"Dan gue termasuk cowok pengecut itu," lanjut Zidan. Dia berdiri. "Ayo pergi." "Eh? Ke mana?" "Ke kelas lah. Yakali ke hati gue." Oh? Aku hanya mengangguk lalu mengikutinya di belakang. Mata bulatku menatap punggung lebar Zidan. Benarkah dia menyukaiku? "Aduh!" Hari ini, sudah dua kali hidungku membentur seseorang. Sekarang, aku menabrak punggung Zidan yang tiba-tiba berhenti. "Berhenti kok mendadak gitu." Aku mengusap hidung. Zidan berbalik dan hanya menampakkan cengirannya. "Emm, Sha." "Apa?" sahutku. Dia membuang pandangan ke lapangan yang ramai oleh murid laki-laki yang sedang bermain bola. "Malam ini datang ke pesta ulang tahun gue, ya," ujarnya, "Tapi, ini bukan ajakan lho. Gue maksa." Dia kembali menatapku dengan senyuman miring di bibirnya. Aku terbengong sejenak. Jadi, ha

