Setelah pulang dari kafe, Melissa mendiamkan Reza. Bagaimana tidak, dia kesal bukan main pada pria itu. Ingin sekali dia memarahinya habis-habisan, tapi Melissa ingat kalau sekarang dia adalah istri sahnya Reza, bukan lagi istri pura-pura pria itu seperti yang pernah mereka lalui sebelumnya.
“Kamu kenapa, Sayang?” tanya Reza lembut sembari duduk di tepi ranjang di sebelah Melissa yang duduk bersandar di kepala ranjang.
“Kamu pulang gih temui mama kamu,” ucapnya sembari melipat buku yang sedang dia baca.
Tiba-tiba Reza mengernyit. “Kenapa, kok tiba-tiba minta aku pulang?”
Melissa menarik napas. Dia mencoba untuk berkata baik dan benar. “Aku nggak pernah bikin kamu terkesan, terus apa yang bikin kamu tiba-tiba cinta sama aku? Sedangkan kamu lihat, Tania begitu tenang, begitu lembut, terus aku?”
Reza tersenyum. “Kamu apa adanya,” ucapnya sembari menyampirkan anak rambut Melissa di telinga, “dan aku lebih suka kamu yang berwarna dan nggak ngebosenin.” dia kemudian mendekatkan wajahnya.
Melissa malah beringsut dan tidur membelakangi Reza. Reza kemudian tidur di belakang Melissa, dia meletakkan tangan di atas lengan Melissa. “Semua orang punya kesan masing-masing di pertemuan pertama.” Reza maju sedikit dan merapatkan tubuhnya dengan Melissa. “Tanpa kamu sadar kamu membuat kesanmu sendiri.” Reza kemudian sedikit menegakkan kepala dan mengecup pipi Melissa. “Dan aku jatuh hati,” ucap Reza setelahnya. Meski Reza sendiri tidak tahu kapan tepatnya dia jatuh hati pada Melissa.
Reza membuat Melissa menghadap padanya. “Sayang, aku sudah bilang kalau aku nikahi kamu bukan karena Biru, bukan juga karena mama mengusirku, tapi karena--” Reza mendekatkan tangan Melissa ke dadanya, “aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu dan satu hal yang paling penting,” Reza menarik napas, “aku takut kehilangan kamu, Mel,” desisnya.
Melissa tercenung. Air matanya terjun, jarang ada laki-laki yang mengungkapkan cinta padanya dengan tulus selama dua puluh lima tahun terakhir ini selain Pram.
Reza kemudian mendekat dan mengecup kening Melissa, lalu turun ke hidung dan terakhir dia menyatukan bibirnya dengan bibir Melissa sekilas. Dia kemudian melanjutkan perkataannya.
“Seseorang berhak membenci dunia sebesar apapun yang dia bisa, seseorang juga bisa mencintai dunia sebesar apapun yang dia mampu, tapi Mel, kita hidup di sini hanya sementara. Aku berharap kita akan tetap bersatu di Surga-Nya.”
Melissa kembali mengurai air mata. “Kalau begitu kamu pulang,” ucap Melissa murung, “minta restu sama mama kamu,” imbuhnya.
Kali ini Reza yang tercenung. Apa yang Melissa katakan saat di depan Tania, itu hanya menunjukkan sisi buruknya. Melissa tak pernah berpura-pura menunjukkan sisi baik dirinya pada orang lain, dia bahkan tak peduli dengan kesan pertama dan beruntungnya hanya Reza, Pram dan Tuhan yang tahu, juga tentunya orang-orang terdekat Melissa, seseorang hanya perlu mencoba dekat dengan Melissa, maka mereka akan menemukan hal berbeda dari wanita itu dan akan tahu betapa cantik hati wanita yang dia nikahi ini.
Melissa menunduk saat Reza hendak mengecupnya lagi. “Kalau aku harus kehilangan kamu hanya karena mama kamu tidak merestui kita. Aku nggak apa-apa,” ucapnya tetap tertunduk.
Reza tergemap. Dia merasakan ada kebohongan mengiringi kalimat yang Melissa ucapkan. “Aku nggak akan melepaskan kamu, Mel,” ucapnya sembari mengangkat dagu Melissa.
“Tapi, aku nggak mau kamu hidup tanpa restu.”
Harus berapa kali Reza katakan kalau dia juga tidak bisa hidup tanpa Melissa. “Aku lebih baik mati, Mel,” ucap Reza sembari memeluk wanita itu, “daripada harus kehilangan kamu, aku lebih baik ninggalin dunia ini, selamanya.”
Jantung Melissa mencelus. Dia menangis dalam diam di rengkuhan Reza. Sebenarnya dia juga terlalu takut kehilangan Reza, dia takut tidak akan menemukan lagi pria sepertinya, pria yang terlalu memahami dirinya, pria yang menerima dirinya dengan segala kekurangan yang nampak di depan mata.
“Aku minta maaf, Mel, maaf karena membuat kamu hidup dalam masalah.”
Melissa tak menjawab permintaan maaf Reza. Dia hanya sedang merasakan ketenangan dalam pelukan pria itu yang entah sampai kapan akan dia rasakan.
***
Ranti menatap Tania yang tampak tidak nyaman saat berada di depannya. “Kamu kenapa?” tanya Ranti. “Baik-baik aja, ‘kan?”
Tania tersenyum. “Aku mau ngasih tahu mama, kalau aku hamil dan mama akan dapat cucu.”
Ranti malah mengernyit. “Hamil?”
Tania mengangguk. “Selamat ya, Ma, mama akan punya cucu, itupun kalau mama mau menganggap anakku sebagai cucu mama.”
Ranti tak menjawab, dia malah tercenung menatap Tania. Entah kenapa dia masih belum rela dengan kenyataan ini.
Tania menghela napas. “Rencana Tuhan memang indah, akhirnya aku bisa hamil juga. Aku senang banget tau, Ma.”
Ranti masih belum menanggapi.
“Rencananya aku sama Delon mau punya empat anak, dua laki-laki dan dua perempuan.” Tania terus menyunggingkan senyum. Sebenarnya dia hanya berusaha mencairkan suasana sebelum berbicara soal Reza dan Melissa, tapi Ranti sama sekali tak ingin menanggapinya.
“Kemarin aku ketemu Reza. Katanya dia udah beberapa minggu nggak pulang kenapa?” tanya Tania pada akhirnya, jika Ranti hanya ingin mendengar soal Reza, seharusnya Tania tak mondar-mandir ke sana ke mari, tak semua orang suka mendengar kebahagiaan orang lain.
“Melissa, ini pasti ulah Melissa.”
“Kayaknya bukan deh, Ma. Dia bilang katanya ini nggak ada sangkut pautnya sama Melissa, Reza cuma ingin agar mama berhenti mengungkit tentang aku dan Mas Rega, juga soal Reza.”
Jantung Ranti mencelus.
“Ma,” Tania menggenggam tangan Ranti, “aku udah punya kehidupanku sendiri, mama, Reza, tentu kalian ingin menikmati kehidupan kalian sendiri. Tolong jangan libatkan aku lagi. Kalau bukan karena Delon yang minta aku buat dateng ke sini untuk belasungkawa, aku juga nggak akan mau, Ma. Aku juga manusia, aku pernah kecewa dengan sikap mama, papa Anton sama Reza, tapi aku udah maafin semua kok, aku harap mama juga begitu.”
“Kamu sama Reza ketemu di mana?”
Tania tergemap, dia segera menjauhkan tangannya dari Ranti. Kalimat panjang lebarnya tak ditanggapi, sudah dia duga akan seperti ini. Bicara seperti Melissa memang mudah.
Tania menari napas dan menatap Ranti. “Di jalan, Ma,” ucapnya. “Kebetulan aku mau ke rumah Tante Mia dan nggak sengaja ketemu Reza,” bohongnya.
“Apa dia sama Melissa?”
“Sendiri,” bohong wanita itu lagi. Pembicaraan kali ini disponsori oleh kebohongan. Kenyataannya kebohongan akan lebih mudah beranak pinak.
“Kapan dia akan pulang?”
Tania menggelengkan kepala. “Aku nggak nanya. ‘Kan itu bukan urusan aku.”
“Kalau bukan urusan kamu, terus kamu mau apa lagi ke sini?”
“Mau ngabarin Mama kalau aku hamil.”
“Mama cuma mau cucu dari Reza.”
Jantung Tania mencelus. Kenapa dia harus datang dengan penuh percaya diri seperti ini? Jika sudah tahu jawabannya akan seperti itu, harusnya Tania bersiap diri untuk jatuh tersungkur karena malu.
“Lebih baik kamu minta Reza buat pulang, mungkin kalau kamu yang minta dia mau pulang.”
Tania menghela napas. Ibu dan anak sama saja, belum lagi dengan Melissa yang juga memintanya untuk membujuk Ranti karena dia juga mengatakan hal yang sama seperti yang Ranti katakan.
“Mau pulang atau tidak, seharusnya datang dari hati dan berasal dari keinginannya sendiri. Lagi pula, Reza pastti nggak bisa kalau tanpa Melissa.”
“‘kan?” Ranti mengedikkan kedua bahunya. “Sudah mama duga, ini semua gara-gara Melissa.”
“Melissa udah minta Reza untuk pulang, tapi Reza belum mau pulang, Ma. Mama sabar aja, mama tunggu aja, suatu hari Reza pasti pulang kok.”
Ranti mendengkus.
“Reza ingin mama menerima Melissa, seperti mama terima aku.”
“Sudah mama duga, kamu datang ke sini karena di suruh Reza. Iya, ‘kan?”
“Nggak. Nggak ada yang nyuruh aku. Aku datang ke sini karena kemauanku sendiri. Aku cuma pengen bantu mereka, kasihan, Ma. Mama emang nggak kasihan hidup Reza gimana kalau tanpa restu mama?”
“Kamu bilang kalau kamu nggak mau ikut campur, kamu bilang kalau ini bukan urusan kamu, terus kenapa kamu mau bantu dia?”
Tania mengangguk. “Aku minta maaf, Ma.”
“Udah kamu sampein aja sama dia mama akan merestui Reza kalau dia menikah dengan Shafiyya.” Ranti kemudian bangkit. “Lebih baik sekerang kamu pulang. Mama capek mau istirahat.”
Tania tercenung bagaimana dia harus menyampaikan apa yang Ranti ucapkan, Melissa pasti sakit hati mendengar itu. Alangkah lebih baik memang jika Tania tak ikut campur lebih jauh lagi.