12 - Spekulasi

959 Words
"Abi." Abi yang baru saja kembali dari toilet dan hendak kembali ke kelas seketika menoleh. Mendapati Ibu Tiwi menggerakkan tangannya, meminta Abi datang mendekat. Abi segera berjalan ke arah guru yang tingginya sedikit di bawah lelaki itu. Mengangguk samar tanda hormat. Sejak seminggu lalu, Abi selalu berurusan dengan guru yang satu ini. Entah itu bersangkutan dengan pengumuman juara lomba atau hanya sekedar membahas Renat. Ah, Renat. Ada apa dengan perempuan itu selama ia memilih libur hingga ketika masuk sekolah, terjadi perubahan yang mendadak padanya. Seketika Abi kembali teringat pada berita yang ia lihat di televisi semalam. Tentang model terkenal Ibu Kota yang hendak menikah lagi. Kepalanya terus menebak-nebak. Jika memang benar dugaannya, berarti ia paham kenapa Renat berubah. Tapi Abi seketika menggeleng. Kenapa dia harus peduli? Apapun yang Renat lakukan, selama tidak merugikan dirinya, ya terserah saja. "Kamu kenapa geleng-geleng, Bi?" tanya Ibu Tiwi tampak bingung. Tapi Abi lagi-lagi memberikan gelengannya. Tidak mungkin menjawab jujur tentang apa yang baru saja ia pikirkan. "Kenapa, Buk?" Abi bertanya langsung, sebab dia butuh segera menuju kelas. "File data siswa siswi yang Renat punya masih sama kamu, kan? Tolong dibalikin ke perpustakaan sekarang ya, Bi." Abi seketika tersadar dengan map berisikan data diri lengkap milik Renat yang memang ia bawa seminggu ini sebab lupa mengembalikan. Segera saja ia mengangguk, "Saya balikin dulu, Buk." "Eh, Bi." Panggilan lagi-lagi membuat Abi yang ingin berjalan berhenti. Ia menatap Ibu Tiwi dan menunggu guru tersebut bersuara. "Katanya Renat udah masuk hari ini? Terus gayanya beda? Maksudnya beda kenapa?" Abi hanya menggeleng, "Maaf, Buk, tapi saya gak suka ngurusin hidup orang lain. Coba Ibu tanya ke murid lain, mungkin mereka lebih tau." Abi permisi, meninggalkan Ibu Tiwi untuk segera menuju kelas. Sepanjang perjalanannya, dapat Abi dengar dengan jelas anak-anak yang tengah menjadikan Renat topik hangat. Sebagian besar dari mereka memang penasaran Renat kenapa. "ABIRAYYAN!" Teriakan tersebut muncul diikuti sosok Victor yang berlari dari arah depan. Gurat tegang jelas di wajah Victor. Saat sudah dekat, dari samping, Victor buru-buru mengalungkan tangannya di leher Abi. Membuat Abi buru-buru menatap ngeri dan melepaskan diri. "Apaansih lo, Maho!" hardik Abi pedas. "Ya, kalau sama kamu, aku mau dong, Bebi. Sini, aku punya ikan cupang, mau?" Victor mendekat, hendak melaksanakan niat konyolnya. Namun gerakan kaki Abi yang seolah bersiap untuk kembali menendang membuat Victor mengurungkan niat tersebut. Ogah jika harus terkena tendangan maut yang menyebabkan ia menanggung malu. Ditambah, bagian bokongnya juga sakit. Seperti kata pepatah, sudah jatuh, ditimpa tangga pula. Dua laki-laki yang memiliki nilai plus di bagian wajah tersebut tidak sadar bahwa tengah menjadi objek perhatian. Sedang mereka tetap saling melempar bacod tidak peduli sekitar. Kesukaan seluruh siswi; melihat Abi dan Victor tengah bersama. Terlebih saat dua laki-laki tersebut sedang berkelahi untuk membela para utas yang terbully. "Eh, diem dulu lo, Monyet. Gue jadi lupakan padahal mau kasih tau sesuatu." "Apa?" "Berita ter-hot tahun ini! Coba deh tebak dulu!" "Lo sunat? Apa sekalian kebiri?" "Gigi lo panjang! Bukan itu, Tolol." "Gue ogah kalau ini tentang Renat," ujar Abi memilih lanjut berjalan. Dia harus segera mengambil map untuk dikembalikan ke perpustakaan. "Ya emang tentang cewek lo! Eh, maksudnya calon." "Gigi lo yang panjang! Segala bilang dia cewek gue." "Kan gue udah bilang kalau kalian cocok, Bi," kata Victor dengan mensejajarkan langkah Abi. "Lo tau kalau gue keturunan penyihir." "Iya, pantes lo mirip sama Voldemort." "Tai," sahut Victor kesal. "Tapi gue serius, gak tau kenapa gue jadi kepikiran aja sama Renat. Dia dari dulukan kayak semangat banget godain lo, Bi. Masa sih lo gak luluh? Renat cakep, ya minus kalau dia tukang ngomong doang sih." "Udah lo ngomongnya?" "Gue serius, Bego! Terus sekarang dia tiba-tiba berubah. Jangan-jangan karna putus asa soalnya lo cuekin mulu?" "Keren teori lo. Tapi lebih keren kalau mulut lo diem, gak usah bacod." Victor yang kesal seketika melayangkan telapak tangannya di kepala Abi. Memberi pukulan disana. Dan yang terakhir, segera kabur. "Monyet rawa lo!" teriak Abi sehingga membuat siswa siswi lain tertawa lepas. Memang, sampai kejadian Victor kabur, mereka masih saja menjadi objek perhatian. Walau, obrolan mereka hanya mereka yang tau. Abi buru-buru masuk kelas. Matanya dengan cepat menyisir keadaan kelas dan berhenti sepersekian detik di bagian meja paling sudut. Buru-buru Abi menatap ke arah lain. Segera menuju bangku dan membuka tas untuk mengambil map warna biru. "Apaan tu, Bi?" tanya Fasel, salah satu temannya. "Kepo lo," sahut Abi tidak pakai hati. Setelah itu buru-buru meninggalkan kelas. Sedang Fasel hanya hanya menatap kepergian Abi dengan tampang polos. Setibanya di perpustakaan, Abi diminta meletakkan sendiri map tersebut di ruang khusus. Memang seperti itu, setiap murid memiliki data diri masing-masing. Untuk jaga-jaga jika terjadi error pada komputer. Begitupun sebaliknya. Sebelum meletakkan map milik Renat di bagian abjad R, Abi kembali membukanya untuk yang terakhir kali. Menatap dengan pasti salah satu kolom nama disana. Tepatnya, nama ibu peserta didik. Abi begitu tersihir pada kenyataan bahwa, nama perempuan yang ia lihat di berita semalam, sama persis dengan nama Ibu Renat. Gita Anindya. Pikiran Abi berkecamuk hebat. Dia yang awalnya tidak peduli entah kenapa terus saja memikirkan kebenaran dari spekulasinya. Lalu jika benar, apa saja yang Renat lalui selama ini? Bahagia atau sedihkah perempuan itu terhadap semua hal yang menimpanya? Abi buru-buru menutup map. Jika saja hari itu Ibu Tiwi tidak menyuruhnya mengambil map data milik Renat, mungkin Abi tidak akan pernah menduga-duga seperti sekarang. Ya, ketika Abi mengirim SMS untuk Renat, Abi memang mendapatkan nomor hand phone perempuan itu dari sini. Tidak hanya itu, Abi juga sekalian menyimpan nomor milik kedua orang tua Renat. Untuk berjaga-jaga. "Udah selesai, Nak?" Abi tersentak, menatap guru penjaga perpustakaan dan segera mengangguk. Bertepatan dengan bel yang juga berdering kuat. Membuat Abi segera berlari menuju kelas. Dalam hati, Abi berharap dugaannya salah. Laki-laki itu berharap bahwa kesamaan nama tersebut hanyalah sebuah kebetulan. • r e t u r n •
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD