CH 1

2076 Words
 Lantunan lagu Without Me dari Halsey mengalun merdu melalui earphone yang tersemat di telinga Alicia. Ia ikut bersenandung kecil, sementara netranya sibuk membaca novel romansa karya John Green. Gadis bermata bulat itu datang lebih awal dari pada mahasiswa lainnya.  Salahkan kebodohannya yang lupa mengganti baterai pada jam weker. Alicia mengira ia sudah terlambat datang, padahal jamnya sudah mati sejak kemarin pukul sepuluh malam. Alhasil beginilah nasib Alicia sekarang, sendirian di kelas. Alicia melepas earphone di telinga kirinya, merasa sedikit lelah mendengarkan lagu selama kurang lebih 45 menit. Ia merenggangkan kedua tangannya guna melepas penat. Netranya menjatuhkan perhatian ke luar jendela. Tidak seperti ketika Alicia tiba lebih awal, kampus sudah mulai ramai dipadati mahasiswa. Seharusnya Kina udah dateng, batin Alicia, atau jangan-jangan dia ngebo lagi gara-gara marathon drama Korea? Kina adalah sahabat Alicia sejak SMA. Meskipun bertolak cukup jauh, mereka sangat akrab. Alicia tidak pernah terlihat jauh dari Kina dalam waktu lama. Bahkan setelah lulus SMA, keduanya memutuskan mendaftar di Universitas yang sama. Sepuluh menit sebelum kelas dimulai, Kina datang dengan wajah mengantuk. Cewek berambut panjang itu menyapa Alicia sebelum duduk di sebelahnya.  “Pasti nonton drama Korea, ‘kan?” tanya Alicia dengan senyuman kecil. Perutnya tergelitik melihat muka bantal Kina. Kina menyandarkan kepalanya di meja dengan malas. “Jangan bawel, deh.” “Nggak, tuh. Gue cuma tanya.” “Mending lo urusin beragam laporan keuangan yang numpuk di tas lo,” dumel Kina sebelum menguap lebar. “sumpek tahu. Lo kayak mau pindah rumah aja dengan tas segede gaban itu.” “Ih, bawel lo.” *** Kelas Alicia berakhir pada pukul sebelas siang. Ia punya janji untuk makan siang bersama Kina. Oleh karena itu, Alicia menunggu di kantin. Ditemani jus jeruk beserta novel, Alicia tenggelam ke dalam dunianya. Tidak peduli betapa ramainya mahasiswa yang berlalu lalang. Entah itu sedang makan siang, membolos mata kuliah, atau sekedar nongkrong bersama teman. Ada pula yang hanya duduk sendirian, seperti Alicia.  Alicia hanyalah salah satu dari mahasiswa yang tidak ikut kegiatan apa pun. Alias, mahasiswa kupu-kupu. Tidak heran bila ia tidak memiliki banyak teman. Bedanya, hampir seluruh mahasiswa tahu siapa dirinya. Dari pada mengucilkan, mereka cenderung segan untuk mendekat. Ketika jam menunjuk pukul setengah dua belas, suasana kantin tiba-tiba berubah ricuh. Seolah ada bom waktu yang terpasang dan kini meledak. Seluruh perhatian mahasiswa berpusat pada satu objek yang sama, perempuan keturunan asing yang baru memasuki area kantin.  Biasanya, Alicia tidak suka suasana semacam itu. Namun, ia tidak mau repot-repot pindah lokasi.  “Itu yang namanya Lily?” “Wah, keren banget ya kalau dilihat langsung.” “Serius dia, nih? Cantik banget, dong.” Nama Lily yang dibisikkan seolah mempunyai magnet tersendiri. Alicia menoleh, segera mencari sosok Lily yang sukses menggemparkan kantin. Perempuan itu duduk tidak jauh darinya, sedang menyantap roti bakar sendirian. Tidak ada gen Indonesia pada dirinya.  Pantas saja seisi kantin heboh, bule yang datang. “Eh, sorry kelamaan.” kata Kina yang baru selesai dari jadwal kelasnya. Alicia mengangguk. “Ayo. Kasihan Dava sama kak Fian nunggu lama.” “Ah, mereka mah nggak usah dipikirin. Pasti lagi asyik mabar.” “Tadi, sih, di-chat kak Fian. Katanya, mereka udah pesenin makanan,” Alicia merapikan poninya. “double cheese burger.” Setelah Alicia merapikan barang-barangnya, mereka bergegas ke parkiran. Kina tidak pernah bisa tahan terhadap terik matahari di siang hari. Oleh karena itu, ia segera menggeret Alicia menuju parkiran demi merasakan dinginnya AC mobil.  Alicia yang merasa penasaran dengan Lily, ragu-ragu mencoba bertanya kepada Kina. Namun, belum sempat ia bersuara, tiba-tiba Kina bercetus. “Tadi ada Lily di kantin, ya? Heboh banget.” “Iya. Kenapa?” “Nggak heran kalau lihat orang Indonesia agak norak pas ketemu bule. Setahu gue, Lily itu anak DKV. Orangnya nggak neko-neko. Termasuk supel. Pengikutnya banyak di i********:. Terus, keturunan Eropa. Kalau nggak salah, London.” Alicia semakin penasaran. “Dia emang sendirian, ya? Tadi dia makan sendirian di kantin.” “Kayaknya iya. Gosipnya, sih, dia belum lancar bahasa Indonesianya. Makanya, banyak yang belum berani ngomong sama dia. Entah benar atau nggak.” “Masa, sih?” “Gue nggak kenal dia secara personal. Tumben lo tanya-tanya beginian?” Alicia mendengus. “Gue cuma tanya.” “Lo merasa ada teman senasib, ya? ‘Kan lo termasuk blasteran juga. Eh, Lily bukan blasteran, ding.” “Orang cuma tanya, kok. Penasaran aja, kok orang terkenal seperti dia malah sendirian.” Sesampainya di mobil, tiba-tiba tercetus ide di kepala Kina. Sebelum mereka benar-benar meninggalkan area kampus, Kina bersuara. “Lo tertarik buat berteman sama Lily?” Awalnya, Alicia tidak menjawab. Ia fokus menyetir. Akan tetapi, ketika berhenti di lampu merah Alicia bergumam. “Mungkin.” *** Dari sekian orang yang mendekati Alicia, hanya beberapa yang dianggap teman. Cewek berambut panjang itu cukup selektif dalam kehidupan sosial karena tak ingin dimanfaatkan oleh orang lain. Menjadi salah satu anggota keluarga Collins membuatnya terkenal di kalangan darah biru Eropa. Sudah pasti banyak yang ingin mendekatinya. Alicia tidak suka itu dan lebih memilih berteman dengan Kina. Satu-satunya perempuan yang menjadi sahabatnya. Alicia tidak menyesal. Justru ia senang karena bersama Kina sudah merasa cukup. Kina tidak pernah mengecewakannya dan selalu mengatakan hal yang seharusnya ia katakan. “Cia!” Selain Kina, Fian juga selalu menemani Alicia. Kakak sepupu tertua yang selalu menemani Alicia sejak kecil. Alicia menoleh. “Kenapa, kak?” “Lo yang kenapa, malah ngelamun,” Fian melirik arlojinya sekilas. “Tadi jalanan macet, ya?” Alicia mengangguk. “Iya. Ada perbaikan jalan berlubang di dekat kampus.” “NOT AGAIN!” seru Dava heboh sambil membanting ponselnya di meja. Sukses mengagetkan semua orang.  Sontak, Fian melotot. “Apaan sih, b**o?” “Kalah lagi,” Dava merengek. “Tim gue yang b**o, bukan gue.” Kina menggelengkan kepala. Lelah. “Pantes nggak punya pacar.” Topik tentang asmara adalah topik sensitif bagi Dava. Entahlah, sejak melewati umur dua puluh, Dava sangat sensitif terkait percintaan. “Punya kaca tuh jangan buat dandan, doang.” Kina melirik kakaknya sinis. “Kata seseorang yang super menye sama masalah percintaan.” “Eh, lo juga jomblo. Dilarang menghina saudara umat lo sendiri.” “Mohon maaf, nih. Gue single. Lebih terhormat dari pada lo.” Dava segera mencubit pipi adik kembarnya dengan ganas. “Awas aja kalau gue punya cewek secakep Lisa Blackpink, gue katain status terhormat lo itu.” Selanjutnya diisi oleh keributan dan aksi saling mencubit di antara mereka. Bukan hal aneh lagi melihat Dava dan Kina ribut. Biasanya, Fian menjadi penengah dan Alicia sebagai penonton. Mungkin Fian sudah capek melerai keributan sepasang saudara kembar itu dan memilih cuek. Kalau sudah begitu, tidak ada yang bisa meredakan keributan mereka.  “Rese banget, sih, lo!” Kina berseru kesal setelah Dava mencubit lengannya. Tapi Dava justru tidak menunjukkan rasa bersalah. Barulah setelah Kina menekuk bibirnya, Dava mulai melunak.  “Bisa ngambek lo?” Dava menjawil pipi Kina, tapi cewek itu malah menyentakkan tangannya.  “Ih, adek gue yang dikata kembaran Dara 2NE1 jangan ngambek mulu. Senyum dong.”  “Gue nggak mempan sama traktiran.” “Masa, sih? Lagi ada varian es krim baru, lho.” “Bodo amat.” Secara tidak terduga, tiba-tiba Dava menggenggam segelas es krim bertopping saus strawberry dan dua biskuit oreo. Entah sejak kapan es krim itu hadir di meja, yang jelas Kina sangat terkejut melihatnya. Pasalnya, ia adalah pecinta strawberry dan tidak pernah bisa menolak apa pun yang berbahan strawberry.  Bukan cuma Kina yang terkejut, Fian dan Alicia pun heran. Seingat Fian, Dava tidak memesan es krim strawberry. Kenyataan bahwa Dava terkadang bertindak ajaib itu sudah bukan hal baru lagi. Hanya saja mereka tidak pernah terbiasa ketika itu terjadi. “Masih mau nolak, nih, neng?” kata Dava menaik-turunkan alisnya usil. Cowok bermata hazelnut itu tahu persis adiknya tidak pernah bisa menolak strawberry. Meskipun tampak malu setengah mati, tangan Kina tetap menyambar es krim itu dari tangan Dava. Sambil menahan malu, cewek itu menyantap es krimnya tanpa mengucapkan apa pun. Sontak saja membuat Dava terkekeh kemudian melanjutkan game-nya di ponsel. Harus Kina akui terkadang Dava bisa sangat manis sebagai kakak. Terkadang, Alicia iri dengan Kina. Berbeda dari sahabatnya, ia merupakan anak tunggal. “Omong-omong, lo udah nyelesaiin revisian kemarin, Dav?” tanya Fian sembari menyeruput coke-nya. “Nggak bisa santai, sih, kalau dapat Pak Subagia. Suka bener bikin orang dikejar waktu.” Dava menghela napas. Tidak mengalihkan perhatian dari layar ponsel. “Kurang dikit, sih. Lampiran hasil penelitiannya belum gue cantumin. Terus belum gue translate ke bahasa Inggris. Mana grammar gue nggak sejago anak Sastra Inggris, eh, tuh orang nyuruh pake versi bahasa Inggris.” “Kenapa nggak minta bantu sama anak Sastra aja? Dari pada translate sendiri, malah salah semua.” “Maunya begitu. Tapi mereka juga pada sibuk ngerjain skripsi. Gue, ‘kan, jadi sungkan.” Alicia tidak bisa ikut campur jika Fian dan Dava sudah membahas soal skripsi. Saat ini, keduanya sedang dalam tahap pengerjaan skripsi. Rencananya mereka ingin sidang di tahun ini kemudian segera mencari pekerjaan. Dengan kemampuan otak mereka, sudah tidak perlu diragukan lagi. Namun sayangnya, itu berarti perpisahan bagi Alicia. Sebab ia tidak bisa satu kampus lagi dengan mereka. “Kenapa nggak coba minta bantu sama Lily? Anak DKV itu?” cetus Kina setelah selesai melahap habis es krimnya. “Lily si bule itu?” tanya Dava dengan mata bulat. Anggukan dari Kina membuatnya berseru heboh. “Ya kali, woy. Dia aja nggak fasih bahasa Indonesia. Terus, gue yang ecek-ecek dalam persoalan grammar disuruh ngomong sama dia? Bunuh aja gue, Na!” Kina merengut kesal. “Yeee, lo kok percayaan banget sama gosip itu, sih? Belum juga dicoba udah fitnah duluan.” “Gini, ya, adekku tercinta. Dari pada tiba-tiba minta tolong ke dia padahal nggak kenal satu sama lain, mending gue minta tolong Cia,” kata Dava, kemudian melayangkan senyuman maut ke Alicia. “Ya, ‘kan, Ci?” Alicia mau muntah. “Dilarang ganjen ke adek sepupu gue,” sela Fian sedikit sewot. “Yang ada lo bukannya ngerjain translate malah ngegombalin Cia sampai bego.” “Deeek, Fiannya jahaaat. Masa Dava dimarahin.” Dava memasang tampang terluka, yang membuat Kina memutar bola matanya, sementara Fian dan Alicia mengerutkan kening jijik. “Na, tolong, dong, abang lo dikondisikan.” Alicia mendengus kesal seraya menggigit suapan terakhir burgernya. “Jadi, gimana urusan translate skripsi lo? Gue ada temen yang jago bahasa Inggrisnya. Mungkin lo mau.” Fian mengecek ponselnya sekilas. “Nanti sore kayaknya dia ada jadwal kelas. Mau, nggak?” Dava menoleh. Menatap Fian lekat-lekat. “Nggak usah, deh. Kan, ada ini.” “Kina?” tanya Alicia bingung. “Lo nggak tahu? Kina tuh adik paket lengkap. Selain cantik, rajin, nggak sombong, dia juga selalu mengabdikan diri buat membantu gue. Gue sayang adek gue.” Dava tersenyum lebar, tidak lain tidak bukan seluruh perkataan manisnya hanyalah karangan semata demi meluluhkan adiknya.  Sementara Fian dan Alicia berharap mereka ditelan bumi saat itu juga. *** Seperti biasa, Alicia akan segera berganti pakaian selepas pulang kuliah. Selesai membersihkan diri, ia mengenakan rok span selutut dan kemeja putih beserta jas hitam. Memulas make up tipis agar tampak segar kemudian memakai heels. Selepas menyemprotkan parfum, cewek itu langsung mengemasi barang-barang, lantas menuruni anak tangga.  “Nggak makan siang dulu, Non?” tanya Mbok Ayu, pembantu yang sudah mengabdi sejak Alicia lahir.  “Tadi sudah makan sama kak Fian, Mbok. Aku langsung berangkat aja,” jawab Alicia sembari merapikan penampilannya kembali di depan cermin lemari gelas di ruang tamu. Alicia selalu berusaha menjaga penampilannya di kantor, setidaknya ia harus memberi contoh yang baik terhadap karyawan lain. “Mobilnya sudah disiapkan Pak Budi?” “Sudah, Non.” Mbok Ayu segera berlari kecil kemudian membukakan pintu untuk Nona mudanya.  Alicia masuk ke mobil. Ditemani oleh supir pribadi sejak kecil, Alicia duduk dengan tenang di jok belakang. Ia membuka map kertas berisi beberapa lembar perjanjian yang perlu ditandatangani. Sebelum akhirnya ia juga disibukkan oleh ponselnya yang mulai berdering.  “Soal lembar perjanjian, saya masih mempelajari tiap butir kesepakatan yang tercantum.” “….” “Iya, Bapak. Bila perlu saya ingin kita bertemu secara personal untuk membahas kesepakatan ini lebih lanjut. Karena ini menyangkut perusahaan masing-masing, tentu kita ingin yang terbaik, bukan?” Perusahaan. Ya, seperti itu lah hidup Alicia. Bukan hanya sekadar mahasiswa biasa. Ia juga memiliki perusahaan yang harus diurus di usia terlalu muda. Bagi Alicia, menjadi salah satu anggota keluarga Collins dan seorang Direktur Utama di perusahaan Collins Group merupakan beban terberat. Terlebih ia menghadapinya seorang diri. Tanpa didampingi sosok orang tua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD