Kendaraan beroda empat itu terus berputar. Namun, tiba-tiba sang pengemudi berhenti di depan seorang anak SMA yang pingsan di pinggir jalan. Reza turun dan segera melihat kondisi anak SMA tersebut, seragam sekolahnya penuh darah. Reza pikir mungkin dia korban tabrak lari. Namun, saat dia berjongkok untuk melihat dari mana sumber darah itu berasal, dia tak menemukan setitik luka pun di tubuhnya.
“Tolong,” lirih gadis itu. Namun, kedua matanya tertutup rapat. “Tolong saya,” gumamnya.
Tanpa pikir panjang Reza segera membawa gadis itu ke dalam mobilnya untuk dia antar ke rumah sakit, jika sengaja memanggil dan menunggu ambulan, mungkin saja akan memakan waktu lama, lagi pula sepertinya gadis ini sudah sangat membutuhkan pertolongan.
Mobilnya kembali melesat meninggalkan tempat kejadian. Dia memutar arah dan membawa gadis itu untuk ke rumah sakit terdekat yang tak jauh dari sana.
***
Sedari tadi ponsel berdering sedangkan sang empunya ponsel tersebut sedang sibuk mengemudikan mobilnya. Setelah parkir, Melissa turun dari mobil, dia berjalan di koridor rumah sakit. Ponsel kembali berdering. Melissa hanya bisa menghela napas kesal sembari menerima panggilan tersebut. “Apa?” tanyanya tanpa basa-basi.
[Mel, kamu cabut fasilitas pengobatanku?] tanya Ibram lewat telepon.
“Iya, kenapa?” tantang Melissa sembari mempercepat langkahnya, karena dia sudah hampir terlambat, semua pasiennya pasti sudah menunggu.
[Kamu kok gitu? Aku belum sembuh, Mel.] keluh Ibram.
“Aku baru sadar ternyata selama ini kamu manfaatin aku?” teriak Melissa seraya mendekatkan ponsel itu ke mulutnya. “Sekarang kamu bayar sendiri pengobatan kamu, aku anggap untuk dua bulan yang lalu itu cuma khilafku aja, semoga Tuhan jadikan itu amal kebaikanku.”
Melissa tak menunggu jawaban Ibram, dia langsung mematikan panggilan tersebut. Napasnya terengah, rasa lelah berlari bercampur dengan kedongkolan yang mengusik hati. Bisa-bisanya dia dibodohi Ibram yang mengatasnamakan cinta, jelas-jelas pria itu tidak mencintainya. Melissa yakin itu.
Tiba-tiba Melissa terdiam saat Ibram sudah berada di depannya. “Aku mau ngomong,” ucap pria itu pelan. Sedangkan Melissa menarik napas dan mengeluarkannya kasar.
“Kenapa kamu lakuin itu, Mel?” Ibram menarik tangan Melissa.
“Kamu nggak tahu malu ya, udah manfaatin aku juga,” ucap Melissa sembari menepiskan tangannya dari genggaman Ibram. Namun, Ibram menahan tangannya.
“Alasan kamu apa tiba-tiba minta putus?” Ibram diam sejenak. “Please tarik lagi ucapan kamu,” ucapnya setengah memohon.
Melissa menggelengkan kepala. Cukup tahu kalau Ibram memang tidak layak untuknya. “Kamu nggak pantes buat aku,” kata Melissa sembari mendorong tangan Ibram. “Aku terlalu baik buat kamu,” ucap Melissa penuh percaya diri.
Ibram tercenung. Jantungnya seperti jatuh tercecer ke lantai, lalu Melissa menginjaknya begitu saja seusai menyampaikan kalimat menohoknya itu. Apalagi Melissa tak meninggalkan permohonan maaf sama sekali, dia malah melenggang pergi meninggalkan Ibram sendirian. Wanita independen seperti Melissa memang sulit ditaklukan, jika dua bulan Ibram pernah merasakan bagaimana pacaran dengan Melissa, tapi seharusnya Ibram menyadari kalau itu semua karena Melissa merasa kasihan padanya seorang pasien pneumonia itu.
Saat sedang berjalan tiba-tiba ponsel Melissa kembali berdering nyaring. Dia merogoh saku dan menatap layar ponselnya, panggilan datang dari Reza. “Iya, Za?” tanyanya lembut, berbanding terbalik dengan sikapnya pada Ibram.
[Aku di depan, Mel.]
Tiba-tiba saja jantung Melissa berdentum kencang sekali. Alih-alih bertanya, dia malah tersenyum tipis, baginya kejutan sekali tiba-tiba Reza datang ke tempat kerjanya, apalagi ini masih cukup pagi.
[Mel?]
“Iya?” Melissa mengerjap.
[Aku nemuin anak SMA di jalan, dia pendarahan, kamu bisa ke sini nggak?]
Jantung Melissa mencelus, bukannya menanggapi, dia malah tak menjawab sama sekali dan segera berlari keluar, tepat di pintu UGD dia tercenung menatap Reza dengan pakaian bersimbah darah. Perlahan Melissa mendekat. “Kenapa?” tanyanya sembari mengernyit dan menatap gadis yang tergeletak di atas brankar.
“Aku nggak tahu, di pingsan dan--” Reza mengedikkan bahu dan menunjukkan bagian depan tubuhnya yang penuh darah. “Aku harus pergi, Mel, mau bikin laporan ke kantor, aku titip dia sama kamu. Nanti sore aku ke sini.”
Melissa tergemap. Entah kenapa dia kangen wajah lelah Reza dan tiba-tiba dia merasa ingin menenangkan pria itu. Melissa menarik dan menahan tangannya. “Hati-hati.”
Reza menghela napas, kemudian mengangguk. Setelah Melissa melepaskan genggaman tangannya, dia kemudian pergi, dan Melissa segera mengikuti brankar yang membawa gadis pucat itu sementara dua orang perawat membersamainya.
Reza memutar roda kemudinya, dia ingin segera mengganti baju, sungguh darah yang menempel di bajunya sangat bau. Entah kenapa dia baru mencium darah sebau ini dan membuatnya ingin muntah. Setengah jam dari rumah sakit, dia berhenti di depan kantor polisi. Reza segera turun dan mencuci tangan di wastafel, setelah itu dia pergi dan berdiri di depan lokernya.
“Kenapa, Za?” tanya Rahmat heran karena Reza tampak sibuk mencari baju ganti di lokernya.
“Tadi, saya menemukan siswa SMA pingsan di jalan, dia pendarahan,” terang Reza sembari menoleh.
“Kenapa keguguran?”
Reza tercenung, dia kemudian menggeleng, tak ada sedikitpun pikiran yang terbesit ke arah sana. “Saya nggak tahu, Pak.” Reza sudah mendapatkan bajunya, dia pun segera ke kamar mandi untuk mengganti semua pakaiannya. Tak tanggung-tanggung Reza mengulangi mandinya lagi, padahal sebelum ke sini dia sudah mandi.
Rahmat masih menikmati secangkir kopi di pagi ini sembari memeriksa beberapa laporan. Reza sudah selesai mengganti pakaian. Dia membungkus bajunya dengan kantong kresek.
“Mau dikemanain?”
“Dibuang aja kayaknya. Untung tadi nggak lagi pakai seragam,” ucap Reza sembari duduk dan meletakkannya di bawah. “Saya curiga, Pak, ada seseorang dibalik ini.”
“Kenapa?” Rahmat meletakkan gelas kopinya di meja dia lalu menegakkan tubuhnya dan menatap Reza. “Ada yang mencurigakan?”
Reza tampak berpikir, dia mengingat lagi kejadian tadi pagi sebelum datang ke sini. “Gadis itu sempat meminta tolong.”
“Mmm … usia berapa kira-kira?”
Reza bukan orang yang pandai menebak usia seseorang, entah itu remaja atau anak-anak. “Yang jelas dia pakai seragam SMA, Pak.”
“Kalau gitu kamu selidiki,” ucap Rahmat sebelum menyesap kopinya lagi.
“Siap, Pak, laksanakan.”
Reza kemudian memeriksa ponselnya, untuk melihat apakah ada kabar dari Melissa atau tidak. Namun, sepertinya Melissa masih sibuk karena wanita itu tidak mengabarinya. Untuk menepis rasa penasarannya, dia mengirim pesan pada Melissa.
[Mel, gimana keadaannya?]
[Siapa?]
Reza menghela napas, dia akui Melissa sangat cepat membalas pesannya, hanya saja kenapa Melissa harus bertanya ‘siapa’, tentunya wanita itu tahu siapa yang sedang ditanyakan Reza padanya.
[Cewek yang tadi, Mel.]
[Oh.]
Hanya dua huruf itu balasan dari Melissa, entah kenapa, apakah Melissa sengaja membuat Reza gemas padanya?
Tanpa pikir panjang, Reza mendial nomor Melissa. Terdengar tawa renyah wanita itu di balik telepon begitu panggilannya terjawab. Namun, Reza tak menanggapi tawa tersebut. Dia malah langsung berkata pada intinya. “Mel, nanti siang kita ketemu.”
Melissa tergemap. Jantungnya kembali berdegup. Entah ada apa dengan dirinya, seperti baru pertama kali saja mendengar Reza mengajaknya bertemu. Alih-alih menjawab, dia malah sibuk menenangkan irama jantungnya.