Tepat setelah meeting selesai, aku dan Ken langsung melaju menuju bandara. Penerbangan kami sudah sangat mepet sekali, karena tadi perkiraan waktu meeting selesai tidak sesuai dengan kenyataannya. Pihak calon klien yang menunjukkan ketertarikan cukup besar, membuat waktu meeting pun akhirnya berlangsung lebih lama daripada yang dijadwalkan. Aku dan Ken pun sudah menerima kondisi ini dan siap mengambil resiko jika memang harus membeli tiket baru, karena hubungan dengan klien jauh lebih penting dari tiket pesawat yang mungkin kami lewatkan. Syukurnya dengan usaha buru-buru, berlari-lari di sepanjang terminal bandara, aku dan Ken masih bisa mengejar pesawat sesuai jadwal kami beberapa menit sebelum gate ditutup. “Yes, nggak perlu rugi beli tiket lagi!” pekikku ketika kami sudah duduk berdam

