Guru Tak Kasat Mata

2250 Words
40 tahun yang lalu di sekolah itu pernah ada seorang siswa kelas 2 yang cukup populer di masanya. Ia merupakan pewaris tunggal perusahaan ternama di kota itu, selain itu, ia adalah generasi terakhir pendiri sekolah. Tapi karena merasa berkuasa dan memang sangat dimanja oleh kedua orang tuanya, sikap pemuda itu menjadi diktator dan sangat manja. Oleh karenanya, ia suka sekali membully adik adik kelasnya, bahkan tidak sopan terhadap guru. Sosok itu bahkan tega menyiksa dan mengeluarkan siapa pun yang tidak ia suka dari sekolah Adirangga. Beberapa kasus pelecehan s****l kerap terjadi dengan tersangka sosok itu juga, tapi tidak ada yang bahkan berani menegur apalagi membawanya ke pengadilan untuk diadili. Sejak dulu memang hukum tumpul ke atas, uang keluarganya mampu membeli keadilan di kota itu. Pemuda itu semakin menjadi jadi setiap harinya. Hingga, suatu hari secara mengejutkan, karma itu terjadi. Seseorang yang memeriksa perpustakaan sekolah pagi itu berteriak histeris. Bagaimana tidak, banyak sekali ditemukan ceceran darah, bau amis bahkan memenuhi ruangan dan semua lampu tidak bisa dinyalakan. Tergeletak sosok tubuh dengan kondisi mengerikan di arah tangga menuju lantai 2, tangan dan kakinya terpisah menjadi 3 bagian. Jasad itu tidak memiliki wajah, wajahnya dikuliti dan ia terlihat benar benar tersiksa sebelum ajalnya. Ya, setelah dijalani pemeriksaan, jasad itu ternyata milik pemuda itu. Banyak yang tidak menyukainya bukan, jadi tidak bisa dilacak siapa yang melakukan pembunuhan keji itu bahkan sampai detik ini. Setelah 40 tahun berlalu perpustakaan itu ditutup, nama sosok itu menghilang karena keluarganya tidak ingin aib itu disebar luaskan. Seluruh keluarganya pindah ke luar negeri, mereka tidak pernah kembali bahkan untuk menyelesaikan kasus anaknya. Kasus itu menghilang menjadi rumor belaka, semakin lama hal itu semakin pudar menjadi legenda di SMU Adirangga. Hingga, beberapa kejadian aneh terjadi, bahkan sampai mati pun sosok itu tetap sangat ditakuti. Beberapa siswa yang datang ke perpustakaan itu pasti mengalami hal buruk, rata rata dari mereka berhalusinasi, bermimpi buruk, menjadi gila, bahkan mengalami kecelakaan yang mengakibatkan hilangnya nyawa. Itu kenapa, sampai sekarang ada peraturan khusus di dalam sekolah Adirangga. Tidak ada seorang pun siswa yang boleh pergi ke area perpustakaan lama. Apalagi membukanya. Regan terdiam mencerna apa yang diceritakan ayahnya dengan wajah sangat serius dan pucat. Kejadian itu memang tepat saat ayahnya masih menjadi siswa di sana. Ya, mungkin bahkan mereka satu angkatan. “ Apa ayah mengenal sosok itu? Siapa namanya?” Tanya Regan penasaran. Ia seakan tidak percaya di era ini masih ada cerita tentang roh jahat yang bergentayangan. Apalagi dengan cerita hidup semengerikan itu “ YA, ayah tahu, ayah bahkan sangat mengenalnya. Tapi sebaiknya kau tidak tahu. Namanya terlarang untuk di sebut, bahkan sekolah itu sudah mengadakan penguncian Ghoib untuk perpustakaan, setelah terjadi kecelakaan 7 hari berturut turut pada 7 siswa yang semuanya meninggal. “ Tutur ayahnya cemas “ Itu tidak mungkin yah, mana ada hal seperti itu. Oke, Regan percaya hantu itu ada. Tapi tidak ada hantu yang bisa membunuh manusia bukan? Itu hanya kebetulan saja, kenapa ayah setakut ini.” Senyum Regan menertawakan raut wajah takut ayahnya. Sebelum... “ Jessy, kau ingat nama temanmu yang kemarin kecelakaan secara tragis itu? Ayah tahu, kau mengajaknya pergi ke perpustakaan sebelum hal buruk terjadi. Apa kau masih belum yakin setelah mengalaminya sendiri? Temanmu itu korban, ayah tidak mau ada korban lain jadi tolong menjauhlah dari sana, belajar saja dengan rajin, jangan mencari tahu tentang apa pun.” Pinta ayahnya serius Regan terdiam sejenak, benar saja, apakah itu kebetulan? Jessy terlihat sangat ketakutan sebelum akhirnya berlari dan menjadi korban tabrakan bus itu. “ Tapi ayah... “ Tapi apa? Sayang, hanya Regan yang ayah punya di dunia ini. Jika hal buruk terjadi padamu, ayah tidak akan bisa hidup dan memaafkan diri ayah sendiri yang telah mengizinkanmu sekolah di tempat itu.” Pinta ayahnya memegang lengan putih Regan lembut. “ Sebelum Regan datang, ada seorang siswa di dalam perpustakaan itu.” Tutur Regan akhirnya. Ayahnya mengernyit “ Iya, ada seorang siswa di sana, di lantai dua. Siswa yang aku ceritakan padamu, aku yakin siswa itu yang telah menyelamatkanku waktu itu. Dia benar benar ada di sana.” Deg “ Siswa?” “Iya.” “Apa kau yakin?” “Aku sangat yakin ayah, aku juga ke sana karena mencarinya, dia berada di sana, dan aku tidak mendapatkan kabar buruk tentang siswa itu.” Tutur Regan yakin “ Seperti apa dia? Seperti apa wujudnya?” Tanya Adit dengan wajah yang semakin pucat “Dia... Drrrtttt drrrtttt Ponsel milik Regan berdering, memecah keheningan “ Ayah alarmku sudah bunyi, artinya aku harus segera ke sekolah kalau tidak aku akan terlambat. Nanti kita ceritakan hal ini kembali.” Regan berdiri kemudian berlari ke kamarnya mengambil tas “ Regan tapi jangan pernah ke perpustakaan itu ya.” Pinta ayahnya di ambang pintu. Regan hanya mengangguk kemudian mencium punggung tangan ayahnya dan bergegas pergi. Ia selalu berjalan kaki, jadi Regan sengaja menyalakan alarm time yang akan mengatur jarak tempuh yang pas menuju sekolahnya. Regan meninggalkan ayahnya yang terduduk gemetar dengan wajah yang benar benar pasi. “ Tidak, itu tidak mungkin dia.” Gumamnya mengingat masa lalu Masa di mana ia masih mengenakan seragam itu, saat ia duduk di bangku ruangan OSIS Adirangga. Ya, Adit adalah salah satu OSIS di masa itu. Ia masih ingat dengan jelas rasa takut saat mendengar langkah kaki itu mendekat, tatapan matanya yang tajam dan kulitnya yang sepucat salju “ Kerjakan ini! Aku harus mengadakan rencana acara di luar sekolah, apa kau mampu Adit?” Suaranya bahkan masih ia ingat. Nama bicara yang tenang tapi berat. Senyum yang begitu manis tapi juga menekan batin “ Tidak, itu pasti bukan dia. Orang yang sudah lama meninggal tidak mungkin bisa hidup kembali. Apa yang aku pikirkan, aku pasti sudah gila.” Gumam Adit kemudian bergegas mengambil pot air dan menyirami bunga di taman. Kegiatan yang selalu ia lakukan saat merasa tertekan. Apakah sosok itu memang begitu mengerikan? Ya, mungkin saja bukan? Sementara itu, Regan tiba di sekolahnya tepat waktu, beberapa menit sebelum bel berbunyi. Langkahnya terhenti saat melihat bekas genangan darah yang ditaburi bunga di halaman sekolah. Ia meneteskan air mata mengingat Jessy adalah orang pertama yang menyapanya kemarin. Apakah benar, Jessy meninggal gara gara dirinya? Jauh dalam lamunnya... “ Regan, kau mau berdiri atau masuk ke kelas? Bell sudah berbunyi, kau tidak dengar?” Sapa Jessy memegang pundaknya, menghentakkan lamunan Regan yang kemudian mengangguk tersenyum “ Mau ke kelas bersama?” Tanyanya pada gadis cantik berambut sebahu itu Jessy menggeleng pucat “ Kau duluan, aku masih harus menunggu.” Tuturnya tenang “ Baiklah, aku duluan ya.” Regan melangkah lebih dulu memasuki halaman sekolah sebelum satpam mengunci gerbang. Tapi... baru saja ia melangkah.. Deg Gadis itu teringat akan sesuatu yang mengerikan. Siapa yang bicara