Dua hari berlalu. Dan Abi harus menerima datang awal menuju Cakrawala. Sebab Bia, adiknya, menjadi salah satu panitia di acara besar ini. Ketika Abi tengah serius mengendarai motornya, Bia di belakang malah asik tergelak. Membuat Abi tidak terima.
"Kamu lagi pegang HP?" tanya Abi sedikit berteriak.
"Eh, enggak, A," jawab Bia kelabakan. Pasalnya, ponsel Bia pernah dijambret ketika ia tengah melakukan kegiatan yang sama. Membuat Abi jadi berceramah panjang persis Sang Mama. Membeli ponsel tidak semudah itu. Terlebih harganya yang menyampai belasan juta kerap membuat Abi pusing sendiri. Belum lagi Judith, juga meminta hal yang sama. Padahal, bukan Abi yang membeli. Ia hanya tidak suka ketika adik-adiknya bersikap boros. Sedangkan dapat dilihat jelas sebanyak apa orang yang kesusahan mencari uang.
"A nggak suka kamu bohong," ujar Abi lagi, memperlambat kecepatan motornya. "Emang susah tunggu sebentar? Cakrawala nggak jauh."
"Iya, A, nggak lagi." Bia menurut, buru-buru mematikan ponsel dan sekarang memilih menggenggam erat benda tersebut.
"Kalau kamu udah bisa cari uang sendiri, gak masalah. Tapi kamu, Aa, Judith, juga belum bisa hasilin apa-apa. A nggak suka kamu lakuin hal bodoh dua kali."
"Iya, A! Bia nggak ngulang. Maaf." Bia mendesah pelan karena lagi-lagi mendengar kalimat yang sama dari Abi.
Setelahnya, Abi memilih diam. Hingga akhirnya motor lelaki tersebut memasuki gerbang Cakrawala. Seperti biasa, tatapan berpasang mata kembali menatap Abi penasaran ingin tau. Dalam hati berdoa agar Abi mau membuka helmnya.
"A, gak usah parkir disini," usul Bia langsung ketika Abi memberhentikan motornya di tempat biasa.
"Kenapa?"
"Nanti rame. Parkir di deket anak Cakrawala aja. Di sebelah sana." Bia menunjuk deretan mobil dan motor yang masih dapat dihitung jumlahnya di bagian sudut pekarangan depan Cakrawala. Abi hanya menurut, lalu kembali menjalankan motornya.
"Nah, disini!" ujar Bia semangat lalu turun dari motor. Ponsel perempuan itu langsung saja berbunyi, tanda ada panggilan yang masuk.
Sedang Abi, perlahan membuka helmnya. Membuat siswa siswi Cakrawala yang berada di tempat yang sama harus menahan teriakan. Bahkan beberapa dari mereka dengan cepat mengeluarkan ponsel untuk mengambil gambar atau video dari Abi. Tipikal kebanyakan perempuan ketika melihat lelaki tampan, bukan?
"Lo dimana? Iya ini gue mau masuk." Bia yang berbicara dengan temannya lewat ponsel tidak melewatkan pemandangan sekitar. Seketika dahinya mengernyit melihat teman satu sekolah yang menatap Kakak Sulungnya berlebihan seperti itu. Tidak dipungkiri, bahwa Bia menatap tajam perempuan yang terang-terangan mengabadikan momen ini.
"Muka kamu kenapa?" tanya Abi setelah turun dari motor sambil merapikan seragamnya yang dibungkus jacket maroon.
"Yuk, A, ikut Bia masuk. Lama-lama disini nanti A dimakan." Bia menarik tangan Abi, bahkan tidak segan menggandengnya. Membuat siswa siswi sekitar bersemangat tidak tentu arah.
"Buset! Cocok woi!"
"Ini kenapa mereka cocok banget?"
"Bia kenapa pinter banget cari cowok, ya?"
"Alig! Kok gue rada gak rela gitu? Bia cakep, makin keliatan sempurna aja karna bareng itu cowok."
Komentar-komentar seperti itu terus saja terdengar. Bahkan ketika sepasang kakak beradik tersebut masuk makin ke dalam Cakrawala. Makin banyak pasang mata yang melihat mereka. Karena, siapa yang tidak akan kaget ketika melihat Bia, siswi pentolan sekolah, datang dengan laki-laki yang selama ini membuat satu sekolah penasaran.
"Widih, Bia, akhirnya lo nunjukin muka pacar lo juga," ujar seseorang dengan suara kuat. Bia menatapnya bingung. Terlebih Abi.
Pacar? Siapa yang berpacaran? Kakak beradik tersebut memikirkan hal yang sama. Dan kini, Bia paham situasinya. Pantas saja, sejak lama orang-orang kerap menyebut Bia memiliki pacar.
Bia hanya geleng kepala, sedang Abi tetap mengikuti kemana langkah kaki Bia membawanya. Sedikit malas memang, karena Abi lagi-lagi harus menerima banyak tatapan dari sekitar.
Ruang panitia. Dimana Bia kini menarik Abi untuk ikut masuk bersamanya. Awalnya lelaki itu menolak, tapi ketika Bia berkata tidak apa-apa, akhirnya Abi masuk kesana. Bergabung di antara banyaknya panitia lain yang tentu saja seumuran dengannya.
"Bi!" Teriakan itu sukses membuat Abi dan Bia menoleh serempak. Sesaat Abi sadar, tentu saja Bia yang dimaksud.
"Udah pada ngapain aja?" tanya Bia mulai berbincang dengan seorang teman perempuan yang tadi memanggil.
"Gue juga baru dateng. Yuk, buruan ngurusin yang atas. Gue ogah diceramahin Zarka lagi."
Bia yang terbahak seketika ingat dengan keberadaan Abi. Segera, ia mulai memperkenalkan Abi pada temannya. "Ini Kakak gue, namanya Abi. A, ini temen Bia, namanya Poppy."
Abi tersenyum samar sambil menyambut uluran tangan dari Poppy. Lalu kembali melepas dan mulai pura-pura sibuk dengan ponsel. Disaat seperti ini, entah kenapa Abi mengharapkan Renat agar segera tiba.
Sejak kejadian sore itu di tempat parkir, Abi benar-benar sulit melepaskan bayangan Renat dari kepalanya. Bukan, bukan karena perasaan suka atau semacamnya. Namun karena merasa bersalah. Seharusnya Abi mengiyakan keinginan Renat. Tapi sayangnya, kepala Abi terlalu sulit untuk mengangguk.
Perasaan bersalah itu kian menjadi-jadi ketika Abi mengecek ponselnya. Membuka roomchat Victor dan membaca chat satu per satu. Benar saja, hari dimana Abi gagal berkelahi dengan geng Enrico, Renat memang berjalan entah darimana. Perempuan itu benar-benar tampak kelelahan dengan mata merah seperti menahan tangis.
Keinginan untuk kembali menjemput Renat tiba-tiba muncul. Tapi Abi tidak melakukannya. Mengalah demi seorang Renat? Itu bukan Abi.
"A, Bia harus ke atas nih. A gimana?" Bia menatap Abi tidak enak hati. Tapi Abi memberikan anggukan. Karena lelaki itu ingin kembali ke parkiran dan menunggu seseorang bermulut pedas sampai datang.
"A mau ke parkiran," ujar Abi dengan jari kembali sibuk pada layar ponsel. Tidak ada yang dia lakukan, kecuali kembali mencari materi tentang Biologi.
Bia mengangguk, lalu mengajak Abi keluar ruangan dengan Bia dan Poppy yang berjalan lebih dulu, membiarkan Abi di belakang.
"Demi ya, Bi, orang-orang pada ngira Kakak lo itu pacar lo," bisikan tersebut sampai ke telinga Abi. Tapi lelaki itu tidak berkomentar, memilih tetap diam dan seperti orang tuli. "Lo liat deh, di tiga group angkatan, foto lo sama Kakak lo udah disebar disana."
"Ah, tau deh." Bia berucap malas, mengajak Poppy untuk mempercepat langkah setelah mereka keluar kelas. "Dah, A," teriak Bia sambil menoleh dan melambaikan tangan pada Abi. Dan dibalas Abi dengan anggukan.
Lelaki itu kembali berjalan menuju parkiran. Orang-orang yang berdatangan pun kian banyak. Tapi Abi, lelaki itu tidak melihat batang hidung Renat dimanapun.
"Abi!" Abi menoleh cepat, dan entah mengapa sedikit tidak puas pada siapa yang menyapanya. Walau demikian, Abi tetap tersenyum.
"Hai," sapa Abi pada perempuan berambut keriting tersebut.
"Kenapa disini? Masuk aja, yuk." Haruka, tanpa enggan menggenggam tangan Abi dan hendak menarik lelaki itu.
"Eh, kamu duluan aja," ujar Abi dengan pelan menguraikan genggaman mereka.
"Kenapa? Ayuk, mending nunggu di kelas aku aja." Haruka lagi-lagi membujuk, berharap Abi menerima.
"Aku lagi nunggu temen," cetus Abi jujur, dan Haruka spontan mengernyit bingung.
"Siapa?"
"ABI!" Panggilan itu membuat Abi kembali menoleh, dan tanpa ia sadari, helaan napas lega lolos begitu saja dari mulutnya. "Gue bingung nyariin lo di parkiran sana, taunya disini. Akhirnya masuk kesini. Seneng gak, Bi? Kalau gue jangan ditanya. Seneng banget udah.
"Masih pagi, tenaga kamu disimpen aja gak bisa?"
"Kenapa, sih? Orang gue baru mulai ngomong. Lagian yang capek nanti juga gue. Segala pake ngurusin. Gak usah, gak butuh."
Usai berbicara seperti itu, Renat menoleh dan sukses bersitatap dengan Haruka. Senyumnya muncul tiba-tiba. Tanpa pikir panjang, Renat buru-buru menjulurkan tangan. "Gue Renata, temennya Abi. Orang-orang biasanya manggil gue Renat."
"Haruka," balas Haruka pelan, dengan intonasi berbeda. Tetapi Renat, ia tetap tersenyum.
"Pacar Abi?" celetuk Renat begitu saja.
"Mending kamu diem," ujar Abi langsung. Membuat Renat mencibir.
"Gitu banget sih, iya gak gangguin pacar lo lagi," putus Renat ketika langkah mereka memasuki Cakrawala. "Eh, tapi, hebat Haruka mau sama Abi. Abi kan kasar, tukang berantem, pokoknya yang jahat-jahat ke dia semua."
Abi sukses menatap Renat tajam. Baru pagi, emosi lelaki itu sukses tersulut akibat ucapan Renat. Pasalnya, Haruka bisa saja mengadukan hal tersebut kepada Nadine, Mamanya. Dan Abi sangat tidak ingin itu terjadi.
"Ruka, toilet dimana?" tanya Abi segera, membuat Haruka sedikit binging ketika hendak menjawab. Namun pada akhirnya, Haruka tetap menunjuk sebuah tempat.
Abi buru-buru menarik Renat yang hari ini tampak manis dengan ikatan longgar yang ia buat pada rambutnya. Membuat beberapa anak rambut lepas dan Renat kian tampak menggemaskan. Bibir pucat yang dilapisi liptint itu segera berteriak. Meminta Abi agar mau melepaskannya.
"Bi, lepasin!" perintah Renat yang sama sekali tidak diindahkan oleh Abi. "Abi, lo mau ngapain, sih? Lepasin gue bilang! Abi nggak lucu kayak gini!" Renat kian meronta. Pasalnya, kini mereka sedang menjadi objek perhatian hampir semua pasang mata. Dan Renat benci diperhatikan. Renat benci dilihat seperti itu.
Abi memberhentikan gerakan, menatap tepat pada manik mata Renat. "Mulut kamu bisakan dijaga? Kalau kamu kumat, minum obat. Jangan malah nyiptain masalah baru buat orang lain. Atau jangan-jangan kamu begini karna belum sarapan? Mama kamu nggak lupa suruh kamu makan dulu, kan? Mama kamu, tau kalau kamu sering jadi penyebab masalah buat orang lain?"
Renat membeku. Perempuan itu kehilangan semua kata-katanya. Sebab Abi, lelaki yang suka seenaknya sendiri itu berhasil mencubit sisi yang selama ini Renat sembunyikan. Abi berhasil menjangkau bagian yang Renat kubur dalam. Abi sukses menjamah hal paling rahasia dan sensitif dari Renat. Tentang Mama.
Gadis itu menggigit bibirnya kuat, menghilangkan getaran karena air mata yang mendesak ingin keluar.
"Iya! Kebiasaan! Kamu yang salah, aku marah, terus kamu yang nangis. Nanti dunia salahin siapa? Ya, cowok." Abi berubah begitu sinis. Dan air mata Renat sukses meluncur.
Renat memejamkan mata. Tidak, dia bukan penyebab dari masalah yang selama ini orang-orang pikul. Dia bukan sebuah masalah. Dia hanya Renat. Perempuan remaja yang mengharapkan keluarga sempurna. Dia Renat si ceria dan baik hati. Bukan pembuat masalah.
Perempuan itu lekas membalikkan badan. Berlari sekuat yang ia bisa untuk keluar dari Cakrawala. Persetan dengan segala rasa bahagianya karena bisa masuk kesana. Persetan dengan lomba. Persetan dengan semuanya. Karena Renat hanya ingin, hatinya yang pecah dapat diperbaiki kembali.
• r e t u r n •