Gaby Cemburu

1059 Words
Gaby melihat dari kejauhan apa saja yang dbuat Leo kepada Feby. Rasa sakit yang tak terhankan. Namun bodohnya dia tetap melihat hal tersebut sampai. Air matanya keuar untuk meberitahukan bahwa dia sangat mencintai Gali dan tak terima jika temannya itu harus bersama dengan orang lain. Menurut dirinya itu Cuma Gaby yang bisa memiliki Gali. “Kamu coba deh. Pasti kamu suka, ini adalah makanan kesukaan aku. Nggak da deh tandingannya kalau makanan disini,” ucap Gali yang mengaduk makanannya. Sementara Feby hanya tersenyum malu- malu kala Gali memberikan perhatian kepada dirinya itu. Sudah berapa lama dia menginginkan hal itu. Namun baru kali ini kesampean. Tetapi tak apa apa yang penting terwujut sudah doanya itu. Gali menyuapkan makanan kepada Feby yang disambut Feby dengan malu- malu dan tak enak. Karena baru kali ini seorang Gali memberikan makanan yang seperti itu kepada dirinya. “Gimana enakkan?” tanya Gali. Yang dibalas dengan anggukan saja dan menelan dengan penuh penghayatan sekali. “Nggak, aku harus kuat. Nggak boleh Gaby. Lagian dia Cuma sahabt kamu. Lupan Gali Gaby. Banyak cowok yang suka kamu. Kenapa kamu harus memilih dia. seperti tak ada pria lain saja,” Gaby berusaha mengelak dan untuk berpura- pura seolah- olah tak terjadi apa- apa dengan dirinya itu sendiri. Meskipun dia merasakan kesakitan yang amat dalam. Tanpa disengaja Feby melihat Gaby yang tengah menatap mereka. Dengan senyuman yang berbinar dan tanpa ragu dia memanggil Gaby yang masih berdiam diri disitu, “Gaby!” panggil Feby saat itu juga. Gaby yang tadinya bengong mendadak sedikit terkejut dengan panggilan Feby. Dan dengan cepat dia menghapus air matanya dan tersenyum kepada teman- temannya itu. “Sini!” ajak Feby. Gaby mengangguk- angguk saja dan pergi kearah mereka, dan dengan cepat dia berlari, tanpa melihat jalan. “Awas hati- hati. Jangan lari!” Gali yang melihat Gaby berlari- lari terlihat khawatir dan was- was kepada temannya itu. Dan ya apa yang dikatakan Gali itu benar. Gaby yang tak melihat batu membuat dia tersanjung dan terjatuh. “Tuh, kan!” Gali terkejut dan melihat Gaby yang terjatuh didepan sana gara- gara tersandung batu. Bandel bangat sih Gaby. Udah dibilangin masi aja ngeyel. Untung saja Gali dengan sigap bangkit dan menolong Gaby saat itu juga. Feby yang melihat bagaimana perhatian Gali kepada Gaby. Ada rasa sedikit iri kepada Gaby. Melihat kekhawatiran Gali. Ada raa bahagia dari hati Gaby lantaran Gali yang masih perhatian kepada dirinya itu. Bahkan dia sampai rela mengangguri crushnya yang ada didepan sana. Dengan senyuman yang licik dia menggunakan alasan terlukanya itu untuk mencari perhatian kepada Gali. “Aduuuuuhhhh, sakit bangat! Gali luka kaki aku,” Gaby berpura- pura esakitan dan meringis melihat lukanya yang tak terlalu lebar atau dalam hanya goresan kecil. Tetapi jika tida begitu. Pasti dia akan dicueki Gali lagi. “Kan udah kubilang. Jangan lari- lari awas jatuh. Tetap saja kamu nggak dengar. Makanya kalau orang ngomong itu didengarin janga dijadikan radio yang rusak. Radio rusak aja kamu dengar masa suara aku yang merdu ini nggak kamu dengar?” Leo mengomeli Gaby. Dirinya berjongkok dan melihat luka Gaby yang masih mengeluarkan cairan merah itu. Bukan Cuma lututnya Gaby saja yang dia lihat tetapi juga kepalanya Gaby. Membuat Gaby tersenyum dengan bahagia. “Ia, maaf!” Gaby mengerucutkan mulutnya dan membuat mukanya seolah- olah memelas dnegan pupy eyes sebagai ciri khas tersendiri bagi dirinya yang membuat dirinya semakin gema dihadapan Gali. Namun untuk kali ini Gali tak akan melihat kelucuan, ataupun kegemasan dari diri Gaby. Karena hanya kecemasan saja yang dia rasakan kepada sahabatnya itu. “Sakit! Nggak bisa jalan,” Feby kaget dengan cara Leo yang memperlakukan Gaby seperti tuan putri, dan tanpa ragu menggendong temannya itu. Tanpa mempedulikan omongan orang yang melihat dirnya itu. Padahal yang terluka hanya lututnya saja itupun kecil. Dia meletakkan dengan Gaby dikuri yang tadi dirinya itu duduki. “tunggu sebentar ya. Aku pergi cari obat dulu, kalian disini saja,” Gaby dan Feby serentak mengangguk- angguk saja. Selepas kepergian Gali. Gaby dengan enteng memakan nasi yang sudah dimakan Gali. “Kok kamu makan sih?” tanya Feby yang heran kepada Gaby. Tak ada rasa jijik dengan makanan bekas Gali. Gaby tak menjawab kerjaannya hanya makan saja tanpa mempedulikan apa yang dikatakan Feby itu. “Kamu kok makan ini? padahal kan kamu udah beli nasi?” “Lah kenapa emangnya, kan Gali teman aku. Kamu nggak terima?” tanya Gaby yang ketus kepada Feby. Mednegar jawaban dar Gaby. Muka Feby terlihat terkejut dan heran dengan apa yang barusan dikatakan temannya itu. Karena Gaby tak pernanh mengatakan hal ini sebelumnya. Tak berselang lama. Gali datang dengan membawa obat p3k dan juga kapas untuk mengobati luka Gaby itu. Ada rasa bersalah sih kepada temannya itu. Dikarenakan dia membuat temannya itu capek dan keringatan dibawah teriknya matahari siang tersebut. “Mana kakimu!” suuh Gali yang berjongkok dan mengambil alkohol dari bugkusan hitam tersebut. Dan menuangkan kedalam kapas yang kering itu. Dengan prlahan Gali membersihkan luka temannya itu. Senyuman Gaby terpancar jelas dari tatapannya itu. Dia berharap akan selalu seperti ini dengan Gali. “Sakit nggak?” tanya Gali yang khawatir dengan pedih yang akan ditimbulkan dari alkohol itu. Tetapi Gaby hanya menggeleng dan Gali melanjutkan kerjaannya itu, sampai luka Gaby bersih dan siap untuk ditutup dengan tempel luka. “Selesai!” ucap Gali yang melihat luka Gaby tersebut. “Huwa makasih banyak ya bestiee. Kamu adalah teman terbaik aku. Oh ya aku udah makan nasi kamu, aku mohon maaf ya. Soalnya aku lapar bangat,” muka Gaby terlihat penyesalan. Dan Gali hanya tersenyum seraya mencubit hidung Gaby dengan gemas, “Udah nggak papa. Lain kali jangan gitu ya beb. Oh ya Feb kamu udah siap makan?” tanya Gali yang melihat kearah Feby. Makanan Feby masih banyak. Dia berharap bahwa dia akan menghabiskan makanannya bersama- sama dengan Gali. Tetapi tampaknya Gaby sudah menghancuran harapan yang tadi ia idam- idamkan. muka Gaby yang melihat kearah Faby juga tak ada rasa penyesalan yang terlihat. Dia bersikap biasa saja. “M…. maafin aku ya. Aku nggak bisa temani kamu makan sampai selesai. Tapi kalau kamu mau aku bisa kok pesan sekali lagi,” ucap Gali yang tak enak kepada Feby. Namun Gaby tak akan semudah itu. Membiarkan temannya bersama dengan wanita lain. “Gali antar aku pulang dong. kaki aku sakit bangat,” pinta Gaby. Gali ingin menolak namun dia juga tak bisa membiarkan temannya yang kesakitan berjalan sendirian
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD