Bab 8

951 Words
 Bab 8 Tersenyum lah seperti tak ada masalah ataupun beban hidup, Biarkan orang-orang menilai salah, Dan carilah seorang yang menilai dengan hati, Diantara orang-orang yang menilai dengan pandangan. ~~~ Pagi ke dua di negri orang. Jingga telah siap untuk melanjutkan pencarian kekasihnya. Gadis itu tetap optimistis meski sama sekali tak mempunyai petunjuk. Kemarin ia mendapatkan informasi bahwa Juan tinggal di salah satu apartemen tak jauh dari hotel yang Jingga sewa. Maka dari itu, hari ini Jingga sangat bersemangat dan sangat yakin bahwa ia akan bertemu dengan kekasihnya itu. Tak henti-hentinya Jingga mengetuk pintu kamar hotel milik Ari yang letaknya tepat didepan kamarnya. "Ari, cepetan nanti kesiangan" jerit Jingga. Pintu berwarna coklat itu terbuka, dan langsung saja Jingga menyeret lengan Ari paksa, hingga cowok itu sedikit terkejut dan langsung menutup pintu kamarnya "Buset dah, sabar kali neng" ucap Ari mengikuti saja langkah Jingga. "Ari kelamaan! Nanti keburu Juan pergi jalan-jalan" Jingga terus saja mengoceh tentang keterlambatan Ari tadi, dari pertama masuk lift hingga keluar lift, Jingga menggendeng lengan cowok itu. Jingga hanya memakai sweater tanpa tudung berwarna putih dan celana jens. Gadis itu juga mencepol rambutnya keatas dan menyisakan beberapa anak rambutnya. "Lo gak laper? Dari semalem belum makan kan Lo?" "Enggak, tadi malem Jingga juga makan roti kok" ucapnya cepat sebari terus berjalan melewati lobi dan pintu keluar. Gadis itu langsung memberhentikan taksi dan tanpa basa-basi langsung memasukinya diikuti dengan Ari. "Bilangin kalo kita mau ke alamat ini" Perintah Jingga sebari memberikan selembar kertas yang ia ambil dari saku celananya kearah Ari. "Ck, susah emang kalo ngajak orang buta bahasa Inggris jalan-jalan, ke Inggris pula" ledek Ari lalu menerima kertas itu. Jingga memajukan beberapa centimeter bibirnya sebal sebari melihat Ari yang tengah berbicara dengan sopir taksi itu. "Gak usah di maju-majuin tuh bibir, pengen gue tampol jadi nya" ledek Ari. "Jingga gak denger bodoamat!" Ketus Jingga mengeratkan tangannya yang ia lipat didepan d**a. Ari melihatnya, cowok itu terlalu peka. Ia tau jika gadis itu kedinginan. Pagi ini memang lebih dingin dibandingkan pagi kemarin. Ari berdecak, lalu melepaskan mantel berwarna hitamnya dan menyerahkannya ke gadis itu  "Buat apa?" Tanya Jingga dengan alis yang ia tautkan. "Lo kedinginan, pake aja" ucap Ari memandang mata coklat gadis berlesung itu. "Emangnya Ari gak dingin?" "Gue laki-laki, lagian kalo Lo sakit bisanya cuma ngerepotin gue" sahut Ari lalu membuang pandangannya kearah lain. Tanpa basa-basi, Jingga memakai mantel hangat yang diberikan Ari tadi "Makasih"  Tubuh Jingga terlihat sangat mungil saat mengenakan mantel hitam kebesaran milik Ari. Namun, juga terlihat sangat imut "Udah sampe, turun" ucap Ari. Jingga mengangguk lalu membuka pintu taksi. Gadis itu mendongak kan kepalanya kearah atas gedung yang menjulang tinggi di depannya itu "Juan ada di lantai 26. Semoga dia inget Jingga" ucap Jingga. Sebenarnya, Jingga masih belum benar-benar ingat setiap kenangannya dengan Juan. Namun, ia ingat bahwa cowok itu adalah kekasihnya dan belum berpisah dalam artian putus. Ari menggenggam tangan mungil Jingga "Udah pake sweater sama mantel gede aja masih dingin?" "Ck, gak usah ngejek. Liat, Jingga ngomong aja ada asepnya. Itu artinya emang dingin" kesal Jingga melepaskan tangannya dari genggaman Ari. Ari menggenggam tangan mungil milik Jingga lagi, lalu memasukkan nya kedalam saku hoddie nya. "Diem, biar Lo anget" ucap Ari lalu berjalan membiarkan tangannya menggenggam tangan milik gadis yang berjalan di samping nya itu. Mereka memasuki gedung tinggi itu lalu langsung dihadapkan dengan seorang pelayan. Jingga melewati nya begitu saja sama halnya dengan Ari. Kini, Jingga sudah memberhentikan langkah saat Ari juga memberhentikan langkah nya. Ari tengah bertanya kepada resepsionis yang terlihat sangat cantik menurut Jingga. Jingga tak paham dengan apa yang diucapkan Ari, gadis itu lebih memilih mengedarkan pandangannya ke penjuru sudut lantai dasar apartemen itu. "Nanti sore pulang" ucap Ari langsung berjalan membawa Jingga keluar dari gedung itu. Gadis itu langsung melepaskan genggamannya "Maksudnya?" "Juan udah gak disini, dia udah pergi kemarin!" "Gak mungkin" ucap Jingga sebari menggelengkan kepalanya keras. Sesulit itukah bertemu dengan sosok Juan, Jingga harus menunggu lama dan melewati masa-masa sulit agar dapat kembali melihat Juan. Banyak pertanyaan yang ingin Jingga ajukan pada Juan tentang dirinya dan tentus aja tentang hubungannya. Jingga juga masih bertanya-tanya pada dirinya sendiri. 'Kemana Juan saat Jingga koma?' 'Apa Juan sebenarnya bukan pacarnya Jingga?' 'Setahun lebih Jingga koma, apa Juan gak pernah sekalipun pulang buat nengokin Jingga?'. Gadis itu berjongkok didepan Ari. Lalu terkekeh sendiri "Semoga Juan sampe dengan selamat" ucap Jingga lalu langsung bangkit dari jongkoknya. "Lo? Gak marah gitu?" Jingga mengangkat sekilas pundaknya. "Marah buat apa? Kalo Juan udah pulang, itu artinya janjinya sama Jingga ditepati. Ari juga harus seneng dong" Ari meninju udara geram sendiri. Gadis itu tak berubah, selalu berfikir positif meski kenyataannya tak selalu berakhir baik bagi dirinya. Jingga menarik lengan Ari "Jingga tau kok, Ari kesel kan sama Juan?. Jingga juga tadi sempet kesel pas denger kalo ternyata Juan udah pulang duluan. Tapi mau gimana lagi? Yang terpenting Jingga udah usaha, meski hasilnya gak memuaskan, Jingga harus terima kenyataan kalo Jingga belum saatnya ketemu sama Juan" Kata Jingga berjalan sebari menggendeng lengan Ari. Cowok itu tersenyum tipis, lalu tanpa aba-aba Ari langsung memeluk Jingga "Gue tau, Lo pengen nangis tapi malu kan?" Jingga mendorong tubuh Ari "Apaan sih, Jingga udah gak cengeng lagi ya!" Kesal Jingga melewati begitu saja cowok yang malah terkekeh tanpa mau mengejarnya.  Jingga membalikkan tubuhnya lalu menghentakkan kakinya sebal "Kok gak dikejar sih! Kalo cewek lari tuh artinya mereka pengen dikejar! Bukan malah diliatin, nanti kalo ilang nyesel sendiri!" Teriak Jingga sebal. Seperti permintaan Jingga, Ari berlari kecil menghampiri gadis yang memakai mantel hitamnya. ***** Yah...Juan gak jadi ketemu sama Jingga.. Jangan lupa vote dan comment sebanyak nya.. Comment kalian sangat berarti bagi aku karna bisa membuat aku jadi semangat buat nulis After J. See you next part Salman Sellaselly12
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD