Mencoba Mengenal

1699 Words
Dua anak manusia duduk satu meja, tak ada obrolan sejak enam puluh detik yang lalu, masing-masing dari mereka sibuk dengan menikmati makanan yang tersaji di meja, padahal keduanya tak sama-sama lapar. Enam puluh detik terasa seperti satu jam bagi Reza, entah kenapa dia tidak ingin melakukan perkenalan ini, tapi ibunya terlalu memaksa. Sesekali dia melirik wanita yang tengah duduk di depannya sembari menikmati spageti saus tomat.  “Kamu--” “Ya?” Seketika kalimat Reza putus saat Shafiyya mengangkat wajah dan menetapnya. Reza tak begitu suka saat dia berbicara kalimatnya dipotong begitu saja, meski hanya dengan kata ‘Ya’ seperti yang dilakukan Shafiyya barusan.  Mungkin memang Shafiyya tengah menunggu obrolan itu sejak tadi, jadi dia begitu antusias saat Reza baru saja mengatakan, ‘kamu’.  “Maaf.” Shafiyya segera menunduk saat melihat air muka Reza yang tidak begitu suka.  Reza menarik napas, dia kemudian berujar, “Baru lulus?” Shafiyya segera mengangguk gugup. Kenapa dia merasa terintimidasi dengan kehadiran Reza, padahal sedari tadi dia hanya duduk menikmati makan. Meski tak benar-benar menikmatinya.  “Jurusan apa?” tanya Reza lagi, dia memang seperti sedang menginterogasi penggugat.  Shafiyya menarik napas dalam, lalu saat embusan itu keluar ada kegugupan yang menyelimuti. “Perawat, Kak.” Jantung Reza mencelus. Itu seperti profesi Tania, kenapa ibunya ingin sekali punya menantu dari kalangan perawat, kenapa standarnya tak naik satu anak tangga saja menjadi dokter mungkin. “Suka jadi perawat?” Setiap Shafiyya hendak bicara, dia selalu menarik napas dalam, lalu mengeluarkannya perlahan, ini kenapa, apa dia punya asma?  “Ya, suka nggak suka sih, Kak.” “Kenapa?” Kening Reza mengernyit. Dia memang tidak suka dijodohkan seperti ini, namun, setidaknya dia sudah mencoba untuk mengenal. Shafiyya menggelengkan kepala. Reza kembali mengempas punggungnya di sandaran kursi. ‘Arghhh ….’ Entah kenapa Reza tak bisa membuat suasana menghangat, sejak dia memutuskan untuk menunggu Tania selama dua tahun dan setahun kemudian dia baru sadar kalau Tania tak ingin ditunggu, bahkan dia merasa Tania telah mengkhianati amanat kakaknya.  Suasana kembali hening. Bahkan Shafiyya juga merasakan kekakuan ini. Reza malah tampak sedang tertunduk sembari mengurut keningnya. Shafiyya yakin kalau ada banyak beban yang sedang dipikul pria itu, tapi bisa saja anggapannya salah.  “Kak Reza baik-baik aja, ‘kan?” tanya Shafiyya tak enak hati.  Reza mengangkat wajah dan menatap gadis itu. “Kamu sudah selesai makan? Saya antar kamu pulang,” tuturnya.   “Udah.” Shafiyya menegakkan tubuhnya.  Reza bangkit tanpa mengajak Shafiyya atau mengizinkan wanita itu berjalan lebih dulu. Bahkan dia sudah masuk ke dalam mobil sementara Shafiyya masih berdiri di luar.  Reza menurunkan kaca mobilnya kemudian melongok ke luar, dia tidak yakin kalau perempuan itu lupa caranya masuk ke dalam mobil. “Ayo masuk.” “Saya duduk di mana, Kak?” tanya Shafiyya.  “Bebas,” jawaban singkat yang menyebalkan. Shafiyya tak pernah diberi pilihan menggantung seperti ini, dia hanya ingin diarahkan, sehingga saat Reza memberinya kebebasan dia malah mematung, entah apakah dia harus duduk di depan atau di belakang. Pilihan yang sulit, bisakah dia meminta bantuan dengan melakukan panggilan pada ibunya saja?  “Kamu masih diam?” tanya Reza heran.  Shafiyya menghela napas.  Reza tampak kesal, dia agak menunduk dan segera mendorong pintu di sebelah kirinya. “Masuk!” Jangan sampai Shafiyya bilang tidak tahu caranya masuk, atau kalau tidak Reza akan pergi meninggalkannya di sini sendirian.  Shafiya mengayun kakinya sekitar dua langkah, jika itu terjadi pada Reza mungkin dia hanya harus melakukannya sebanyak satu langkah saja.  “Pasang sabuk pengamannya,” ucap Reza seraya memutar roda kemudi.  Shafiyya tampak gugup, dia kemudian memasangnya perlahan. Reza tak memasang musik. Perjalanan terjadi dalam hening, sehingga deru napas yang menyiratkan kegugupan menguar memenuhi seluruh penjuru mobil.  ‘Tuhan, please,’ gumam Shafiyya dalam hati. Pria di sebelahnya itu tampak menyebalkan, bahkan perjalanan yang seharusnya terasa singkat menjadi sangat lama, seolah dia sedang mengukur jarak antara Jakarta dan London.  “Kamu masukin nomor kamu di sini, bebas kamu mau kasih nama apa.” Reza menganjurkan ponselnya yang sudah masuk ke kontak baru dan siap memasukkan nomor baru ke sana.  “Maksudnya?” tanya Shafiyya sembari mengambil ponsel Reza.  “Mama suruh saya buat minta nomor kamu.” Ini bukan modus ini adalah sebuah kejujuran, ibunya memang akan terus mendesak Reza untuk melakukan apa yang diinginkannya, daripada ribut, Reza mengikuti saja apa maunya, mungkin ini adalah salah satu bentuk menyenangkan hati orang tua.  “Iya.” Shafiyya memasukkan nomornya dan memberi nama, ‘Shafiyya’ tanpa sayang atau embel-embel sweety. Tentu saja tidak! Bahkan Shafiyya tidak suka dengan perkenalannya dengan Reza hari ini.  Gadis itu mengembalikan ponsel Reza usai menyimpan nomor kontaknya. Dan tak berapa lama mobil berhenti di depan rumah Shafiyya.  “Makasih, Kak, udah dianterin,” ucap Shafiyya sembari membuka sabuk pengamannya.  “Saya langsung pulang,” ucap Reza sembari menatap Shafiyya yang turun dari mobil. Shafiyya kemudian berbalik seraya menutup pintu. “Hati-hati, Kak.” Mobil melesat dari depan rumah Shafiyya. Gadis itu masuk ke dalam rumah sembari mengucap salam, bukan jawaban salam yang didapat, ibunya dan Ranti sibuk ingin mendengar perihal kencannya dengan Reza.  Shafiyya menggaruk keningnya. Kalau dia katakan semua tidak baik dan dia tidak suka, apa ibunya Reza akan kecewa? Shafiya menghela napas. “Semua baik kok, Ma, Tante.” “Kesannya apa?” tanya Ranti.  “Kesan?” Shafiyya tampak berpikir. “Mmm … biasa aja sih, Tante.” Kalau Shafiyya boleh katakan, kesan pertama yang dia dapatkan adalah, Reza sangat menyebalkan! “Ah, Ran, wajar sih kalau biasa, ‘kan baru pertama ketemu, mungkin kalau kedua, ketiga, pasti ada hal istimewa, iya, ‘kan?” ucap Savana, ibunya Shafiyya.  “Iya kali, ya.” Meski Ranti tampak kecewa karena tak ada kesan istimewa yang Reza buat di pertemuan pertama. “Ya udah deh.” Ranti bangkit. “Tante pulang, ya, takut Reza nyariin.” “Masa udah segede gitu masih nyariin mama sih, Tante,” goda Shafiyya seraya bangkit. Namun, ibunya menarik tangan Shafiyya agar segera diam.  “Nggak, sih.” Ranti mengulas senyum. “Reza nggak pernah nyariin tante, lebih tepatnya, tante takut Reza curiga,” imbuhnya.  *** “Kamu batalin aja deh perginya,” bujuk pria bertato naga di lengan kanannya. Musik jazz menjadi pengiring kalimat yang baru saja Ibram ucapkan.  Kafe elit dengan mengusung musik klasik selalu menjadi pilihan Melissa, karena ini adalah tempat favorit ayah dan ibunya. Melissa selalu menemani ayahnya di kafe itu untuk merayakan hari ulang tahun pernikahannya dan mendiang ibunya.  “Aku nggak bisa, Bram, ini tuh kaya--”  “Tugas negara?”  potong Ibram.  Melissa mengangguk. “Please, kamu ngerti.” Melissa tersenyum lebar, hingga gigi putihnya nampak tersusun rapi.  “Aku nggak bisa ngerti kamu,” ucap Ibram, dia menatap Melissa dalam-dalam, baginya wanita di depannya ini memang susah ditebak. “Harusnya kamu yang ngerti aku, kalau kamu setahun di sana siapa yang rawat aku?” Melissa menggaruk tengkuk lehernya, Ibram memang bergantung padanya, sebenarnya dia tidak tega, tapi Ibram harusnya mengerti kalau ini tugas Dokter, dia harus siap saat ditempatkan di manapun. “Nanti aku rujuk kamu ke Dokter Gala, dia juga sama kayak aku.” “Aku maunya sama kamu,” ucap Ibram sembari memegang tangan Melissa.  Melissa menghela napas, kemudian menggelengkan kepala. Mau seribu orang seperti Ibram, Melissa tak akan mengubah keputusannya, dia akan tetap pergi, profesinya lebih penting daripada pria yang baru dipacarinya itu.  “Aku kok ngerasa kamu nggak peduli,” ucap Ibram putus asa. “Bukan itu, Bram, tapi--” “Udahlah.” Ibram menghela napas sembari menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. “Kamu memang harus pergi, setahun, ‘kan?” Melissa tersenyum kemudian mengangguk. “Makasih,” ucapnya seraya menggenggam tangan pria 22 tahun itu. Baru dua bulan Melissa memacari pria yang berstatus sebagai pasiennya. Entah bagaimana awalnya tiba-tiba Melissa mau menjalin hubungan dengan pria yang tiga tahun lebih muda darinya.  “Kamu di sana hati-hati,” ucap Ibram pada akhirnya. “Kamu juga di sini hati-hati.” Melissa masih mengulas senyum, meski Ibram tampak cemberut. Ibram menarik napas. “Jadi, Reza itu siapa, kenapa kamu harus pergi bareng dia?” “Dia itu--” Melissa memberi jeda, “mmm … dia orang suruhan Papi buat jagain aku di sana,” ucap Melissa hati-hati.  “Oh, ajudan. Kenapa harus dijagain, kamu takut sendirian di sana?” “Iya, semacamnyalah, tapi sebenarnya aku bisa aja pergi sendiri.” Melissa mengedikkan bahu.  “Terus kenapa kamu nggak tolak aja keinginan papi kamu?” “Udah, tapi papi pengen aku tetap dijagain dia.” Kening Ibram mengernyit. “Papi kamu kayak yang lagi merencanakan sesuatu …,” tuduh Ibram.  “Nggak kok.” Melissa mengangkat kedua bahunya. “Kata Papi di sana itu ada buronan Polisi.”  “Oh, dia sambil tugas juga buat menangkap para penjahat itu? Ah … andai aku Polisi, mungkin aku akan terlihat keren di mata papi kamu.” “Nggak gitu, Bram. Tugas dia cuma jagain aku.” Ibram menghela napas. “Aku boleh ketemu dia?” “Buat?” Kening Melissa mengerut.  “Mmm … pengen tahu aja, jangan-jangan dia lebih ganteng dari aku,” ucapnya sembari menyugar rambut.  “Bisa jadi,” tukas Melissa. “Apa?” Kedua mata Ibram membola. “Ya.” Melissa mengangkat kedua bahunya. “Bisa jadi iya, bisa juga nggak,” goda Melissa, “tapi yang jelas dia lebih tua dari kamu.” “Oh ….” Ibram memutar kedua bola matanya. “Aku kira kamu nggak jadi pergi.” “Jadi dong. Nanti aku akan pantau kesehatan kamu lewat Dokter Gala.” “Kenapa nggak Dokter Gala aja yang pergi?” rajuk Ibram. Melissa mengurai senyum. “Aku yang dipilih,” bisiknya.  “Iya, kamu memang pilihan terbaik,” puji Ibram. “Jadi,” Ibram mengedikkan satu bahunya, “nggak ada lagi yang lebih baik selain kamu.”   Melissa tak melambung, lagi pula dia sudah sering mendengar itu dari mulut Ibram, seperti saat dia bertanya, kenapa Ibram mau berpacaran dengan wanita yang lebih tua, jawaban Ibram seperti itu, karena Melissa pilihan terbaik. Lalu jika Melissa ditanya kenapa dia mau pacaran dengan pria yang lebih muda? Melissa bukan perawan tua, dia juga bukan tidak laku, bahkan Melissa terkesan terlalu banyak memilih, tapi kenapa Melissa malah menetapkan pilihan pada Ibram? Jawaban Melissa cuma satu, “Kasihan”. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD