Nadine menatap layar ponselnya dengan tangan gemetar. Napasnya memburu dengan d**a yang naik-turun tak terkendali. Video yang baru saja ia terima dari Bi Ruhi masih berputar di layar. Namun, Nadine sudah terlalu muak untuk melanjutkan pemutarannya. "Aku mencintai Aira. Aku akan melakukan apa pun untuk membuatnya bahagia." Suara Adrian yang terdengar lembut terus terngiang di telinganya, seperti palu godam yang menghancurkan sisa-sisa harapannya. "Kamu b******n, Adrian ...," gumamnya menatap nanar sosok pria yang ada di dalam video tersebut yang tengah merengkuh mesra pinggang Aira. Nadine menggigit bibirnya hingga hampir berdarah. Ada perasaan sakit yang teramat dalam yang sulit dijelaskan. Tangannya mengepal di atas kemudi berusaha keras menahan amarah yang ingin diledakkan. Saat itu

