Rio menatap tumpukan berkas yang ada di depannya dengan lelah. Memijit pangkal hidungnya pelan, Rio menghembuskan napas panjang saat menyadari jika tanggungannya untuk hari ini masih sangat banyak.
Sebentar lagi waktu makan siang, Rio baru saja berniat untuk menelepon putranya saat pintu ruangannya diketuk.
"Masuk!"
Alvin masuk dengan sebuah amplop coklat di tangan.
"Sudah dapat informasinya?" tanya Rio langsung yang membuat Alvin mengangguk.
"Nona Ify pernah bekerja di Jade Imperial sebagai chef dan berhenti bekerja tiga minggu yang lalu. Menurut kesaksian para karyawan, malam itu Nona Ify dipanggil oleh Riko ke ruangan, tapi tak berapa lama Nona Ify keluar dalam keadaan marah, membereskan semua barang-barangnya dan tidak pernah kembali setelahnya."
"Lalu?"
"Karena di kantor Riko tidak ada CCTV, saya agak kesulitan untuk mencari tahu apa yang terjadi malam itu. Tapi menurut informan saya, malam hari sebelumnya Riko menyatakan cinta kepada Nona Ify dan ditolak."
Seketika sebuah skenario yang terbayang di otak Rio, membuat laki-laki itu menggeretakkan gigi.
"Seperti respon Pak Rio, saya pun menduga sebuah skenario, tapi terlalu sulit membuktikannya, hingga ada seorang koki wanita yang mengaku sebagai sahabat Nona Ify, namanya Sivia, sudah bersahabat dengan Nona Ify sejak pertama bekerja di Jade Imperial, dia manis--"
"Stop Alvin, saya tidak butuh informasi tentang Sivia-Sivia itu, saya butuh informasi tentang Ify," potong Rio yang membuat Alvin gelagapan dan mengutuk mulutnya yang lancang.
"Maaf, Pak! Intinya dari Sivia saya akhirnya tahu apa yang terjadi karena Sivia diceritakan langsung oleh Ify. Dan .... benar! Apa yang ada di fikiran kita memang benar, Pak!"
Brakkk!!!
"Bangsatt!!" Rio benar-benar emosi. Raut wajahnya mengeras dengan urat tangan yang muncul usai menggebrak meja.
"Kosongkan jadwal saya usai makan siang! Kita ke Jade Imperial. Setelah itu, suruh menghadap saya siapapun yang sudah menerima Riko sebagai manager di restoran saya."
"Tapi, Pak! Anda punya jadwal meeting dengan Petra Constructsion untuk pembangunan resort kita di Bali usai makan siang,"
"Undur!"
"Tapi Pak--"
"Undur saya bilang!"
"Baik, Pak!" Alvin tak punya pilihan lain kecuali menurut, meski ia pasti akan dimaki-maki oleh klien setelah ini karena mengundurkan meeting secara tiba-tiba. Tapi memang lebih baik menghadapi klien daripada menghadapi Rio yang sedang marah. Amplop coklat yang berisi materi untuk meeting nanti, terpaksa ia bawa kembali ke ruangannya.
*
Restoran sudah mulai senggang karena waktu makan siang telah selesai. Sivia tampak meregangkan tubuhnya. Terasa sedikit lelah karena memang terlalu hectic saat makan siang. Biasanya saat seperti ini dirinya dan Ify akan saling bercanda lalu makan siang bersama. Namun kini Sivia sangat kesepian, karena koki cewek di sini tinggal dirinya sendiri setelah Ify resign.
"Via, lo dulu yang makan apa gue?" tanya Goldi, asistennya.
"Makan dulu aja, gue nanti gapapa."
"Oke, gue makan dulu kalau gitu."
Sivia memberikan anggukan sebagai jawaban.
Sekarang menjadi lebih santai karena tinggal satu dua pelanggan yang datang, membuat Sivia kemudian mengecek ponsel, bertukar pesan dengan Ify.
Me:
Sepi banget gaada lo ?
Ipy jeleekk:
Hahahaha, sorry! Lo makan gih sama Kak Lintang, kayanya dia ada something interest sama lo.
Me:
Something interest gundulmu! Gue nggak mau ya terlibat cinta dalam kerja. Gue kan profesional.
Ipy jeleekk:
Halah baru kemarin lo cursing ngatain betapa gantengnya orang yang datang dari kantor pusat.
Me:
Yaa buat dia pengecualian deh! Tapi emang ganteng banget Fy nggak ngotak! Seluruh tubuh gue otomatis bergetar begitu denger suaranya, lembut banget siall!!
Ipy jeleekk:
STOOPPP!!! GUE NGGAK MAU YA JADI TEMPAT KEBUCINAN LO!
Me:
Ayolaahhh! Cuma lo satu-satunya tempat sampah ternyaman gue
Ipy jeleekk:
Tai, gue disamain sama tempat sampah
Me:
Hehehe, WAIITT FY! ANJIRRR DIA KESINI LAGI! SAMA PAK BIAN WKAGSHKSNDGSJKSGAH
Sivia dengan cepat menyimpan ponsel dalam saku celananya saat menyadari eksistensi dari para petinggi di pusat. Bukan hanya sang sekretaris seperti kemarin, tetapi langsung Pak Bian, yang notabene sang CEO. Sivia sebenarnya tidak mengerti, kenapa orang-orang dari kantor pusat akhir-akhir ini sering melakukan kunjungan. Kemarin saja ia dibuat kaget saat sekretaris CEO itu menanyakan tentang sahabatnya.
"Via, ada masalah sama restoran kita? Kenapa akhir-akhir ini orang dari pusat selalu melakukan kunjungan?"
Sivia berjengit kaget saat suara Lintang terdengar sangat dekat di telinganya.
"Saya juga kurang tahu, Pak! Tapi kemarin kata Pak Alvin, sedang melakukan inspeksi dadakan. Bahkan meminta data karyawan yang pernah bekerja di sini selama enam bulan terakhir. Saya sebenarnya nggak niat nguping, sih! Tapi kedengeran, hehe!"
"Aneh banget? Emangnya dulu juga gini?"
"Kalau Bapak tanya saya, lalu saya tanya siapa? Bapak kan yang lebih lama di sini daripada saya?"
"Oh, iya juga," jawab Lintang dengan cengiran khas-nya. Head chef itu terlihat sangat bingung karena dalam sejarah ia bekerja di Jade Imperial, tidak pernah ada yang namanya inspeksi dadakan, apalagi sampai membuat Pak Bian langsung turun tangan.
*
Ruangan luas di lantai 2 yang menjadi kantor manager terlihat sangat mencekam. Udara terasa susah untuk diraih meski jendela terbuka lebar.
Riko yang tidak menduga akan kedatangan sang CEO, terlihat sangat gugup. Berkali-kali ia mengusapkan tangannya yang berkeringat ke celana.
Rio duduk di sofa single dengan kaki kanan yang menumpu kaki kiri. Tatapannya begitu tajam mengintimidasi. Sejak masuk ke dalam ruangan, tak sepatah kata pun keluar dari mulut Rio membuat Riko semakin merasa sesak. Ia seperti seekor tikus yang terperangkap di wilayah kekuasaan sang predator.
"Kamu tahu dimana salahmu, Riko Mahendra?" Suara berat Rio yang langsung to the point membuat Riko benar-benar tercekik.
"Maaf, Pak! Saya rasa semua laporan saya sudah sesuai. Saya juga sudah rekap semua data dari enam bulan lalu sesuai permintaan kantor pusat," jawab Riko mencoba tegar meski tangannya gemetar.
"Saya beri kamu waktu lima menit untuk mengingat kesalahanmu apa."
Riko benar-benar gelisah. Ia tak paham dimana salahnya. Ia sudah menyesuaikan tugasnya dengan baik sebagai manager Jade Imperial.
Benar-benar tidak ada clue yang membuat waktu lima menit akhirnya berlalu tanpa Riko sadari.
Rio yang semua bersandar di sofa lalu menegakkan tubuhnya. Melihat jam tangannya dan berkata, "Waktu sudah habis, dan kamu belum menyadari kesalahan apa."
Rio agak mencondongkan tubuhnya ke arah Riko yang duduk di sofa sebelahnya.
"Karena kamu menyentuh yang tidak seharusnya kamu sentuh!" ucapan tajam penuh penekanan yang didengar Riko membuatnya gentar. Riko kemudian memutar otak, mengais memori untuk menemukan siapa orang yang sudah ia singgung hingga sang atasan marah besar padanya. Namun ia tak mengingat apapun kecuali peristiwa tiga minggu yang lalu dimana ia hampir kelepasan menyentuh Ify.
Mata Riko membela. Ify??? Apakah Ify orang yang dimaksud oleh bosnya ini?
"Gimana? Sudah ingat dengan kelakuan bejatmu kepada karyawanmu? Atau mau kuingatkan kembali?"
Riko lantas berlutut. "Saya minta maaf, Pak! Saya khilaf waktu itu karena kalut. Saya sangat mencintai Ify sehingga tidak bisa berpikir jernih saat dia menolak saya. Saya tidak tahu kalau Ify punya hubungan dengan Bapak, saya mohon maaf, Pak!"
Bugh!
Satu pukulan mendarat di rahang Riko membuat laki-laki itu terjerembab.
"Orang tak bermoral sepertimu, tidak pantas bekerja di tempat saya. Saya tunggu surat pengunduran dirimu paling lambat jam empat sore, atau kamu tidak akan pernah bisa bekerja dimanapun setelah ini."
Rio keluar dari ruangan disambut dengan Alvin yang sejak tadi menunggu di depan pintu.
"Blacklist nama Riko Mahendra dari semua cabang BIAN GROUP! Panggil kembali Ify untuk bekerja, dan cari pengganti Riko secepatnya."
"Baik, Pak!"