*** Pagi ini weekend, dan Galanio tidak bangun sepagi biasanya. Berada di rumah kedua orang tuanya, pukul setengah tujuh pagi dia masih bergelut dengan selimut. Jika tidak ada yang membangunkan, Galanio berniat untuk membuka mata pukul delapan pagi saja. Namun, rencana hanyalah rencana, karena tepat pukul setengah tujuh lebih beberapa menit, ponselnya di atas meja nakas berdering—membuat Galanio mau tidak mau membuka mata. "Siapa sih? Ganggu aja," keluhnya sambil mengulurkan tangan untuk meraih ponsel. Masih di posisi telungkup, dia berhasil mengambil benda pipihnya itu. Bukan Sienna, nama yanh terpampang di layar adalah Kanina, sehingga dengan rasa penasaran yang menghampiri, dia menjawab. "Halo," sapanya dengan suara parau. "Kenapa Kanina? Apa kamu mau kasih tahu sesuatu ke aku?"

