BAB 7 - Rooftop

1239 Words
Seluruh keluarga sudah berada di bawah untuk sarapan. Begitu juga dengan Vania dan Riko yang tengah duduk di sebuah meja menunggu kedatangan Vanya dan Evan. Entah berapa kali Vania menoleh ke arah pintu, menunggu kedatangan Vanya. Ia ingin melihat bagaimana keadaan adiknya. Terakhir Vania dengar kalau Vanya sedang tidak enak badan. "Sayang di makan, kenapa diam?" tanya Riko. "Bukan urusanmu!" ucap Vania yang terus menantikan kedatangan Vanya. Riko sedikit kesal karena sikap Vania yang kasar padanya. Di tambah semalam mereka tidak melakukan hubungan layaknya suami istri di malam pertamanya. Vania meminta pisah kamar, dia tidak mau satu ranjang dengan Riko. Tidak bisa menolak permintaan Vania, Riko pun mengiyakan keinginan istrinya. Tidak mau gegabah dengan wanita yang seperti Vania. Riko harus tetap menjaga sikapnya, hingga waktu yang telah ditentukan. "Van, kita sedang berada di tempat umum. Tolong jaga sikapmu, jangan memperlihatkan hubungan pernikahan kita yang sebenarnya seperti apa," bisik Riko. Vania mendengus kesal, ia mengepalkan tangannya. Setelah ini, dia harus secepatnya mencari kejahatan Riko agar bisa segera mengungkap ke publik, sebelum dia melakukan hal yang benar-benar merugikan banyak orang. Vania mulai memasukkan makanannya ke dalam mulut. Suasana di sana cukup ramai di mana para orang tua sedang mengobrol, membicarakan acara pernikahan kemarin. "Van, kemana Vanya? Kenapa dia belum ke sini?" tanya Damar. Vania terdiam sejenak, ia cukup bingung untuk menjawab apa. Karena pasalnya Damar tidak tahu kalau Vanya masih tetap marah padanya karena pernikahan ini. Melihat Vania yang masih tetap diam, Riko berinisiatif menjawab pertanyaan dari mertuanya. "Mungkin masih di kamar pah, maklum pengantin baru," jawab Riko sambil tersenyum penuh arti. Damar yang mengerti itu pun, terkekeh pelan. Dia sangat memaklumi bagaimana pengantin baru. Pantas saja Vanya belum keluar kamar, dan satu hal apa yang di takuti oleh Damar, kalau Vanya tidak akan akur dengan Evan ternyata salah. "Kamu benar Riko, kalian juga jangan lupa. Cepatlah berikan cucu untuk kami," pinta Damar yang di sambut dengan angin segar oleh Riko. Berbeda dengan Vania yang langsung tersedak. Di depan mertuanya dia harus seperti suami siaga. Riko segera mengambilkan air minum untuk Vania. "Hati-hati sayang, ini minum dulu," ucap Riko sambil menyodorkan minumannya. Vania tidak bisa menolak minum pemberian dari Riko. Mau tidak mau ia meraihnya dan langsung meneguknya. Damar tersenyum bangga pada anaknya, ternyata apa yang di takuti tidak terjadi. Sialnya ternyata lagi-lagi Vanya, melihat sikap manis dari Riko pada Vania. Vanya sudah berada di ambang pintu dengan Evan. Melihat ekspresi Vanya yang seperti itu, Evan pun menawarkan padanya, untuk kembali masuk ke dalam kamar. "Mau masuk ke kamar aja?" tanya Evan. Vanya menggelengkan kepalanya, ia tatap ke arah Evan sambil melingkarkan tangannya pada lengan Evan. "Kita makan di sini saja mas." Evan menaikkan sebelah alisnya, bukannya tidak tahu kenapa Vanya mendadak manja seperti ini padanya. Tentu saja ia ingin memperlihatkan kalau dirinya baik-baik saja menikah dengan Evan. Dan pria yang kini menjadi suaminya pun, mengikuti drama Vanya. "Ok, kalau itu maumu." Mereka berdua masuk ke dalam restoran berjalan menghampiri keluarga mereka. "Nah itu pengantin baru," tunjuk ibu dari Evan. Vanya tersenyum memberikan salam pada semuanya. "Selamat pagi semuanya," ucap Vanya yang menampilkan wajahnya yang seolah bahagia. "Anya, katanya semalam kamu demam? Apa sekarang sudah baik-baik saja?" tanya Linda, mertua dari Vanya. "Sudah baikan kok mah, ini semua berkat mas Evan yang merawat aku mah," puji Vanya sambil menoleh ke arah suaminya. Evan yang mendadak dipuji seperti itu pun, menjadi salah tingkah, terlihat dari pipinya yang sedikit merah merona. "Baguslah kalau begitu, Evan jaga Vanya baik-baik ya," timpal Farid ayah Evan. "Iya pah..." "Kalau begitu sana kalian sarapan dulu, kasihan Vanya pasti harus banyak makan. Biar cepat kembali pulih." Evan dan Vanya pun duduk di satu meja yang sama dengan Vania dan Riko. Vania sama sekali tidak menyapa atau menatap ke arah Vania dan juga Riko. Ia hanya fokus