BAB 4 : IKAN MAS KECIL

1087 Words
Kota Harbor menyapa mereka dengan pelukan hangat. Langit senja melukiskan jingga dan ungu yang mempesona, bagaikan lukisan abstrak di atas kanvas raksasa. Di jalanan, para pekerja yang pulang mengayuh sepeda dengan santai, menikmati semilir angin sore. Di antara mereka, Hansheng dan Wang Zibo berjalan beriringan, bagaikan dua bayangan yang menari di bawah cahaya senja. Hansheng mengamati sekelilingnya dengan penuh rasa ingin tahu. Lebih dari sepuluh tahun telah berlalu, dan beberapa bangunan telah berubah. Kenangan masa lalu berputar di benaknya, bagaikan film yang diputar ulang. Tiba-tiba, suara bel sepeda yang nyaring memecah kesunyian. Hansheng menoleh ke belakang dan melihat Rongyu dan teman-temannya yang bersepeda dengan riang. Wang Zibo mengangkat tangannya untuk menyapa mereka, sedangkan Hansheng memilih untuk memalingkan wajahnya, pura-pura tidak melihat. Namun, Rongyu tidak mau menyerah. Dia menghentikan sepedanya dan menghampiri Hansheng. "Eh, Hansheng, Zibo! Kalian berdua belum nulis pesan di buku kenangan !" kata Rongyu dengan suaranya yang merdu. Dia mengeluarkan buku catatan hardcover yang cantik dari tasnya. Sampulnya berwarna biru langit, dihiasi dengan gambar bunga aster yang sederhana namun menawan. "Kalian bebas mau nulis apapun sebagai kenangan," kata Rongyu sambil tersenyum. Awalnya, Hansheng tidak begitu tertarik. Namun, ketika dia melihat wajah Rongyu yang berseri-seri di bawah cahaya senja, hatinya mulai bergetar. Kecantikannya bagaikan sekuntum bunga mawar yang mekar sempurna, memancarkan pesona yang tak tertahankan. Bibir Rongyu tersungging, menghadirkan lesung pipi yang samar-samar di wajahnya yang menawan. Kaki jenjangnya yang ramping dan sempurna menopang tubuhnya di atas tanah, memancarkan aura kecantikan yang tak tertahankan. "Hansheng, fokuslah pada buku kenanganmu. Apa yang kau lihat?" tanya Rongyu dengan suaranya yang merdu. Gao Jialiang, yang sedari tadi mengamati Rongyu, tak kuasa untuk berpaling. Matanya nyaris terpaku pada pemandangan indah di depannya. Namun, saat dia melihat Hansheng mengamati Rongyu dengan tatapan yang tak senonoh, amarah langsung membara di dalam dirinya. Gao Jialiang mengumpat dalam hati. Wang Zibo pun tampak kebingungan. Meskipun Hansheng dikenal sebagai orang yang impulsif, dia biasanya sangat menghormati Rongyu dan tak pernah menatapnya dengan cara yang kasar seperti itu. Rongyu, bukan gadis lemah yang mudah diganggu, segera memasang wajah mengancam. Dia mengangkat tinjunya yang kecil dan memperingatkan Hansheng dengan suara tegas, "Jika kau berani menatapku seperti itu lagi, aku akan mencungkil matamu! Aku tak segan-segan melaporkannya pada Tante Liang!" Tubuh Rongyu yang mulai berkembang menunjukkan pesonanya sebagai seorang gadis yang akan memasuki dunia perkuliahan. Hansheng tersenyum tipis dan mengambil buku catatan siswa itu. Kata-kata di dalamnya terasa kuno dan penuh nostalgia. Pesan-pesan di buku kenangan: Versi Perempuan: Tak peduli seberapa panjang masa depan kita, hargailah setiap detik waktu yang kita lalui bersama. Tak peduli berapa kali kita bereinkarnasi, aku akan selalu menjadi temanmu. Versi Sastra: Persahabatan takkan pudar saat kita berpisah; Takdir takkan terputus saat kita lulus; Kenangan indah takkan terlupakan saat kita menjelajah dunia. Versi Sederhana: Semoga Rongyu selalu bahagia dan sejahtera di universitas. Versi Limerik: Bukit hijau, air hijau, masa muda, Kita telah bersama selama bertahun-tahun. Tak ada hadiah lain yang bisa diberikan, Tulislah berkat sebagai kenangan. Hansheng bahkan membuka halaman yang berisi puisi buatan Gao Jialiang: Kuharap kita seperti sepasang burung putih di puncak ombak, Meteor belum jatuh, tapi kita sudah bosan dengan sinarnya. Menggantung rendah di langit, cahaya samar bintang biru di cahaya pagi, Membangkitkan kesedihan abadi di hati kita. Hansheng menggerutu dalam hati, "Sialan, Gao Jialiang ini benar-benar tidak tahu malu! Dia menjiplak puisi 'White Bird' karya Ye Zhi dan bersikeras bahwa dia yang menulisnya sendiri." Rongyu, yang juga menyadari bahwa puisi itu adalah puisi cinta, tersipu malu. Dia berusaha bersikap serius dan berkata kepada Hansheng, "Jangan bolak-balik! Cari ruang kosong dan tulis dengan cepat!" Hansheng menyerahkan buku itu kepada Wang Zibo. "Ayo, kau tulis dulu." Wang Zibo berusaha keras untuk memikirkan kalimat yang berkesan untuk Rongyu. Dia panik dan berkata dengan kesal, "Aku belum memikirkannya!" Karena terburu-buru, Wang Zibo tidak punya banyak waktu untuk mempersiapkan. Dia hanya bisa menulis kalimat sederhana: "Kuharap Rongyu bahagia dan sejahtera selamanya." Awalnya, Hansheng ingin menulis: "Kuharap kau berjalan setengah umurmu dan kembali sebagai remaja." Namun, dia merasa kalimat itu terlalu kuno dan kurang menarik. Setelah berpikir sejenak, dia menulis dengan penuh makna: Kau hidup dengan baik di kolam. Ikan mas yang jelek tapi tahu mengucapkan kata-kata bahagia. Katak yang kotor tapi tetap menarik. Siput yang lembut tapi autistik. Ikan koi kecil adalah dewi bersama kita. Gao Jialiang, yang awalnya berdiri jauh, merasa terancam saat melihat Hansheng mulai menulis. Dia melihat Hansheng menulis tentang dunia amfibi dan tertawa dengan menghina, "Komposisi siswa SD!" Seorang gadis menggelengkan kepalanya dan berkata, "Belum tentu. Awalnya memang terlihat membosankan, tapi setelah dibaca dua kali, justru menarik. Bukankah Rongyu dewimu?" Meskipun kemampuan bersosialisasi Gao Jialiang rendah, dia tetaplah siswa dari SMA No. 1. Kemampuan bahasanya cukup baik. Setelah membaca dengan cermat dalam hati, dia tahu bahwa tidak ada yang salah dengan tulisan Hansheng. Namun, dia enggan untuk mengakuinya. Dia mendorong dengan tidak sabar, "Mulai gelap. Ayo pulang." Rongyu secara alami bisa merasakan ketulusan dan keceriaan dalam kalimat itu. Ada juga sedikit personifikasi yang menarik. Namun, dia tidak terlalu terkejut. Hansheng memang cerdas dan selalu penuh kejutan. Wali kelas mereka, Pak Xu, pernah berkomentar bahwa jika Hansheng bersedia fokus pada studinya, dia pasti akan menjadi murid yang luar biasa. "Eh, tulisanmu lumayan bagus. soal kamu merokok, aku gak bakal kasih tau Tante Liang dulu. Tapi, jangan ngulangin lagi " Rongyu berkata dengan tegas. Dia dibesarkan dalam lingkungan yang serba berkecukupan, sehingga tak terhindarkan bahwa dia berbicara dengan sedikit rasa bangga. Ketika kelompok calon mahasiswa yang mengayuh sepeda itu pergi, Wang Zibo, yang selalu penakut, menunjukkan giginya kepada Hansheng dan berkata,"Tadi aku gak siap. Kamu kok malah nyuruh aku nulis duluan?" Hansheng tidak membantah. Dia hanya bertanya, "Emang kalo tulisannya bagus, terus gimana? Kamu mau ngejar Rongyu?" "Bagaimana mungkin?" Wang Zibo terkejut."Aku kan cuma berani ngomongin tentang dia di belakang. Di depan dia, aku gak berani ngangkat muka." Pria ini memiliki sedikit kesadaran diri dan berani mengakuinya. Hansheng tersenyum dan meletakkan tangannya di leher Wang Zibo, seperti 17 tahun yang lalu. "Ya udah, jangan ngomong omong kosong lagi. Ayo ke Lapangan Shuangqiao kapan-kapan. Aku traktir kamu makan di McDonald's yang baru buka." "Mengapa tidak malam ini?" Wang Zibo bertanya. McDonald's masih merupakan hal yang langka di Kota Harbor. "Nanti aja lah." Hansheng langsung menolak. "Aku mau makan malam sama orang tua." Wang Zibo terdiam sejenak. "Bukankah kamu selalu gak suka sama mereka karena terlalu bawel?" "Kamu gak ngerti." Hansheng tidak menjelaskan lebih banyak dan langsung melambaikan tangannya. "Ayo pulang." Melihat punggung temannya di bawah cahaya lampu jalan yang redup, Wang Zibo tiba-tiba merasa bahwa Hansheng menyimpan banyak cerita yang tidak diketahui orang lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD