Kirani melajukan sepeda motornya dengan lelehan air mata di pipi yang tak dapat ditahan lagi. Saking derasnya air mata yang turun, kerudung bagian depannya sampai basah. “Ya, Allah,” keluh pelan keluar dari mulut Kirani. Pemandangan di rumah Fadhil berkelebat terus menerus di pelupuk mata Kirani. Bagaikan film bisu yang diulang berkali-kali. Apakah ini nyata? Apakah ini mimpi? Hati Kirani bertanya-tanya saking syoknya ia melihat Renata dengan gaun malam. Apa yang telah dilakukan Fadhil dengan perempuan itu? Apakah mereka sudah .... Glek! Kirani tak sanggup membayangkan hal buruk yang sangat mungkin terjadi. Rasa sesal mendera benak Kirani secara bertubi-tubi. Apakah ia telah salah memilih pasangan? Apakah Fadhil tak sebaik persangkaannya selama ini? Jangan-jangan semua ini terjadi k