pada makanan yang ada didepannya. "Anya ..." Riko membuka obrolan lebih dulu. Vanya menoleh ke arah pria yang dia cintai, tapi kali ini ada tatapan kesal padanya. "Ya..." Jawabnya. "Selamat ya, atas pernikahan kamu dengan Evan," ucapnya. "Terima kasih, selamat atas pernikahan kalian juga. Semoga bahagia!" balas Vanya dengan penuh penekanan. "Iya, tentu pasti kami akan bahagia, iya kan sayang?" tanya Riko sambil merangkul pundak Vania dengan mesra. Vania terdiam tidak merespon ucapan dari Riko, ia menatap terus ke arah Vanya. Rasa sedih menyelimuti dirinya, ia kehilangan Vanya yang dulu. Sekarang karena satu pria mereka harus seperti ini. Andaikan Vanya tahu yang sebenarnya, mungkin dia tidak akan seperti ini. Ia pun pasti akan melarang Vania untuk menikahi Riko. Tapi apa boleh buat, nasih sudah menjadi bubur. Mau tidak mau Vania harus menelan pil pahit demi menyelamatkan adiknya. Semoga saja Vanya mengerti setelah tahu kebenarannya. Tidak ada obrolan sama sekali saat sarapan pagi. Hingga satu persatu dari mereka meninggalkan restoran. Vanya dan Evan pun beranjak dari tempat duduknya. Namun, saat Vanya akan pergi meninggalkan tempat itu, Vania memanggilnya. "Anya..." Langkah Vanya dan Evan terhenti, ia menoleh ke arah Vania yang berjalan menghampirinya. "Ada apa?" tanya Vanya datar tanpa ekspresi. "Boleh kakak ngobrol sebentar sama kamu?" pinta Vania. Vanya menoleh ke arah Evan, seolah meminta saran padanya. Evan hanya menganggukkan kepalanya pelan memberi izin untuk Vanya berbicara dengan Vania. Ia pikir, mereka berdua memang harus berbicara satu sama lain untuk menyelesaikan permasalahan ini. Karena Evan yakin, ada sesuatu di balik permintaan Vania. "Boleh, silahkan bicara," ucap Vanya. "Kalau gitu ikut kakak. Jangan bicara di sini!" pintanya. Vanya menarik napasnya dalam, ia pun mengiyakan permintaan Vania, untuk mengobrol agak jauh dari sana. Vania memegang tangan Vanya, tapi langsung Vanya hindari. Ia benar-benar tidak mau di sentuh oleh Vania. Vania mengernyitkan keningnya sebentar, heran, terkejut, dan juga kecewa. Sebenci itu kah Vanya padanya? Sampai dirinya tidak ingin di sentuh olehnya. Vania sempat terdiam menatap Vanya dengan tatapan nanar. Tidak bisa memaksa Vania kembali menatap ke depan dan berjalan yang diikuti oleh Vanya. Kini mereka berdua sudah berada di sebuah rooftop. Di mana tidak ada siapa-siapa selain mereka berdua yang ada di sana. "Mau bicara apa?" tanya Vanya. Vania menatap sendu ke arah Vanya. Kini tatapannya tidak seperti dulu lagi. Kali ini tatapan Vanya benar-benar penuh dengan kebencian. "Maaf..." Satu kata yang terlontar langsung dari mulut Vania. "Untuk?" Vanya mengeryitkan keningnya seolah tidak mengerti dengan kata maaf yang Vania lontarkan. "Atas semua yang kakak lakukan padamu, maaf kalau itu semua menyakiti kamu Vanya. Tapi percayalah, Riko tidak sebaik yang kamu pikir." "Kalau memang Riko bukan pria yang baik, Terus kenapa kakak menikahinya?" tanya Vanya. "Itu karena..." "Karena apa? Karena kakak mencintainya juga?" Vania langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, menepis tuduhan Vanya padanya. "Kakak sama sekali tidak mencintai Riko, hanya saja kakak mempunyai rencana untuk pria yang sebejat itu." "Apa buktinya kalau memang Riko itu pria yang tidak baik?" Vania menarik napasnya dalam-dalam. "Akan kakak buktikan, kalau Riko itu bukan pria baik. Dan satu hal lagi, Riko tidak pandang bulu, jika dirinya merasa terancam, dia bisa melayangkan nyawa siapapun!" ucap Vania. Vanya mengernyitkan keningnya, Apa yang diucapkan Vania benar-benar tidak masuk akal baginya. "Kalau begitu kenapa kakak malah masuk ke dalam hidupnya? Kalau ternyata Riko itu adalah pria berbahaya?" "Untuk mencari bukti kejahatannya Vanya. Karena tidak mungkin kalau kita membatalkan pernikahan bisnis itu secara tiba-tiba tanpa bukti nyata. Apa papa akan mengabulkan permintaan kaka? Tentu saja tidak!" jelas Vania. Vanya masih terdiam mencoba mencerna setiap apa yang di katakan keluar Vania. "Memang Riko itu siapa? Kenapa kaka bisa sampai seperti ini?" "Nanti akan Kaka jelaskan, kalau kaka sudah memiliki buktinya. Untuk sekarang kaka—" "Vania ....!" Deg!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD