“Ia, in aja deh soalnya debat sama kamu capek. Ditanya apa jawabannya apa,” ujar Gaby yang bersungut- sungut dan meminum minuman milik Gali yang tadi baru saja dipesan pemuda itu. Dan tanpa ragu Gali membersihkan sisa minuman yang menempel di bibir Gaby dengan lembut dan halus. Siapa yang tak merasakan salah tingkah yang berlebihan jika sudah seperti ini bukan,
“Kamu itu kalau makan atau minum pelan- pelan aja nggak bisa apa. Kamu itu asal minum kek dikejar rentenir tau nggak sih,” Gaby mengangguk- anggukan kepalanya dan tanpa Gaby sadari ternyata dari sudut bibir Leo tertarik menciptakan senyuman yang paling indah membuat orang yang melihatnya pasti akan tersenyum juga.
***
Senyuman Gaby mengembang kala melihat Gali yang menunggu dirinya di tempat parkir fkip. Teman- temannya sudah pulang duluan. Tetapi Gaji masih tetap stay buat menunggu dirinya itu. Gali berjalan menemui dirinya dan tersenyum dengan langkah yang cool membuat ketampanan Gali berkali lipat bertambah.
“Kalian kok lama bangat pulang?” tanya Gali yang masih memperhatikan teman- teman sekelas Gaby pulang dengan canda tawa. Namun dia juga tampak mencari seseorang. Tetapi tak kunjung ketemu. Gaby yang heran dengan tingkah Gali juga mengikuti bagaimana kelakuan Gali yang seolah- olah mencari orang juga.
“Kenapa?” tanya Gaby. Gali tak menyahut, dan mengalihkan pandangannya untuk menuruni tangga. Membuat Gaby mengerucutkan bibirnya kesal. Membuat Gali heran dan menatap dia bingung,
“Ayo!” ajak Gali yang seperti tak terjadi apa- apa dengan Gaby. Padahal uka Gaby sudah kesal karena pertanyaannya tidak dijawab oleh Gali tadi. gaby hanya menyilangkan tangannya didepan dadanya itu dengan malas dn ngambek. “Kamu kenapa sih? Aneh bangat. keknya kamu harus minum obat,” ucap Gali yang asal.
“Cepat woy. Nanti aku traktir kamu makan es dung- dung,” mata Gaby berbinar- binar mendengar kata itu kemudian matanya memicing menatap Gali, “beneran? Kamu nggak bohong kan? Awas aja kamu bong. Kujadikan sate kamu.”
“Ia, sejak kapan sih aku bohong. Kamu aja yang suka berbohong sama aku. Aku mah nggak pernah, soalnya kan aku kan anak baik yang menggemaskan dan imut,” jawab Gali yang menunjukan tingkat kepedean yang makin tinggi. Dan Gaby hanya bisa memutar bola mata malas dengan segala perkataan sahabatnya itu.
“Terserah kamu aja deh. Semoga tuhan mengampuni dan menerima segala amal ibadah kamu” ucap Gaby yang pergi menuju motor Gali yang sudah terparkir indah yang bersiap untuk menjemput Gaby. Sementara Gali hanya menatap kepergian Gaby yang mendahului dirinya itu.
Gali memberikan helmnya kepada Gaby. Yang diraih sahabatnya itu. Dia memakai helm dengan perlahan. Lalu menatap Gali yang masih berdiam diri di sampingnya itu dengan tenang cowok tersebut menggunakan jam tangan yang dibelikan Gaby, sewaktu ulang tahun Gali yang ke 19 tahun sewaktu mereka masih SMA. Tetapi sepertinya Gaby tak akan bisa bersama dengan Gali untuk bersenang- senang. Sebab disebelah mereka muncul Feby. Yang entah sengaja atau tidak dia berlari dan menghampiri mereka berdua.
Gali juga melihat keberadaan Feby yang berlari kecil. Gaby semakin tak suka dengan Feby. Padahal sebelumnya mereka adalah sahabat yang terbaik dan selalu bersama jika dalam kuliah. Namun sejak Gali mengatakan kalau dia menyukai temannya itu. Rasa benci menyelimuti dirinya kepada Feby. Dan dia sudah menganggap jika Faby adalah musuhnya untuk sekarang.
Tetapi juga dia sadar. Jika dirinya tak ada ak untuk membenci Feby. Karena Faby tak mempunyai kesalahan apapun kepada dirinya itu. Hanya saja dia yang salah. dia sendiri memilih untuk mencintai Gali dan membuat persahabatan antara Febby dan dirinya seketika renggang hanya karena unsur iri, tak terima dan juga rasa cemburu yang menyerang dihatinya itu.
“Hai,” sapa Gali yang menurunkan suaranya dengan lembut. Bahkan bersama Gaby saja Gali tak pernah membuat suaranya selembut itu. Tetapi Gaby harus bersikap seolah- olah dia tak apa- apa dan tersenyum juga kearah Feby yang melihat dirinya dengan senyuman.
“Kamu belum pulang?” tanya Gali yang sudah berada di hadapan Gaby. Namun matanya tetap fokus menatap manik mata indah milik Feby. Orang yang ditanya hanya menggeleng dengan selimut mungkin. Membuat Gaby jengkel dan ingin membunuh orang itu.
“Belum Leo. Soalnya motorku mogok. Makanya aku mau pesan gojek tapi aku luap paket aku habis, kamu sama siapa? Kalau tumpangan kamu kosong aku bisa nggak numpang?”
Gaby kesal dengan permintaan wanita yang dihadapannya ini. kenapa dia bertanya hal yang seperti itu. Padahal sudah jelas- jelas Gaby sudah berada didepan motor Gali dan bersiap untuk pergi dibonceng oleh Gali. Matanya sudah sakit atau apa. Seharusnya dia sudah tau jika yang akan dibawa Gali adalah Gaby.
“Nggak!” jawab Gaby dengan cepat. Mata Gali langsung melihat Gaby dengan tak percaya. Sementara Feby seolah- olah mengerti dan mengangguk- angguk mengerti. Dia pergi dengan pasrah. Membuat Gaby kasihan. Wanita ini hanya bisa menghela nafas panjang.
“Tunggu!” panggil Gaby. Dia membuka helm yang sudah dipakai dirinya itu, dan memberikan kepada Feby. Gaby berharap jika Gali akan menghentikan aksinya. Namun tidak, Lagi hanya tersenyum dan mengangguk- angguk senang. Sementara Gaby menatap pria itu dengan kecewa. Yang membuat Gali tersadar bahwa dia tak seharusnya memilih Feby.
“Gab!”
“Aku mau jalan kaki. Lagian rumah aku dekat kok. Kamu pergi aja sama dia,” potong Gaby dengan cepat, dia tak mau sebenarnya melihat kemesraan antara Gali dengan Feby. Tetapi dia juga tak bisa melarang semua itu. Karena itu adalah hak mereka bukan. Dan sebagai sahabat dia harus mendukung sahabatnya itu.
Gali menatap Gaby dengan menyesal dan hati tak enak, “Sory ya. Tapi lain kali aku pasti akan antarkan kamu pulang kok!” yang hanya dibalas dengan senyuman oleh Gaby.
Gaby memukul bahu temannya dengan pelan, “santai aja. aku nggak butuh janji, yang aku butuh kepastian dan juga action,” selepas mengatakan hal itu dia pergi meninggalkan dua orang tersebut. Dengan berjalan air mata Gaby perlahan keluar. Air matanya yang sudah tak bisa dia tahan lagi.
Gali memandangi Gaby yang sudah pergi menjauh dari dirinya itu. Sebenarnya dia juga tak mau jika sahabatnya harus jalan kaki di terik matahari sekarang. Ditambah lagi jika Gaby mempunyai sakit yang tak bisa terlalu capek. Namun juga dia tak bisa menolak permintaan gebetannya itu.
“Ya, udah kita pergi sekarang ya!” Feby mengangguk- angguk dengan senang dengan cepat dia menaiki motor milik Gali dan tak lupa memeluk pinggang Gali. Yang membuat Gali tersenyum malu- malu. dia tak pernah menyangka jika Feby akan langsung memeluk dirinya itu