Sepeninggal Kaiden, Mine masih terlihat sibuk menyiapkan menu cemilan yang nantinya akan ia bawa ke rumah sakit untuk mengunjungi Arkan.
Setelah selesai mengolah salad sesuai keinginan Papanya, Mine bergegas untuk bersiap-siap pergi. Ia terus bersenandung senang mengingat Kaiden sudah memberinya izin untuk membawa salah satu mobil.
Siap dengan baju yang casual, Mine langsung mengangkut salad buah olahannya lalu pergi menuju Rumah Sakit Medica.
Jam di tangan kanannya menunjukkan pukul 11 siang. Mine masih menggumam ikut menyanyi sesuai dengan lagu yang terputar di mobilnya. Karena jarak antara rumahnya dan Rumah Sakit cukup dekat, Mine pun tiba dalam kurun waktu yang singkat, sekitar 20 menit saja diperjalanan.
Mine memarkirkan mobilnya di basement rumah sakit, lalu setelahnya ia masuk melewati pintu bagian samping. Ketika ia menunggu lift terbuka, tiba-tiba terdengar sayup suara dari orang yang ia kenal, saat ia tidak sengaja menoleh, ia mendapati Kaiden dan 2 temannya sedang berjalan ke arahnya.
Kaiden sempat terkejut melihat Mine, pun dengan Mine, ia juga tidak menyangka akan bertemu dengan pria tersebut saat ini. Kini mereka berempat sedang berdiri berjejer menunggu lift terbuka, Mine yang berdiri di samping Tama pun terpaksa menoleh karena merasa ditatap lama oleh pria tersebut.
"Anaknya dr. Arkan kan?" tanya Tama tanpa basa-basi.
Mine mengulas senyum, "iya," sahutnya pelan.
Tama menutup mulutnya, ia nyaris berseru nyaring, "Aku Tama, nama kamu, siapa?"
Sebelum menyambut uluran tangan Tama, Mine sekilas menatap Kaiden. Pria itu terlihat acuh, membuat Mine mendengus pelan, "Jasmine."
Tama merasakan lembutnya tangan Mine membelai saraf-saraf tangannya, ia pun semakin melebarkan senyumnya. "Mau ketemu dr. Arkan ya?"
Mine mengangguk, "kebetulan kita janjian buat ketemu."
"Ya udah bareng aja, ruangan kita cuma beda 2 ruang kok sama ruangan Papa kamu."
Disty menggelengkan kepalanya mendengar Tama modus pada anak salah satu dokter senior.
Ketika pintu lift terbuka, Tama harus dikejutkan oleh tepukan Kaiden di tengkuknya, ia sempat tidak sadar jika pintu terbuka, namun Kaiden menyadarkannya dengan cara yang terbilang unik, ia pun terkejut dan menoleh cepat ke arah Kaiden sambil meringis, "kok gue dipukul?"
"Gue enggak mukul, cuman nyolek." Sahutan Kaiden membuat Disty tertawa, bahkan Mine pun ikut menahan senyum.
Kini mereka berempat berjalan beriringan. Kaiden di depan bersama Disty, sementara Tama masih sibuk berbincang dengan Mine, hal itu berhasil membuat Kaiden sedikit terusik.
"Jadi kamu baru mau masuk kuliah, jurusan apa?"
"Seni kuliner, Kak, kebetulan udah masuk, ntar minggu depan udah mulai orientasi."
Mata Tama semakin berbinar, "kuliner ya, berarti jago masak dong, waah boleh nih sekali-kali nyobain masakan kam- aaa, bikin kaget aja lu, kenapa balik tiba-tiba sih!" Tama terkejut ketika Kaiden berbalik cepat.
"Lo bukannya disuruh laporan sama dr. Yogie? Ini udah mau jam 12," kata Kaiden.
Tama melirik jam tangannya, "ah iya," ia kembali menoleh ke arah Mine, "ntar ngobrol lagi ya, bye Jasmine."
Mine tersenyum manis, "bye Kak Tama."
Ditinggal Tama, Disty masuk lebih dulu ke ruangan, sementara Kaiden memilih berjalan pelan di belakang Mine. Merasa ditatap oleh orang di belakangnya, Mine pun menoleh, "apa?"
"Kamu suka sama Tama?" tanya Kaiden dengan raut wajah tidak suka.
Mine terkejut mendengar pertanyaan Kaiden, "ngomong apa sih, orang baru kenalan juga, masa iya langsung suka."
Kaiden tidak lagi menanggapi, ia hanya berjalan menuju ruangannya meninggalkan Mine begitu saja, membuat Mine kembali mendengus sebal, "kenapa sih, aneh banget."
***
Di ruangan Arkan, Rose sudah membuat suasana menjadi panas, pasalnya, ketika melihat Putri semata wayangnya datang, ia tiba-tiba memeluk heboh lalu menangis.
"Anak Mama, Mama kangen banget, kenapa enggak pulang ke rumah."
Arkan menatap Rose malas, "ya kan baru nikah, Sayang, masa iya di suruh sering pulang ke rumah, mereka punya rumah sendiri."
Rose mendengus jengkel, "tapi kan komplek rumah kita sama mereka itu enggak jauh, Arkan."
Arkan sudah hendak menyahut, tapi Mine dengan cepat menengahi, "Mine baru dikasih mobil sama Kak Kaiden Ma, ntar kalo Mine ada waktu, pasti pulang buat jenguk Mama."
Rose menatap sedih ke arah anaknya, "harus ya Mine, Mama enggak kuat kalo lama enggak ketemu kamu."
Keluarga kecil itu berkumpul hingga jam makan siang selesai. Arkan punya jadwal operasi pada jam 2, begitupun Rose yang katanya punya janji arisan bersama Saffa. Kini tinggal lah Mine yang berjalan menuju keluar, saat ia hendak menuju basemen, ponselnya terasa bergetar, ia pun merogoh tasnya untuk mengambil ponsel tersebut.
Kaiden : Masih di Rs?
Mine mengerutkan keningnya saat membaca pesan dari Kaiden, "tumben ngirim pesan." Ia pun membalasnya.
Mine : Baru mau pulang, sudah ada dekat basement.
Kaiden : bawa makanan enggak? aku lapar.
Mine : Yah abis, kafetaria kan banyak makanan.
Kaiden : Yaudah...
Mine terdiam sejenak setelah mendapati pesan dari Kaiden, karena merasa bersalah, Mine pun kembali mengetikkan pesan singkat sebagai balasan dari pesan terakhir Kaiden.
Mine : Aku bakal balik lagi ntar, aku bakal masak di CandleLight, bisa nunggu bentar kan?
Mine bergegas berjalan menuju mobilnya, dan ketika ia masuk mobil, ia membuka ponselnya lagi, ternyata Kaiden kembali membalas.
Kaiden : Enggak usah balik ke Rs, biar aku yang ke CandleLight.
***
Kaiden menyelesaikan pekerjaannya lebih cepat hari ini. Hal itu membuat Tama dan Disty menatapnya terheran-heran.
"Udah selesai lo?" tanya Tama.
Kaiden mengangguk, "emangnya lo, pengabdi santai."
"Terus sekarang mau ke mana? Kok siap-siap?" Kali ini Disty yang bertanya.
"Hah? Aahhh, mau pulang, ada perlu," sahut Kaiden gagap.
Disty menyerngitkan keningnya menyadari jika Kaiden menyembunyikan sesuatu, ia pun kembali menggali dengan bertanya, "yakin pulang? Enggak mampir ke mana gitu?"
Kaiden terdiam sejenak, ia menatap Disty lekat lalu tersenyum, "pulang kok, tapi entar mampir dulu."
"Mampir? Ke mana?"
"Lo kayak pawangnya aja, Dis, Kaiden udah gede, lagian ini bukan London lagi, yang mana kalo Kaiden ilang dia bisa jalan ke klub, ini Indonesia, klub nggak ada yang buka kalo siang." Tama menyelamatkan Kaiden dari selidikan Disty.
Merasa keadaan sedikit longgar, Kaiden pun dengan cepat berpamitan lalu keluar ruangannya. Ia bergegas berjalan menuju basement lalu mengemudikan mobilnya menuju CandleLight.
Tidak berjarak jauh, Kaiden tiba di CandleLight kurang dari 30 menit. Ia masuk ke dalam lalu langsung berjalan mencari Kayara.
"Tumben kesini, lapar lo?"
Kaiden menaruh tas di sofa ruangan Yara lalu memeluk adik 15 menitnya itu, "emang lapar doang gue boleh ke sini."
Kayara menggeliat pelan, ia menatap Kaiden curiga, "Mine juga datang, dia langsung jalan ke dapur, katanya mau masak, enggak tau mau masak buat siapa."
Kaiden melebarkan senyumnya, ia tersenyum bangga pada Kayara sambil menyahut, "Mine itu udah duet, kalo dia masak, jelas buat pasangannya, emang lo, masih solo."