang. Ia menaiki lantai 2, meneruskan mantra yang dibacanya. Suara gemuruh petir tiba tiba bergemuruh pekat, seakan apa yang dibaca Regan mengundang semua itu datang. “ Hentikan!” Teriak Alankar yang tiba tiba muncul di hadapannya Regan tersenyum, ada air mata darah yang menetes turun dari mata indahnya “ Aku tidak mau kembali ke masa itu lagi. Berhenti!” Tekan Alankar. Perlahan, tubuhnya mulai memudar Tapi... Regan tiba tiba melempar buku itu, kemudian memegang tangan dingin Alankar “ Aku ingin menyelamatkanmu.” Ujarnya tulus Deg Alankar terdiam “ Bahkan kalaupun itu mengorbankan jiwamu?” Tanyanya dengan suara getir Regan mengangguk pelan “ Aku mencintaimu, masihkah kau ragu? Sampai bertemu di masa itu.” “ Tidak akan ada yang bisa mengubah takdir, Regan.” “ Kita lihat saja nanti.” Senyum Regan menggenggam erat tangan Alankar Lalu... “ KUTUK AKU!” Teriak Regan nyaring “ KUTUK AKU!!” Teriaknya. Ya, ini adalah masa itu, masa di mana seorang gadis mengutuk dirinya sendiri. Tubuhnya kemudian tergeletak di lantai tak bernyawa. Buku yang tadi di genggamnya tergeletak tak jauh dari sisinya Bola mata Regan masih terbuka, darah segar mengalir turun. Sosok arwah Alankarpun menghilang bersamanya. Aku begitu mencintainya ... Aku tidak tahu, cara ini akan membawaku ke mana... Aku tidak tahu... Rahasia buku ini seperti apa Apa aku bisa mengubah takdir atau justru terikat di dalamnya.. Kenapa aku harus peduli? Aku hanya ingin... Semua ini berakhir Lalu kenapa jika aku harus mati? Aku sama sekali tidak menyesal Waktu, bawalah aku ke masanya Beri aku satu kesempatan Menentang masa dan menggapai kembali kehidupannya Melepaskannya dari rasa sakit... Untuk selamanya -----***-----***-----***----- “ Percayalah padaku atau ayahmu akan menjadi korban berikutnya! Dia akan membunuh ayahmu.” Ucapan Regan waktu itu menjadi tamparan bagi Kleo Apa yang harus ia sesali saat ini? Andai ia mempercayai Regan saat itu, mungkin ia masih bisa menyelamatkan ayahnya. Sekarang, Kleo hanya bisa pasrah melakukan penghormatan dan pemakaman untuk Adit dan Qian di hari yang sama. Masih dengan pakaian serba hitam, Kleo berusaha tegar, tidak menangisi kepergian yang ayah. Kenapa, ada hantu yang begitu ingin membunuh mereka? Apa kesalahan ayahnya? Usai melakukan pemakaman, Kleo kembali ke rumahnya. Tapi... Keningnya mengernyit melihat ada polisi di sana “ Tuan Kleo? Sepupu dan kerabat terakhir dari nona Regan pelaku pembunuhan tuan Adit kan?” Tanya polisi itu. Kleo mengangguk tegas. Apa lagi yang diinginkan polisi ini? “ Mari ikut kami! Nona Regan mengalami kecelakaan, sekarang berada di rumah sakit.” Deg “ Apa? Kecelakaan?” Bagaimana bisa?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD