Pagi itu, matahari masih malu-malu menembus celah pepohonan rimbun di sekitar rumah sederhana di pelosok Bogor tempat mereka tinggal sementara. Embun belum sepenuhnya menguap dari dedaunan, dan udara masih mengandung kesejukan khas pegunungan. Di luar rumah, Khayra berdiri di teras kecil, melangkah perlahan ke arah jalan setapak yang dipenuhi guguran daun kering. Suasana sunyi, hanya sesekali terdengar kicauan burung dan desir angin yang menerpa ranting pohon. Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan pikirannya yang sejak tadi dipenuhi kegelisahan. Langkahnya pelan namun pasti, membawa tubuhnya menjauh sejenak dari ruangan sempit yang menampung luka batin Dinda. Sejak kejadian itu, Dinda benar-benar berubah. Lebih diam, lebih murung, dan nyaris tak bersuara. Bahkan sekadar menjawab

