Sandra menyerahkan sebuah undangan berwarna cokelat dengan aksen pita yang mempercantik desain dari undangan itu kepada Danny yang baru saja menjatuhkan tubuh di sofa “Ini apa?” tanya Danny bingung. “Buka aja.” “Undangan pernikahannya Kemal,” gumam Danny setelah membaca nama yang tertera di undangan dan tanggal pernikahan digelar. “Hari Minggu besok? Kenapa baru kasih tahu sekarang? Kamu ini kebiasaan,” protes laki-laki itu. Namun, seolah tak mendengarkan protes dari Danny, Sandra berkata, “Kamu mau datang sama aku, kan, Mas? Atau aku boleh datang sama orang lain?” Danny memandang Sandra dengan tatapan malas. Sebelum menyahuti, Danny mengistirahatkan tubuh dengan bersandar malas di punggung sofa. “Memangnya kamu mau pergi sama siapa lagi kalau bukan sama saya, Sandra? Selai