padanya barusan? Bukankah Jessy sudah meninggal? Wajah Regan langsung berubah pucat. Ia menoleh ke belakang, benar saja, tidak ada siapa pun di sana selain satpam yang baru saja menutup pagar. Seketika, bulu kuduk Regan berdiri, ia bergidik ngeri mendekati satpam itu dan bertanya “ Pak barusan lihat anak yang menyapa saya tidak? Baru saja ia ke Luar dari gerbang.” Tanya Regan dengan suara gemetar, berharap memang ada siswa yang menyapanya, dan ia hanya mengkhayalkan wajah Jessy “ tidak nak, kau yang terakhir melewati gerbang.” Deg “ Ada apa?” “ Tidak apa apa pak, terima kasih.” Tutur Regan kemudian bergegas menuju kelasnya. Sesampainya di sana, tampak semua siswa tengah berdoa dengan khusyuk kemudian mengambil tas mereka masing masing “ Regan kan?” Sapa seorang siswa mendekatinya “ Iya.” “ Kita akan menghadiri pemakaman Jessy hari ini bersama para OSIS, kau mau ikut?” Tanya siswa itu. “ Iya, ayo.” Ya, seluruh kelas ke luar, mereka hendak menghadiri pemakaman Jessy hari itu. Regan pun memilih ikut. Tapi, saat ia melangkah melewati gerbang, langkahnya terhenti melihat seseorang yang tampak berjalan di koridor sekolah dengan buku di tangannya menuju gudang. Ya, itu pemuda yang ia temui kemarin di perpustakaan. Melihat sosok itu, Regan mengurungkan niatnya untuk menghadiri pemakaman Jessy. Ia justru mengikuti pemuda itu ke gudang, memperhatikan tubuhnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Regan mengambil napas lega, sosok itu memijak tanah, itu artinya ia bukanlah hantu seperti apa yang dikhawatirkan ayahnya. Saat pemuda itu memasuki gudang, Regan turut masuk “ Hai.” Sapanya Grogi Pemuda itu meletakkan tumpukan buku, ia terlihat sangat tampan dengan kaca mata minus yang dikenakan. Mana ada hantu berkaca mata? Melihat kehadiran Regan, pemuda itu melepas kaca matanya dan meletakkannya di saku “ Kau masih ingat kan? Aku yang di perpustakaan kemarin, namaku Regan.” Regan mengulurkan tangan Tapi, pemuda itu malah menghela napas panjang kemudian memalingkan wajah pada tumpukan buku yang kemudian ia susun rapi “ Aku menyapamu loh, kau pasti punya nama kan kak?” Regan menghampiri, kalau soal tahan malu, ia memang ratunya. Sikap acuh cogan itu justru membuat Regan semakin penasaran. “ Aku bisa membantumu.” Tutur Regan mencoba membantu. Sama seperti sebelumnya, pemuda itu hanya diam tak mengatakan sepatah kata pun bahkan tidak menatap Regan, seakan Regan sama sekali tidak menarik baginya. “ Oh ya, kakak kelas berapa?” Tanya Regan masih dengan caper “ Apa kau bisa tidak menggangguku?” Tekan pemuda itu menatap Regan tajam. Regan mengulas senyum “ Akhirnya kau bicara denganku, namaku Regan, aku akan diam setelah kau memberitahuku namamu siapa. Bagaimana?” Regan kembali mengulurkan tangan Pemuda itu menatap uluran tangannya, tapi... Ia justru memalingkan wajah “ Kau ingin membantuku bukan?” Tanyanya “ Tentu, gak apa apa deh gak dijabat sekarang, suatu saat kau pasti akan menjabat tanganku bukan?” Senyum Regan “ Kalau begitu apa kau bisa menyusun rapi buku buku bekas ini?” Tanya pemuda itu menatap Regan “ Baiklah, itu hanya pekerjaan kecil, aku akan mengerjakan semuanya.” Tutur Regan senang. Ia kemudian segera mengatur buku buku yang berantakan di gudang, namun, pemuda itu justru melangkah ke luar, meninggalkannya. “ Hei!” Teriak Regan memanggil “ Sial, dia mengerjaiku. “ Gerutu gadis itu kesal menatap tumpukan buku di gudang “ Bodo amat! Susun saja dirimu sendiri wahai buku buku tua.” Celetuknya kemudian berlari mengikuti ke mana arah sosok itu pergi. Ya, ia yakin pemuda itu pergi ke arah ruang OSIS, langkahnya begitu cepat hingga Regan tak mampu mengejar. Sesampainya di ruang OSIS... Kosong, tidak ada siapa pun di sana, hanya ruangan kosong karena semua OSIS harus menghadiri pemakaman Jessy. Regan sangat yakin pemuda itu memasuki ruangan OSIS tadi, tapi kenapa kosong? Apa ia salah lihat? Suasana jadi sedikit mencekam Hingga... Saat Regan menoleh... “ Astaga!” Serunya kaget, jantungnya berdegup kencang. Bagaimana tidak, Miss.Jenn tiba tiba berdiri, mengulas senyum di belakangnya. Entah sejak kapan wanita karismatik itu berdiri di sana, Regan sama sekali tidak mendengar langkah kakinya “ Kau mencari sesuatu?” Tanyanya masih dengan wajah ramahnya yang benar benar menenangkan. Guru sejarah itu mengajak Regan duduk di salah satu bangku OSIS “ Katakan pada ibu, kau mencari siapa? Mungkin saya bisa membantu.” Pintanya. Mendapat perhatian dari guru wanita selembut itu, tentu saja membuat Regan nyaman. Mungkin Miss. Jenn tahu sesuatu tentang pemuda itu “ Saya mengikuti kakak kelas, seorang pemuda dengan rambut blonde ah maksud saya coklat terang,, cukup tinggi dan juga bermata biru. Apa Miss tahu siapa dia?” tanya Regan. Sosok itu terdiam sejenak, raut wajahnya seperti kaget. “ Ada apa?” Tanya Regan penasaran “ Ya, memang ada siswa seperti itu di sini.” Jawabnya kemudian. Regan mengambil napas lega. Benar, ia hanya parno saja. Tidak mungkin pemuda galak bin jutex tadi adalah hantu gentayangan bukan? “ Kalau boleh tahu, siapa namanya?” Tanya Regan antusias “ Kelas berapa dia?” Imbuhnya “ Apa dia anggota OSIS?” Regan memberikan pertanyaan beruntun, membuat wanita itu mengulas senyum mengerti. “ Kenapa? Apa kau begitu penasaran dengannya?” Tanyanya membuat wajah Regan seketika merona. “ Namanya Alankar, dia siswa kelas 2 Ipa di sini. Ya, dia anggota OSIS, dan salah satu murid ibu juga. Dari mana kau mengenalnya?” Tanya Miss. Jenn Regan mengulas senyum Alankar? Nama yang unik dan sesuai dengan kepribadiannya yang menawan Miss. Jenn mengulas senyum melihat Regan yang terdiam melamun Hanya dengan mengetahu namanya, Regan sudah dibuat senyum senyum sendiri. Hingga ia tidak menyadari, suasana di sekitarnya berubah. Regan hanyut dalam diam. Hingga... “ Kau di sini?” Sapa seseorang memegang pundaknya, menyentakkan lamunan Regan yang langsung berdiri dengan wajah kesal. Kleo? Kenapa harus datang di saat seperti ini? “ Aku bertanya, kenapa kau di sini? Kau masih punya telinga kan? Ini ruang OSIS. Bukan tempat bermain.” Celetuk pemuda itu dengan tatapan tajam Regan menghela napas panjang, melihat ke sekitarnya, keningnya mengernyit melihat ruangan itu sepi, tidak ada seorang pun di sana. Lalu ke mana perginya Miss. Jenn? “ Tadi aku mengobrol dengan guru sejarah di sini.” Jawab Regan “ Pak Adi?” Tanya Kleo mengernyit “ Tapi tadi pak Adi ada informasi tidak bisa masuk karena demam.” Pemuda itu heran “ Bukan, tapi Miss. Jenn.” Jawab Regan “ Apa?” Kleo terlihat kaget Regan mengernyit “ Kenapa?” “ Kau yakin dengan nama itu?” Tanya Kleo memastikan “ Tentu saja. Dia mungkin baru ke luar dari sini.” “ Hahaha, kau pikir kau bisa menakutiku Hmm? Kau salah orang Regan. Cepat kembali ke kelasmu dan jangan datang ke sini lagi dengan cerita horor gak jelas!” Perintah Kleo “ Aku tidak bercanda.” Regan mengernyit tak suka “ Lalu apa? Kau pikir kau siapa? Anak indigo hingga bisa bicara dengan guru yang sudah meninggal 25 tahun yang lalu begitu? Mentang mentang nama Miss. Jenn populer di sini sebagai urban legend? Ke luar sana!” Deg Apa katanya? Meninggal? Apakah Kleo melakukan Prank?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD