"Nyonya, Tuan Adrian membawa istri baru ke rumah besar. Dia sudah tinggal di rumah besar sejak dua hari lalu. Tuan Pratama sendiri yang memintanya untuk tinggal dengan alasan wanita itu sedang hamil." Kabar yang diterima pagi itu berhasil mengejutkan Nadine. Rasa kantuk yang sejak tadi mendera tiba-tiba lenyap ketika mendengar laporan Bi Ruhi–pelayan yang paling dekat dengannya di rumah besar Pratama, yang berhasil membuat darahnya mendidih. "Apa?" suara Nadine bergetar penuh amarah. Sekelebat dunia wanita itu seperti runtuh. Matanya melebar, rahangnya mengeras, dan jantungnya berdegup kencang. Dia mencengkeram erat selimut tebalnya dengan ponsel yang masih menempel di telinga. Napasnya tersengal, seolah paru-parunya menolak udara yang masuk. "Iya, Nyonya … bahkan saya sendiri yang me

