Aku terbangun dengan kondisi masih mengantuk karena sulit terlelap semalam. Bagaimana bisa aku tidur lelap, jika setiap kali aku memejamkan mata wajah Ken yang sangat dekat di atas wajahku tadi serta suaranya yang teduh mengucapkan selamat malam sambil mengecup keningku terus muncul. Sejujurnya, aku sedikit menyesali mengapa tidak bersikap lebih agresif lagi. Paling tidak semalam harusnya aku mendapatkan kecupan di bibir karena sudah bisa menghadapi Roy dengan hebat. "Masa aku cuma dapat kecupan di kening saja sih?" gerutuku dalam hati. Sambil tetap menggerutu, aku keluar dari kamar menarik koper kecilku. Sampai di ruang depan, Eyang sudah menungguku dan memintaku lebih cepat sekali berjalan. "Sha kita udah kesiangan nih. Ayo buru dikit dong!" omel Eyang melihatku yang berjalan dengan m

