“Di mana Beni? Dia tidak ada di kamarnya!” seru Melia lirih dan membuka pintu kamar lebih lebar. Mereka masuk ke dalam kamar. Manik mata mereka mengamati seluruh ruangan kamar. Sunyi. “Beni tidak ada ....” “Hal itu yang aku beritahukan sejak tadi!” sahut Melia kesal. “Ke mana Beni malam-malam?” “Mungkin di kamar bersama Alice.” Melia memandang Jack. Dari tatapannya terpancar penuh arti. “Kenapa melihatku begitu? Beni menyukai Alice. Dia pasti cari cara agar berduaan dengan gadis itu. Ya memang tidak aku pungkiri Alice memang cantik. Harusnya dia kita jodohkan dengan salah satu keponakan kita.” “Diam. Jangan melantur,” timpal Melia kesal. “Ayo cepat kita cari di mana Beni,” ujar Melia sembari lebih dulu membalikkan badan dan keluar kamar. “Sudah aku bilang, tidak usah mencari di mana

