Takdir seperti tengah mempermainkan Sandra semenjak pertemuan dengan Danny di rumahnya yang sudah lebih dari tiga bulan berlalu. Doa yang setiap hari ia panjatkan– bahwa dia tidak ingin dipertemukan lagi dengan satu sosok itu, secara sengaja maupun tidak sengaja–nampaknya belum tersampaikan dengan jelas.Padahal hanya satu hal itu yang sangat ia inginkan. Namun, ternyata semua sia-sia. Tampaknya Tuhan masih ingin bermain-main dengan kembali mempertemukan dirinya dan Danny setelah dua bulan yang lalu mereka bersua di bioskop, yang berakhir menggantung. Danny yang ingin berteman, sementara Sandra yang begitu ingin melupakan.
“Belanja apa, Sandra?” tanya Danny.
Ya! Mereka bertemu lagi di supermarket. Kalau ini merupakan adegan dalam sebuah cerita atau film, sudah tentu akan mendapat sorakan dari banyak orang. Terlalu pasaran! Terlalu klise! Nggak asyik! Sangat membosankan! Ya, memang begitulah hidup. Penuh dengan hal-hal yang pasaran dan klise.
Sandra melirik pakaian santai yang dikenakan Danny sore itu. Polo shirt biru dongker dipadu dengan elana pendek berwarna hitam. Kakinya dibalut sandal. Terlihat seperti laki-laki berusia dua puluhan. Sandra hampir saja terpukau, namun buru-buru memperingatkan diri sendiri.
“Belanja bulanan. Banyak yang dibeli,” jawab Sandra akhirnya dengan singkat.
Tidak perlu ia menjelaskan apa-apa saja yang ia beli, bukan? Danny tidak perlu tahu dan Sandra juga tidak mau repot memberitahu. Sandra yakin kalau Danny hanya basa-basi. Basa-basi yang sangat tidak kreatif.
“Sama." Tanpa ditanya, Danny menunjuk troli dengan gerakan kepala. "Kamu sendirian?” tanya Danny kemudian sambil celingukan.
“Ya. Ribet kalau bawa teman,” ujar Sandra dengan jujur.
Bagi Sandra, berbelanja bulanan dengan orang lain memang kurang mengasyikkan. Selalu diburu-buru atau terlalu lambat menghabiskan waktu. Sandra lebih suka sendiri. Tetapi akan berbeda kalau window shopping. Mau diajak keliling sana sini, ataupun berlama-lama di satu tempat pun Sandra akan senang-senang saja.
“Jadi, gimana dengan tawaran saya yang terakhir? Tertarik?”
Sandra yang baru akan kembali melanjutkan belanjanya itu langsung terhenti. Ia memang tidak terlalu suka basa-basi, tetapi saat ditembak langsung dengan pertanyaan yang agak ekstrem jelas mengesalkan.
“Sorry?” Sandra tahu betul maksud pertanyaan Danny. Hanya saja ia masih belum terbiasa dengan Danny yang ceplas-ceplos tidak tahu tempat.
“Berteman, Sandra,” tandas Danny mengingatkan.
Sandra menegakkan tubuh dan bersedekap. Ia menatap Danny dengan tatapan yang terlihat begitu serius. “Saya nggak yakin bisa temenan sama kamu.”
“Kenapa?” Danny mengernyit heran.
“Nggak semua hal perlu alasan," tandas Sandra.
“Saya tahu ada alasan kenapa kamu nggak mau berteman sama saya dan saya mau dengar alasan kamu.”
“Kamu nggak perlu tahu.”
“Tapi saya mau tahu,” ujar Danny. Nada datar dalam suaranya itu benar-benar membuat Sandra kesal
“Terserah kamu aja. Minggir! Kamu ngehalangin jalan,” ucap Sandra sambil mendorong troli dan berjalan menjauhi Danny.
Berdebat dengan Danny hanya akan membuang waktu. Dan Sandra tidak punya banyak waktu hanya untuk meladeni manusia batu yang ternyata suka memaksa itu.
“Kamu jangan galak-galak, Sandra. Nggak cocok sama kamu!” seru Danny dari belakang punggung Sandra. Jangan bayangkan suaranya akan meninggi. Tidak sama sekali. Nadanya tetap datar.
“Kamu nuduh saya galak?!” Sandra berbalik dengan cepat, memberikan tatapan paling tajam dan menusuk langsung ke mata laki-laki itu. Aneh. Ia mudah marah saat berhadapan dengan Danny. Padahal, saat teman-temannya mengatai Sandra galak, Sandra biasa saja dan malah mengakui kalau dirinya memang galak. Dengan Danny, Sandra tidak bisa bersikap biasa-biasa saja.
“Suara kamu meninggi, ekspresi wajahmu kurang enak dipandang, tatapan matamu juga menusuk. Itu semua sudah cukup menjelaskan kalau kamu sedang marah dan di mata saya itu terlihat galak,” jelas Danny tanpa diminta.
Penjelasan yang sangat tepat dan akurat. Namun, bagian ‘ekspresi wajahmu kurang enak dipandang’ terlalu menyakitkan untuk diterima oleh telinga Sandra.
“Maksud kamu muka saya jelek?” Sandra semakin defensif.
“Iya. Kalau sedang marah. Makanya saya bilang kamu nggak cocok jadi orang galak dan suka marah-marah.”
Breathe in. Breathe out. Sandra melakukannya berulang kali untuk meredakan gejolak kekesalan yang melambung di d**a.
Hanya Danny seorang yang akan dengan terang-terangan mengatai orang lain jelek. Sungguh. Walaupun hanya secara tidak langsung dengan mengiyakan pertanyaan Sandra, tetapi tetap saja Danny menganggap dirinya jelek. Sangat menyebalkan!
“Fine. Saya jelek dan nggak cantik. Saya tukang marah. Saya galak. Apa lagi hal buruk tentang saya yang mau kamu beberkan?!” sembur Sandra dengan suara yang naik beberapa oktaf.
Danny geleng-geleng kepala. “Astaga, pikiran kamu sempit sekali.”
“Tuh, sekarang kamu ngatain otak saya.” Sandra semakin kesal.
“Saya cuma berusaha jujur. Nggak usah ngambek.”
“Saya nggak ngambek,” koreksi Sandra, berusaha untuk tidak terdengar ketus.
“Ayo, lanjut belanja,” putus Danny akhirnya. Tidak ingin melanjutkan perdebatan tak tearah itu. “Keburu malam makin ramai nanti.”
Pada akhirnya mereka berjalan dengan dua troli bersisian. Memenuhi lorong–dengan rak-rak saling berhadapan yang berisi aneka detergen, sabun, shampoo dan berbagai peralatan mandi–yang kebetulan sepi. Atau mungkin orang-orang memilih menyingkir terlebih dahulu saat melihat dari ujung lorong karena ada dua manusia yang memenuhi ruang.
“Saya heran banget bertahun-tahun nggak pernah ketemu tiba-tiba setelah acara di rumah saya, kita jadi sering ketemu,” kata Sandra saat berbelok ke bagian buah-buahan dan sayuran. Kekesalannya sudah berkurang dan ia berusaha membangun percakapan santai tanpa urat.
“Itu artinya mainmu kurang jauh. Makanya ketemu saya terus,” jawab Danny mengekor di belakang Sandra. “Saya mau apel,” gumam Danny kemudian, yang langsung tertangkap telinga Sandra.
Sandra menyodorkan beberapa buah apel yang sudah ia pilih ke arah Danny dan menjawab, “Hal yang sama berlaku buat kamu, Dan. Itu artinya kamu mainnya juga kurang jauh.”
“Thank you,” tutur Danny sebelum kemudian menanggapi jawaban Sandra dengan, “Saya emang jarang main jauh, kok. Dan saya juga nggak masalah ketemu kamu terus. Saya malah senang.”
“Saya yang masalah,” cibir Sandra.
“Kenapa?”
Gerakan tangan Sandra yang sedang memilih antara paprika hijau dan merah terhenti. Ia berbalik dan menatap Danny dengan serius. “Bukannya saya udah bilang kalau saya sekarang bersama orang lain? Saya yakin kamu masih ingat sama laki-laki yang bareng saya ke nikahan Oki Sanjaya.”
“Saya ingat dan saya juga tahu namanya Laksa, kamu sendiri yang bilang tempo hari.” Kening Danny berkerut. Nampak kebingungan. “Lalu, apa hubungannya dengan pertemanan kita?”
Sandra memutar bola matanya sambil berkata, “Saya nggak bisa temenan sama kamu. Udah saya tekankan dari tadi.”
“Kenapa?”
“Saya nggak temenan sama cowok,” jawab Sandra sambil mengendikkan bahu. Ngibul banget! Temen cowok lo bejibun! batin Sandra berontak tidak terima.
Kerutan di kening Danny semakin bertambah. “Tapi kamu punya teman laki-laki. Yang kemarin bareng kamu di bioskop itu ada dua orang yang laki-laki, kan?”
Sandra mendengkus kecil. Laki-laki ini benar-benar menguji kesabaran. Sulit dibohongi pula. Tampangnya saja dingin dan datar tanpa ekspresi. Tetapi mulutnya super cerewet. Sukanya ngajak debat. Perpaduan yang sangat aneh!
“Beda. Mereka teman kerja,” balas Sandra berkilah.
“Bedanya apa?” tuntut Danny.
“Ya, beda aja.”
“Coba jelaskan bedanya di mana,” tantang Danny sembari bersedekap. Suara yang keluar dari bibir Danny terdengar begitu menuntut, tetapi anehnya Danny masih bertahan dengan wajah datar.
“Kamu nggak nyaman sama saya karena kita pernah tidur bareng?” tanya Danny pada akhirnya saat Sandra sudah terlalu lama diam.
Shut up your f*****g mouth, please! geram Sandra dalam hati. Gila memang si Danny, mulutnya sangat tidak bisa dikondisikan. Frontal sekali.
Sandra tidak tahu apakah membicarakan masalah tidur bareng adalah hal yang wajar atau tidak untuk dibicarakan di tengah-tengah supermarket. Danny selalu menempatkan dirinya di situasi yang sulit. Mau menghindar sungkan, tetapi meladeni Danny lebih memalukan.
“Benar, karena itu?” tanya Danny lagi.
“Salah satunya,” jawab Sandra. Pasrah dengan arah pembicaraan mereka berdua.
“Berarti ada alasan lain,” Danny mengangguk-angguk, seperti tengah berpikir, kemudian kembali berkata, “Tapi saya mau tanya dulu yang alasan pertama. Kamu belum bisa melupakan saya, karena saya yang pertamanya buat kamu, makanya kamu nggak nyaman. Benar atau nggak?”
Sandra mendesah putus asa. Danny benar-benar membuatnya tidak bisa berkutik dengan pernyataan-pernyataan frontalnya itu. Meski memalukan untuk dibahas, Sandra akhirnya berkata jujur. “Bagaimana bisa saya lupain kamu dan malam itu, Dan? I know, for some people it’s just a s*x. But s*x always means more for me even if I don’t want to admit it.”
Danny memancangkan mata dengan sorot yang begitu dalam. Ia memaku tatapan Sandra hingga wanita itu tidak mampu berpaling. Danny menghela napas. “Then let me take the responsibility,” ucapnya dengan keseriusan yang justru membuat Sandra ketakutan.
See? Hanya dengan Danny memelankan suara dan menguatkan kepercayaan diri yang melambung tinggi, sudah mampu membuat Sandra gentar. Perasaan macam apa ini? Kenapa Sandra merasa kalau perasaan ini berbahaya?
“Bukan berarti saya mau kamu tanggungjawab, Dan,” sergah Sandra, “Saya nggak bisa melihat kamu dengan cara yang biasa aja. Kita ... nggak akan bisa berteman, Dan. Saya nggak bisa.”
“Menurut kamu berteman dengan saya buruk banget ya? Padahal kita belum mencoba apa-apa.”
Membawa kata ‘kita’ dalam pembicaraannya dengan Danny bukanlah hal yang menyenangkan untuk dilakukan. ‘Kita’ adalah sesuatu yang begitu mewah. Siapalah mereka berdua hingga begitu sering meminjam kata ‘kita’ yang tidak mereka punya?
“Danny, kita nggak berada di posisi di mana kita bisa berteman. We’res stranger. Dan akan selamanya seperti itu. Saya nggak mau melewati batas itu.”
Laki-laki itu menipiskan bibir begitu jawaban dari Sandra terlontar. Jawaban yang membuat Danny tidak bisa mendebat. “Alasan selain itu apa?” tanya Danny kemudian. Mengabaikan penjelasan Sandra yang sesungguhnya tidak mampu ia terima.
Sandra menatap lurus ke arah Danny. Menata hatinya yang mulai kebat-kebit. “Saya takut jatuh cinta sama kamu,” ungkapnya dengan d**a yang bergemuruh riuh.
Genggaman tangan Sandra pada pegangan troli mengerat. Ucapannya barusan tidak main-main. Kalau mau bertaruh, Sandra pasti akan sangat mudah jatuh. Ia takut dengan perasaannya sendiri. Dan ia benar-benar tidak ingin jatuh bersama dengan Danny. Ia tidak ingin hatinya jatuh untuk Danny.
Jatuh cinta itu mudah. Yang sulit adalah momen setelahnya yaitu, mempertanggungjawabkan rasa.
Lama mereka terdiam dengan mata yang saling memaku. Sandra yang mudah dibaca, membiarkan Danny menyelam sepuasnya. Tidak apa. Kali ini saja Sandra akan membiarkan Danny melakukan sesukanya. Ya, cukup untuk kali ini saja. Sandra akan memastikan untuk tidak akan pernah ada lagi ‘lain kali’.
Sementara itu, mata hitam legam yang ditatap Sandra tidak menampakkan apa-apa. Tidak ada yang bisa diselami dan ditelaah. Mata itu, seperti jelaga. Hitam pekat yang bersih tak ternoda. Seperti lembaran kosong yang minta diisi dengan cerita baru.
Susah payah Sandra memutus kontak. Tidak kuasa menahan luapan perasaan di d**a. Ia membalikkan badan. Kembali berkutat dengan paprika merah dan hijau yang . Pada akhirnya memilih dua-duanya. Lalu beralih ke deretan selada yang masih segar. Tidak membutuhkan waktu lama untuk memilih. Atau bisa dibilang, Sandra ingin cepat-cepat selesai.
Setelah dirasa cukup dengan sayur mayur dan buah-buahan, Sandra kembali mendorong troli ke bagian daging. Ia tiba-tiba ingin makan semur daging, yang bisa untuk bekal juga nanti.
Satu suara tiba-tiba berkelebat di kepala, kemarin Laksa sempat bilang kalau sedang ingin makan steak buatannya. Sandra menghitung dengan cepat, kira-kira berapa banyak yang harus ia beli.
Ada getar yang perih di d**a saat mengingat Laksa. Sandra tidak sedang selingkuh, tetapi rasanya seperti tengah berkhianat. Rasa yang kini bercokol di dadanya benar-benar mengerikan.
“Menurut kamu, jatuh cinta sama saya adalah hal yang buruk?” tanya Danny dengan menatap punggung Sandra lamat-lamat.
Ternyata Danny masih belum selesai.
“Iya,” jawab Sandra singkat, tanpa menoleh sama sekali.
“Kenapa?”
Sandra memijat hidungnya sambil memejamkan mata. “Kamu kebanyakan tanya kenapa.”
“Karena semua jawaban kamu mengarahkan saya untuk tanya ke sana.”
Sandra berbalik dengan melipat lengan di depan d**a, menatap mata Danny sekali lagi dan menguatkan hati. Ia tidak akan membiarkan dirinya goyang dan terombang-ambing hanya karena laki-laki di depannya ini.
“Saya nggak mau mengkhianati kepercayaan yang diberikan pasangan saya. Jadi berhenti tanya kenapa,” jawab Sandra dengan penuh penekanan yang sukses membungkam mulut Danny.