“Kok jadi pada lihatin aku?” tanyaku akhirnya merasa tersudut dengan sorot mata menuduh yang diberikan Ayah, Bunda, dan Eyang secara bersamaan. “Sasha kamu yang lain aja diseriusin, yang kayak Ken begini kok dianggurin?” ucap Eyang nyeletuk sambil garuk-garuk kepala. Akhirnya aku mengarahkan pandangan kesalku ke Ken. Ini semua karena dia asal bicara saja, sampai-sampai keluargaku jadi menyudutkanku seperti ini. Namun niat marah hanya angan belaka, memandang Ken yang sedang tersenyum minta maaf padaku membuat aku luluh juga. “Hubungan Sasha sama Ken biar kami aja yang jalanin dulu. Ayah, Bunda, sama Eyang boleh nggak dukung aja? Soalnya Sasha masih ada masalah pribadi yang harus diselesaikan, baru bisa start over fresh,” ucapku kemudian. Saat itulah Sashi masuk melalui pintu utama. Cepa

