Bab 2

1571 Words
Sepanjang hari Wilis tak henti-hentinya melamun. Setelah menangis lebih dari dua jam, Wilis masih saja sesekali meneteskan air mata. Sekarang harapannya untuk bisa bersama Arga bisa dibilang tertutup. Beruntung dia bisa izin sakit sehingga tidak perlu melayani customer dan beristirahat di ruang karyawan. ‘Kenapa aku nggak tahu kalau Mas Arga punya pacar? Kenapa tahu-tahu mau tunangan?’ batin Wilis merintih. Rasa sakit mendengar Arga akan bertunangan jauh lebih perih daripada saat tangannya terkena irisan pisau saat mengiris bawang. Air matanya bahkan tak juga habis meski terus mengalir sepanjang pagi. “Wil, kamu kenapa, sih? Kalau kamu sakit pulang aja, ya. Aku anterin pulang mau?” tanya Nadia, teman kerja Wilis. Wilis menggeleng, dia tidak bisa pulang dengan keadaan seperti ini. Bisa-bisa ibunya panik melihat mata yang bengkak dan wajah sembab Wilis. “Nad, Mas Arga mau tunangan,” ucap Wilis dengan suara parau. Sejak pagi Wilis berusaha untuk memendam ini sendiri, tapi ternyata dia tidak sekuat itu. Selama ini Nadia memang selalu menjadi teman curhat Wilis yang ia percaya. Bahkan hanya Nadia yang tahu Wilis menyimpan perasaan selama bertahun-tahun pada Arga. Nadia sebenarnya sudah menduga hal ini akan terjadi cepat atau lambat. Dia sudah sering membujuk Wilis untuk menceritakan perasaannya pada Arga, tapi Wilis tidak pernah memiliki keberanian untuk mengatakan pada Arga tentang apa yang ia rasakan pada laki-laki yang menjadi teman kakaknya itu. “Kalau dia jodoh kamu, maka Arga akan menjadi suami kamu apapun yang terjadi. Namun kalau Arga bukan jodoh kamu, sebesar apapun perasaan kamu sama Arga harus kamu lupakan, Lis.” “Rasanya sakit banget, Nad. Kamu nggak akan paham, aku sayang banget sama Mas Arga.” “Kalau kamu emang sayang dan pengin bersama sama Arga, harusnya sejak dulu kamu bilang perasaan kamu dan kejar dia. Sekarang nggak ada gunanya kamu nangis.” “Kamu nggak tahu apa-apa, Nad!” ucap Wilis putus asa. Dia sadar sepenuhnya apa yang Nadia ucapkan itu memang benar. Sejak dulu Nadia selalu benar, hanya Wilis yang salah karena tidak memiliki keberanian. Dia berlari ke kamar kecil untuk memuaskan tangisnya. Dia memiliki banyak ketakutan jika mengungkapkan perasaannya pada Arga. Dia takut Arga tidak menyukainya lalu jadi menjaga jarak dengannya. Dia takut Arga tidak lagi peduli padanya, takut Arga juga menjauh dari kakaknya karena ingin menjaga jarak dengannya, dan sederet ketakutan yang lain. Termasuk Arga yang akan bersikap canggung karena tidak enak hati menolaknya. Wilis selalu melihat Arga dikelilingi oleh wanita yang anggun, cantik, cerdas dan penuh percaya diri. Tidak seperti dirinya yang hanya bisa dandan ala kadarnya. Kecerdasanya juga pas-pasan. Mengharap Arga melihatnya sebagai wanita hanya seperti pungguk merindukan rembulan. ‘Salahku karena pengecut,’ batin Wilis. Dia menyapu air mata terakhir yang menetes di pipinya, dia harus bahagia saat orang yang ia sayangi bahagia bukan? Gadis manis tu pun menegarkan hati dan menguatkan tekad agar nanti malam dia bisa tetap tersenyum saat menghadapi calon istri Arga. ‘Mungkin kau akan segera menjadi milik orang lain, tapi ijinkan aku tetap menyimpan namamu di dalam dasar hatiku.’ ‘Mungkin kita hanya akan berakhir sebagai teman, tapi dalam hati kau akan selalu menjadi mentari.’ ‘Untuk sementara, biarkan aku dan sejuta ilusiku tentangmu tetap hidup dalam bayanganku sendiri.’ Wilis yang terlihat tegar saat di depan Arga hanya gadis muda yang lemah saat berada di depan orang yang ia sukai. DI depan Arga, Wilis seperti putri malu yang tersentuh ujung jari. Dia akan menguncup dan menutup. Namun, di balik sikapnya yang diam dan tertutup itu, ada seribu asa yang berkembang kala melihat pujaan hatinya. Ah, biarkan Wilis dengan angan-angannya yang tak ingin ia tunjukkan. Dia memang seperti itu. Ribuan nasehat yang Nadia berikan padanya tak satupun yang mampu membuat Wilis bergerak menunjukkan perasaannya. Jangankan untuk bicara tentang perasaan di depan Arga, menanyakan kabar saja sudah membuat Wilis gemetar. Seakan semesta juga menentang keinginan Wilis, saat dia sengaja melamar kerja di tempat yang sama dengan Arga, dia diterima tapi ditempatkan di kantor cabang yang berbeda dengan Arga. “Wilis, maaf. Aku bukannya mau menambah garam di luka kamu, tapi aku hanya ingin kamu kuat. Itu aja,” ucap Nadia yang menyusul Wilis ke kamar kecil. “Kamu nggak salah, Nad. Sejak awal memang aku sendiri yang salah. Bermain-main dengan hati dan perasaanku sendiri dan akhirnya terbakar sendiri.” Nadia memeluk Wilis, dia tahu temannya saat ini pasti sedang sangat patah hati. Nadia tahu bagaimana rasanya patah hati, jadi dia tidak ingin Wilis merasa sendiri saat ia patah hati. “Nanti malam aku temani ke acara makan malam Kak Arga, ya. Pasti berat menghadiri acara nanti malam. Kalau kamu udah nggak kuat, kamu bisa jadiin aku sebagai alasan untuk pulang cepat.” “Makasih, Nad. Kamu emang teman paling baik,” ucap Wilis mengeratkan pelukannya pada Nadia. “Ih, sorry ganggu,” ucap seorang karyawan lain yang hendak menggunakan toilet. Ia terkejut melihat Nadia dan Wilis yang berpelukan di dalam kamar kecil dan segera keluar lagi lalu menutup pintu dengan kencang. Menimbulkan suara berdebum yang keras. Nadia dan Wilis hanya bisa saling menatap kemudian tertawa keras. Kadang ada saja orang yang menilai sesuatu dengan sekali lihat tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi tapi langsung menilai dengan buruk. Tanpa tahu dan mau tahu apa yang sebenarnya terjadi. Seperti orang yang baru saja masuk ke toilet dan melihat Nadia dan Wilis sedang berpelukan. Orang itu pasti mengira Nadia dan Wilis yang tidak-tidak sampai kabur begitu saja. “Udah, Lis. Abaikan aja, nggak penting,” ucap Nadia. Wilis hanya mengangkat bahu, dia memang tidak peduli pada penilaian orang lain. Wilis hanya peduli pada penilaian Arga. Saat jam istirahat siang, Wilis dan Nadia tidak pergi ke kantin. Wilis saat ini ingin makan sesuatu yang panas, pedas dan berkuah. Dia ingin melampiaskan sakit hatinya dengan makan. Mereka berdua memutuskan pergi sedikit ke depan area perkantoran dan makan di warung soto Pak Kumis. Soto daging di sana sudah terkenal enaknya dan menjadi langganan Wilis saat emosinya sedang kacau. Kuat sotonya segar dan dagingnya sangat lembut. Setelah memesan, mereka berdua duduk di bangku yang tersedia. Antriannya lumayan banyak, jadi mereka harus menunggu sedikit lebih lama. Sembari menunggu, Wilis membuka ponselnya. Dia cukup kaget saat ia melihat pesan yang dikirim oleh Argo. Argo : [Wilis, kamu udah nangis belom?] Argo : [Wilis, aku mau ralat pesanku yang tadi pagi] Argo : [Wilis, jangan marah, ya. Sebenarnya acara nanti malam hanya makan-makan biasa, bukan acara Bang Arga yang mau ngenalin ceweknya.] Argo : [Hahaha] Argo : [Please, jangan bilang kamu abis nangis seharian ini! Aku akan merasa sangat bersalah kalau itu benar.] Wilis meremas ponselnya. Seandainya Argo ada di depannya saat ini maka sudah pasti ponsel miliknya sudah terbang ke wajah Argo. Sia-sia dia menangis dari pagi ternyata hanya di prank oleh si begundal Argo. Wilis menarik napas dalam-dalam menenangkan detak jantungnya yang berpacu dengan cepat. Dia tidak ingin terkena serangan jantung mendadak karena kesal pada makhluk iseng yang niat sekali ingin dihujat. Nadia yang melihat Wilis memegangi d**a kirinya dan bernapas dengan berat segera mendekati sahabatnya dan bertanya dengan panik, “Lis, kamu kenapa? Kamu baik-baik saja, kan?” Wilis membuang napasnya dengan perlahan saat akan menjawab pertanyaan Nadia. “Aku ... baik ... baik ... saja.” “Tapi muka kamu nggak terlihat baik-baik aja. Apa ada kabar buruk, coba aku lihat,” ucap Nadia seraya mengambil alih ponsel milik Wilis. Baru sesaat memegang ponsel Wilis, Nadia sudah tertawa terbahak-bahak. Dia tidak bisa menahan tawanya terlebih saat melihat emot yang dikirim oleh Argo. Dia kenal Argo karena seringnya Wilis bercerita tentang Argo, adik dari gebetan Wilis. “Astaga, Argo. Dia pasti tahu kamu naksir sama kakaknya, terus dia cemburu dan usil ngerjain kamu, deh,” ucap Nadia mash diselingi tawa yang membahana hingga menarik pengunjung warung soto Pak Kumis yang lain. “Anak itu memang sengaja ingin memulai perang denganku,” jawab Wilis. Dia masih berusaha mengatur pernapasanya agar tetap tenang. “Pftt ... maaf, Lis. Aku nggak bisa nahan ketawa. Kamu harusnya lihat gimana cara kamu nangis tadi. Hahaha ... ternyata prank.” Wilis mengabaikan tawa Nadia, saat ini otaknya sedang bekerja keras untuk memikirkan pembalasan yang tepat bagi Argo karena sudah berani memperdayainya. “Wilis, kamu jangan marah sama Argo, ya. Siapa tahu dia hanya ingin menyadarkan kamu. Ini yang akan terjadi kalau kamu nggak kunjung mengungkapkan perasaan kamu sama Arga. Udah, deh, Lis. Kalau kamu emang beneran suka sama Arga, kamu bilang aja sama Arga. Mau diterima atau ditolak itu udah resiko, seenggaknya kamu bisa lebih lega,” ucap Nadia. Entah ini nasehat yang ke berapa kali sudah tidak Nadia ingat. Wilis menatap Nadia lekat-lekat, ucapan Nadia selalu benar. Bisa saja ini memang akal-akalan Argo saja untuk menyadarkannya. Mungkin, Argo memang sudah lama mengetahui cinta yang terpendam darinya untuk Arga. “Aku ... akan bicara.” “Serius? Alhamdulillah, akhirnya pikiran kamu terbuka juga. Seharusnya Argo nge-prank kamu sejak dulu aja. Jadi, kamu nggak usah terlalu lama memendam perasaan tak bertuan.” “Aku mau bicara sama Argo bukan sama Mas Arga.” Wajah Nadia mendadak langsung bete, dia pikir Wilis akan bicara dengan Arga, tahunya bicara dengan Argo. “Hmmm, apa gunanya bicara dengan Argo. Kamu itu sukanya sama Arga jadi bicara sama Arga, bukan sama Argo!” ucap Nadia yang terpicu emosinya. Kalau bukan karena sedang menunggu pesanan soto, pasti Nadia sudah pergi meninggalkan Wilis. Wilis tidak peduli dengan kekesalan Nadia, karena saat ini otaknya dipenuhi oleh satu nama yang membuatnya kesal setengah mati. Seandainya memungkinkan, Wilis pasti sudah berteriak menyebut nama orang yang membuatnya kesal. “ARGO!!!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD