Setelah tiba di rumahnya, Cally langsung merebahkan dirinya di atas kasur empuk miliknya. Setelah penerbangan yang hampir membutuhkan 8 jam penerbangan dari—Tolmachevo Airport (MAP) Rusia,menuju Internasional Washington Dulles (IATA) Amerika serikat, baru ini Cally mengistirahatkan badannya.
Tapi, sebelum benar-benar terhanyut dalam alam bawah sadarnya, Cally memeriksa CCTV di rumahnya. Fiks tidak ada masalah, Cally kembali merebahkan badannya yang sudah pegal, bersiap menuju mimpinya.
Cally bangun pukul 05.00,lalu melakukan pemanasan singkat di dalam kamarnya, mulai dari push-up,sit-up dan back-up beberapa kali. Usai olahraga, Cally langsung membersihkan badannya,dan bersiap memulai hari ini menjadi mahasiswa lagi.
"Mau sarapan dulu Non?" seru asisten rumah tangga yang menjadi kepercayaan di rumah Cally semenjak ibunya meninggal dalam tragedi naas yang menghilangkan nyawa ibunya.
Cally mengangguk, ia langsung menuju meja makan. Memakan makanan yang sudah tersaji sendirian. Frederick—sang ayah, hampir tidak pernah kelihatan di rumah, beliau selalu menyibukkan dirinya di kantor. Bukannya hanya Cally yang terpukul, tapi ayahnya juga. Sejak Mendiang ibunya pergi untuk selamanya, Frederick nampak kacau dan hampir tidak memiliki gairah hidup.
Cally selesai sarapan, gadis itu melangkahkan kakinya menuju garasi, lalu mengambil mobil Ferrari kesayangannya. Takut untuk terlihat menonjol dengan mengendarai mobil mewah? Jelas bukan, Karena hampir setiap mahasiswa di sana membawa barang-barang mewah mereka untuk kuliah, bahkan mirip seperti ajang untuk pamer barang branded yang mereka miliki. Cally terkadang berdecak ketika melihat ke-arrogantnan mahasiswa disana, tapi apa boleh buat, ini semua demi misinya.
Sesampainya di sana, Cally memarkirkan mobilnya di deretan mobil-mobil mewah yang berjejer rapi di area parkiran. Tapi-tiba sebuah mobil membunyikan klaksonnya, seolah terarah kepadanya. Seorang pemuda turun dari mobil itu, dan benar, dia berjalan menuju Cally.
"Hey,kau anak baru?" serunya .
Cally hanya diam sambil memperhatikan penampilan lelaki itu.
"Kau tuli? Aku bertanya, apa kau anak baru?" ulangnya .
"Ya,kenapa?" seru Cally, tidak mungkin ia langsung menerjang lelaki di depannya ini karena sudah membuatnya jengkel,bisa-bisa hancur penyamarannya.
"Pantas saja, dengar anak baru, kau tidak boleh memarkirkan mobil bututmu itu di sini. Karena ini khusus untuk parkiran mobilku dan anak-anak profesor lainnya! Kau paham?" ujarnya
Cally menaikkan satu alisnya, sombong sekali pemuda ini batinnya. Ia melewati pemuda itu begitu
saja, membiarkan dirinya menjadi pusat perhatian beberapa orang.
"Hey b***h, segera pindahkan mobil rongsokanmu ini, atau kau akan menerima balasannya!" teriak pemuda itu
"Lakukan sesukamu ,dasar bocah!" seru Cally tetap melanjutkan jalannya.
Pemuda itu hanya menatap kepergian Cally dengan senyum miringnya, gadis pertama yang berani melawan perintahnya. Baiklah,sepertinya ia harus mengerjainya.
***
"Komandan, saya hmmm-mmhh!"
Sebelum melanjutkan omongannya, Cally sudah lebih dulu menutup bibir lelaki itu dan menyeretnya menuju ruangan yang sedikit sepi. Ia masih belum melepaskan tangannya dan menatap lelaki itu dengan mata tajam.
"Jangan gunakan kebodohanmu sekarang Stephan! Kau mau mati malam ini?" bisik Cally masih menyumpal mulut lelaki bernama stephan itu.
"Maaf, aku lupa!"
"Setidaknya gunakan otakmu bodoh!" seru Cally lalu berjalan melewati pemuda itu.
Stephan Berlic—pemuda berusia 26 tahun itu, dan lebih tua 2 tahun dari Cally.Anggota FBI namun masih melanjutkan studinya di Oxford. Ia cukup kenal dengan Cally, terlebih mereka jugaseringkali ditempatkan dalam misi yang sama. Stephan mengejar langkah Cally yang semakin menjauh darinya.
"Kapan kamu balik dari Rusia?"
Cally menatap lelaki itu sekilas, "Semalam!"
Stephan mengangguk,"baru sampai semalam dan sudah membuat misi lagi!" kekehnya, “dan bukannya semalam kau bersama dengan Reymond?" seru stephan dengan nada mengejek seperti biasanya jika dia ketahuan sedang bersama dengan hakim songong itu.
"Apa kabarnya sampai pada ayahku?" tanya Cally
"Tidak mungkin Jendral tidak tau, Cal! Tapi sepertinya Raymond menutup mulut para polisi itu semalam!".
Cally hanya mengedikkan bahu tidak peduli, selama ia masih aman dan tidak harus berhubungan dengan para polisi menyebalkan itu ,maka ia tidak terlalu ambil pusing. Sebelum langkah mereka sampai di ruangan yang sedang mereka tuju, Stephan menatap Cally lebih dulu "Aku tidak harus menemanimu masuk ke ruang rektor bukan? Aku tidak ingin melihat wajah menjijikannya, aku tidak ingin menahan hasrat membunuhku! jadi, aku akan menunggumu di sini saja!"
Cally mengangguk, ia melangkahkan kakinya menuju ruangan bertuliskan REKTOR'S ROOM yang sekarang berada di hadapannya. Cally membuka pintu lalu memasuki ruangan bernuansa hitam itu.
"Benar-benar seperti apa yang ayahmu katakan, nona Cally Dominic!"
Cally menatap pria di depannya dengan wajah lempeng, mengapa dari sekian banyak orang, yang menjadi rektor di sini adalah lelaki tua bangka menyebalkan ini? Pantas saja Stephan tidak mau masuk. "Mana kartuku tua bangka!" kesal Cally.
"Semakin tidak sopan saja pada pamanmu ini!"
"Dengar baik-baik Mr.Fernandes yang terhormat, aku datang ke
sini hanya untuk menjalankan misiku saja, bukan untuk mendengar celotehanmu yang sama-sekali tidak berguna, kau sebaiknya mendongeng kepada anak kecil saja, atau pada bayimu yang kau tabur di setiap rahim wanita yang kau nodai!"
brakk
Lelaki paruh baya itu menggebrak meja dengan kuat, ia selalu tersulut emosi jika sudah berhadapan dengan putri Frederick Dominic ini. Berbeda sekali dengan Alex, abang Cally yang pembawaannya selalu santai.
"ini…segera pergi dari ruanganku, dasar keponakan kurang ajar, tidak tau diuntung kamu!" seru Mr.Fernandes sambil memberikan kartu tanda pengenalnya.
Cally mengambil kartunnya lalu langsung keluar, dan ia masih mendapati Stephan yang sedang menunggunya.
"Wow, kau bisa keluar dari pintu itu hanya dengan waktu 4 menit 58 detik, kau hebat. Aku harus belajar darimu!" seru Stephan
antusias.
Masalahnya, tidak ada penghuni kampus yang bisa keluar dengan cepat dari ruangan rektor. Ada saja alasannya untuk menahan mereka di sana. Dan itu bukan kabar baik bagi seorang gadis yang memasuki kantornya,bagai neraka yang akan membakar jiwa dan raga, tidak ada yang bisa sabar untuk menghadapi kalimat pedas Mr.Fernandes, tua bangka yang sepertinya harus dibumi hanguskan dari muka bumi ini.
Stephan memimpin jalan menuju ruang kelas mereka. Kelas 404, management bisnis, Cally hanya masuk saja sebenarnya, karna dia bukannya mau kuliah,tapi hanya untuk menjalankan misinya. Kelas sudah dimulai, stephan mengetuk pintu bersamaan dengan semua pasang mata yang langsung tertuju ke arah mereka.
"Kau telat 15 menit Mr.stephan!" seru dosen yang menatap Stephan tidak suka
"Maafkan aku Mr.Clark, tapi seseorang di belakangku membutuhkan bantuan!" ujarnya sambil menggeser badannya, memperlihatkan Cally .
Mr.Clark seolah terkejut, Ia tidak mendapat kabar bahwa agen terbaik FBI ini akan ada di sini dan akan menjadi bagian dari kelasnya, suatu kehormatan baginya yang dulu pernah bekerja di sana sebelum memutuskan untuk keluar dan menjadi dosen.
"Boleh kami masuk Mr.Clark?" tanya Stephan.
"Tentu Stefan, dan Anda silahkan perkenalkan diri Anda!" serunya sopan, Stephan hanya mendengus, Cally
dan segala karirnya memang sangat di akui di dunia agent dan satu-satunya gadis paling dihormati semua kalangan Agent.
"Nama saya Cally!" ujar nya.
"Baiklah Mrs Cally, silahkan duduk dan selamat menikmati kelasku untuk waktu yang kau butuhkan!" Cally hendak menuju tempat
duduknya, tapi tanpa sengaja ia bertemu pandang dengan sosok pemuda bermata biru yang juga sedang menatapnya.
"Hey Calvin, dia menatapmu, dia menatapmu lebih dari 5 detik!" lelaki bernama Calvin itu hanya memutar bola matanya malas, apa
salahnya jika ditatap lebih dari 5 detik? Bahkan tidak ada yang terjadi jika mereka bersitatap lebih dari 5 detik, yang benar saja.
"Wahh, sepertinya gadis itu akan menjadi gadis penggemarmu !" kekeh Leo di seberang Calvin
"Bisakahkah kau mengurangi tingkat kealayanmu,Leo? Tidak malu didengar para gadis di belakangmu?" kali
ini Christian yang berujar .
Christian memang sosok lelaki yang paling naif di lingkaran pertemanan Leo,Calvin dan dia, merasa paling tampan dan tercool, meski yang menjadi idol di grup mereka adalah Calvin Sandiego. Lelaki berparas tampan yang sialnya benar-benar tampan, bahkan hampir mirip dengan tingkat ketampanan shawn Mendes.
Selain tampan, lelaki itu juga sangat pintar dan tidak bisa diremehkan.Sementara Leonardo Ishak, yang akrab dikenal dengan sebutan Leo itu adalah lelaki players cap ikan teri dan merasa menjadi Wibu sejati, nyatanya dia hanyalah Wibu bau bawang. Tapi meski
demikian, dia juga menjadi idaman para kaum hawa, dan otaknya juga bisa dikatakan lumayan encer.
Proses pembelajaran berlangsung cepat, Mr.Clark segera mengakhiri mata kuliahnya, karena mengingat mereka akan mengadakan rapat anggota dekan. Selepas dosen itu pergi, para mahasiswa itu masih ada yang berada di kelas, ada yang sudah langsung pergi,dan berbagai kegiatan lainnya.
"Kau tidak mengenal lelaki itu bukan Cal?" seru Stephan saat menyadari Cally menjadi bahan pembicaraan Leo dan Christian.
"Bukan, sama sekali bukan, tapi mengapa aku sedikit familiar dengan lelaki tadi?" seru Cally.
"Maksudmu pemuda di tengah itu bukan?" seru stephan meyakinkan
"Iya"
"Namanya Calvin sandiego, kita sama. Ketika pertama kali bertemu dengannya, aku merasa ada yang berbeda dengan tatapannya dan warna matanya, seperti mirip dengan tatapan…maaf!" Stephan menghentikan pembicaraannya, takut akan membuka luka lama Cally lagi.
" Ender Wiggin!" seru Cally, Stephan mengangguk, ya benar.
Tatapan mata dan warna mata Calvin sama dengan Ender, pemuda dari masa lalu Cally dan mungkin hanya akan menjadi masa lalu
baginya.
"Tapi, sepertinya itu hanya ilusi kita saja karena terlalu merindukannya Cal, waktu insiden bom kemarin, banyak yang jelas melihat
bahwa Ender terlempar dan tubuhnya juga dimakamkan waktu itu!" seru Stephan.
Sementara Cally masih diam, mengingat tentang Ender, Cally akan menjadi wanita lemah, ia belum terlalu bisa mengikhlaskan kepergian lelaki yang amat ia sayangi itu.
"Sudahlah…ayo pergi, kita di sini melakukan misi, bukan untuk menjadi a loser!" ujar Stephan sambil bangkit dari duduknya , mereka akhirnya berjalan menuju parkiran. Tapi, tiba-tiba mereka dikepung beberapa anak lelaki.
Stephan berdecak, mereka semua adalah anak dosen di sini dan selama ini selalu bertingkah sewenang-wenangnya,menindas orang lemah dan menjadikan mereka babu, dan senang mengerjai gadis-gadis cantik tapi lemah.
"Ada apa max?"ujar Stephan.
"Slow Stephan, aku tidak mempunyai masalah denganmu, tapi dengan gadis cantik di sebelahmu!" ujar nya. Stephan menatap Cally, apa gadis ini mengenal berandalan yang paling ia benci ini?
"Ada apa lagi bocah?" seru Cally
"Aku menyukai wajah cantikmu, tapi tidak dengan otak kecilmu yang begitu penantang" ujarnya mendekati Cally sambil menyentuh wajahnya dan tiba-tiba mendorong kepala Cally .
Stephan ternganga, bukan hanya dia saja.Tapi Reymond yang baru saja datang ikut membulatkan matanya. Seorang Cally, kepalanya dilecehkan.
"Selamat datang di neraka!" ujar stefan dan Reymond berbarangan. Max menatap Cally dengan senyum miringnya, neraka apanya?
Cally mengangkat wajahnya, lalu menatap Max lembut. "Mari kita bermain nanti malam, aku akan menuliskan
alamatnya!" seru Cally sambil memberikan nomor ponselnya.
"Kau boleh juga manis, baiklah, aku akan datang nanti malam!" serunya antusias sama seperti lelaki tua bangka yang akan
memerawani seorang gadis. Cally hanya tersenyum dalam hati, baiklah, sepertinya ia perlu bersenang-senang dengan pemuda playboy kelas ikan teri ini.
Max dan semua antek-anteknya meninggalkan Cally dan Stephan, Reymond yang sejak tadi sudah memasang kameranya mematikannya. Lalu mendekati Cally dengan wajah terheran-heran.
"Kau tidak langsung meninjunya?" seru Reymond.
Cally dan Stephan menatap kedatangan parasit satu lagi.
"Kenapa? Kau ingin mengadukannya lagi? Dasar ember!" seru Cally
"Hey, ada apa denganmu? Semalam saja kau hampir mematahkan tanganku karena aku menyentuhmu, tapi apa-apaan ini? Dia bahkan mendorong kepalamu, tapi kau malah memberikannya nomor ponselmu yang aku saja mendapatkan nomormu setelah delapan bulan mengenalmu, ini tidak adil!" serunya
"Dasar banci!" seru Stephan
"Apa kau bilang sialan? Ulangi lagi perkataanmu,aku akan ..."
"Akan apa hah?" sela stephan sambil mendekati Raymond yang berjalan mundur, Raymond sadar bahwa ia tidak bisa mengalahkan Stephan yang berbadan kekar dan kekuatannya yang pasti terus dilatih.
"Stephan, ayo pergi, atau kau mau di sini berdua dengan dia?" seru Cally.
Stephan menatap Hakim di depannya ini sinis, lalu memasuki mobil Cally yang sudah bersiap meninggalkan
kampus. Usai Stephan masuk, Cally langsung melajukan mobil Ferrarinya meninggalkan kampus. Ia masih punya beberapa jam untuk meretas.
"Akan kau apakan Max?" seru Stephan.
Cally hanya menatap jalanan yang dia lalui dengan senyum miringnya, tawanya sungguh penuh dengan aura pembunuhan, bahkan bulu kuduk Stephan sampai berdiri. Ia sudah membayangkan apa yang akan terjadi dengan pemuda itu,yang pastinya bukan sesuatu yang baik.
***
"Aku butuh data dari Mr.Clark Stephan!"
Stephan menghentikankegiatannya, ia menaikkan satu alisnya. Mengapa Cally mencurigainya? Mr.Clark kan dulunya satuan agent juga,tidak mungkin lelaki paruh baya itu menjadi salah satu bandar n*****a, sungguh memalukan sekali."kenapa dia?" tanya
Stephan
"Ada sedikit perbedaan di matanya ketika melihat aku stephan, wajahnya tersirat rasa takut tersembunyi yang bahkan tidak diketahui
olehnya!"
"Apa dugaanmu mirip seperti ketakutan orang yang melihat seorang membunuh dan dia diincar untuk dibunuh?" sambung Stephan
"Tidak, lebih dari ketakutan seperti itu!" seru Cally sambil menghentikan tangannya yang sejak tadi menjelajahi papan keyboard di
depannya.
"Seperti apa?" seru Stephan
"Itu rasa ketakutan dari seseorang yang dipercaya namun harus menjadi sebuah malapetaka, karena berada di bawah tekanan!" ujar Cally
Stephan mengangguk, ia langsung menyibukkan lagi dirinya menghadap layar monitornya. Meretas semua data tentang Mr.Clark yang mungkin akan memberikan mereka sebuah petunjuk dari misi ini. Jika bisa jujur, misi yang diberikan pada mereka kali ini benar-benar saat abu-abu. Dalam artian tidak punya titik terang, mereka hanya menuruti perintah saja tanpa tau apa yang akan mereka hadapi. Satu hal yang pasti adalah, bahwa musuh mereka adalah sesuatu yang mengerikan dan
membahayakan.
"Ahh, sepertinya kau benar Cally, lihat artikel ini!"seru Stephan
Cally mengangguk, ia membaca sebuah artikel yang sepertinya sengaja dirahasiakan. Di Sana jelas tertulis bahwa Theresia Clark, putri dari Mr.Clark diculik enam bulan yang lalu.
"Bukankah ini putri yang paling ia banggakan Cal? Dia si jenius itu bukan?" seru Stephan mencoba mengingat lagi mengapa Theresia di culik. Terakhir kabar yang ia dapat beberapa bulan lalu, Theresia menciptakan sebuah penemuan bom nuklir yang belum
pernah ada sebelumnya.
"Cally, sekarang aku paham maksudmu. Mr.Clark juga terlibat di dalam misi kita kali ini, dia adalah target kita, tapi bukan yang utama. Para mafia incaran kita menggunakan Mr.Clark untuk menghancurkan markas FBI, karena beliau dulu bekerja pada sistem
keamanan bukan?"
"Ya, itu yang aku simpulkan juga!"
"Jadi sekarang apa? Haruskan kita bertanya pada Mr.Clark ?"
"Gunakan otakmu dalam bertindak bodoh. Jangan seperti katak di dalam tempurung, bertanya kepadanya? Itu bodoh sekali, karena setiap pergerakannya pasti sudah direkam dan diberi alat pelacak!"
Stephan lagi-lagi merutuki kebodohannya, ia memang akan selalu menjadi orang bodoh ketika sudah menjadi team dengan Cally,bukannya hanya dia, tapi semua orang yang bekerja sama dengannya akan merasakan menjadi orang yang tidak tau apa-apa.
"lalu apa rencanamu?"
"Kita akan memancing satu, untuk mendapatkan banyak. sama seperti permainan Ludo king, kita akan bersembunyi di titik aman, lalu mengembalikan mereka pada sarangnya ketika mereka pikir tidak akan ada lagi kekalahan dari mereka! Kita akan memakai Max!" seru Cally
"Max? Apa hubungannya?" seru Stephan
"Stephan adalah anak dosen, dan dia cukup berani untuk menyentuh kepalaku, maka dia akan dimodifikasi menjadi robotku, jika dia gagal, maka aku akan melenyapkan dan menghancurkan tubuhnya!"
Stephan melebarkan matanya, ia benar-benar mendapat partner yang begitu creepy, pembunuh berdarah dingin yang pernah ada, malaikat kematian yang harus benar-benar dihindari.
"Lalat akan masuk ke dalam mulutmu jika kau terus membukanya. Segera dapatkan semua datanya, aku akan pergi
bersenang-senang dulu!" kekehnya.
"Mau kemana?" seru Stephan
"Berkencan!" teriak Cally dari jauh.
Stephan hanya menggelengkan kepalanya, ia sudah tau bagaimana bentuk Max setelah bertemu nanti dengan Cally, ia yakin kewarasan Max akan hilang nantinya.
***
"Kau sudah sampai ternyata!" seru Cally begitu melihat motor Max yang sudah terparkir di sebuah bangunan mirip seperti
villa.
"Kamu liar juga sepertinya, kau memilih tempat yang sangat strategis!" seru Max sambil memeluk Cally dan membawanya masuk ke dalam.
Max melangkah sambil memeluk pinggang Cally, tanpa disadari lelaki itu bahwa seseorang sudah mengikuti mereka dari belakang.
Jleb
Max terkejut saat kepalanya langsung dipukul dari belakang, lelaki itu pingsan. Terakhir yang dia ingat, ia hanya menatap Cally yang berbicara dengan seseorang.
"Mau diapakan dia ?"
"Modifikasi otaknya, hingga hanya aku yang akan dia turuti!"
"Baiklah, kau sepertinya mendapat robot lagi!" kekeh wanita itu.
"Sudahlah Mita, lakukan tugasmu dengan baik!"
"Seperti permintaanmu nona !"
Mita, sosok dokter ahlisaraf yang menjadi kepercayaan Cally, sudah beberapa kali ia melakukan modifikasi pada manusia. Menjadikan mereka robot untuk Cally yang ia tebak, mereka yang dimodifikasi adalah mereka yang pasti melecehkan kepala Cally.
Aneh memang, Mita mengakui kegilaan sahabatnya itu semenjak kuliah. Di bangku dunia kedokteran, genius dengan gila memang hanya memiliki sedikit batas perbedaan. Mita menatap kasihan pemuda di depannya ini, dia salah telah membangunkan harimau tidur dari kandangnya.
Mita mulai menyuntikkan beberapa cairan ke dalam tubuh lelaki itu. Lalu mulai memutasi pikiran lelaki itu dari layar monitor laptopnya. Sebuah penemuan yang paling hebat yang diciptakan oleh Cally, Mita bersyukur, Cally berada di bawah kelompok yang benar. Karena jika sempat Cally bergabung dengan kelompok mafia, pasti para FBI akan semakin kesulitan menangkap mereka.
2 jam berlalu, Max mulai mengerjapkan matanya. Ia merasakan sakit di bagian kepalanya, seperti habis di tusuk. Ia menatap sekeliling dan mendapati Cally yang duduk di pojok sambil menatapnya tanpa ekspresi.
"Sudah siap untuk uji eksperimen Max?" seru Cally.
Max seolah terprogram
hanya untuk mematuhi suara Cally saja, bahkan tanpa sadar, ia sudah mengangguk
"Good, kita akan memulai misi!"