Salini terbangun begitu mencium sesuatu di hidungnya. Aroma musk yang pernah ia temukan di masa lalu. Aromanya begitu dekat. Selang beberapa detik, Salini dapat merasakan tubuhnya yang dipeluk. Rasanya hangat dan nyaman. Rasanya aneh. Salini seperti melupakan sesuatu yang penting.
Salini mengerjapkan matanya, berusaha menyesuaikan netranya dengan cahaya di sekitar. Saat ini tubuh Salini berada di dalam rengkuhan seseorang. Salini dapat merasakan tubuh laki-laki di sampingnya. Keduanya berada di dalam posisi rebah dengan Salini yang berada di dalam pelukannya.
Tunggu, dulu … ini siapa?
Salini menggeliat, berusaha melepaskan diri dari pelukan laki-laki itu. Reza yang masih tidur pulas lantas terbangun begitu merasakan gerakan Salini. Wajahnya memandang Salini bingung, sedangkan Salini memandang Reza dengan tatapan horor.
“ASTAGA!” Salini melonjak kaget. Tubuhnya secara cepat berusaha mundur menjauh dari Reza. Karena terlalu cepat bergerak, Salini bahkan tidak menyadari tepian kasur di belakangnya. Tubuh Salini hampir saja jatuh seandainya Reza tidak dengan sigap meraih salah satu pergelangan tangan Salini dan menahannya supaya tidak ditarik oleh gravitasi.
“Hati-hati. Kamu bisa jatuh,” kata Reza mengingatkan.
Tubuh Salini membeku. Entah bagaimana Salini bisa berakhir di sini dengan Reza Soemarwoto, mantan kekasihnya. Mereka bahkan sudah satu dekade tidak bertemu, lantas bagaimana mungkin sekarang Reza ada di hadapannya?
“Aku sedang bermimpi, kan?” Salini menatap Reza dengan pandangan nanar. Perempuan ini belum mempercayai apa yang dia rasakan dan apa yang sedang ia lihat.
“Sayangnya, bukan. Ini tempat tinggalku seandainya kamu bingung.”
Salini memandang Reza dengan tatapan heran. Karena merasa situasinya tidak akan membaik maka, Salini langsung melepaskan genggaman Reza dari pergelangan tangannya. Salini turun dari kasur dan berdiri, hendak meraih pintu. Akan tetapi, langkah Salini terhenti manakala ia merasakan kepalanya yang berdenyut sakit. Rasanya seperti seseorang baru memukul tengkorak Salini tanpa ampun.
Rasa sakit itu selalu muncul setiap kali Salini mabuk. Namanya hangover.
“Are you okay?” Reza berusaha memastikan kondisi Salini. Ditepuknya pelan bahu Salini membuat perempuan itu menoleh dengan wajah pucat. “You looks so pale. Sebaiknya kamu istirahat sebentar. Baru setelah itu, aku akan mengantar kamu pulang.”
Rupanya sentuhan Reza pada bahu Salini berhasil membangkitkan ingatan Salini yang hilang. Salini melihat seluruh adegan di pub bagai film yang diputar ulang tepat di depan matanya sendiri.
“Kalau begitu, menikah denganku saja,” kata Reza tegas.
“Kalau ciuman kali ini berhasil kamu boleh menikah denganku, tapi kalau enggak … sebaiknya kamu pergi seperti dulu.” Tepat setelah Salini menuntaskan kalimat terakhirnya, ia mendaratkan bibirnya yang basah oleh sisa wine pada bibir Reza.
Sekalipun mabuk, Salini masih bisa mendominasi Reza. Gerakan bibir Salini begitu menuntut dan kasar. Sementara itu, Reza hanya menjadi pihak yang membuka dan menerima.
Salini ingat, di antara ciuman itu, dia bisa mencium aroma musky dari tubuh Reza.
Harus Salini akui jika ciuman malam itu begitu berkesan. Salini ingin melakukannya lebih lama jika saja hentakan mual tidak muncul. Dengan cepat Salini menarik tubuhnya mundur dari Reza. Tidak lama dari itu Salini muntah. Tepat di hadapan Reza.
Hanya saja, alih-alih meninggalkan Salini, Reza justru ikut berjongkok di samping Salini dan membantu menepuk-nepuk punggungnya.
“Enggak jijik?” tanya Salini sambil mengusap ujung bibirnya yang berair.
“Memangnya kenapa harus jijik? Throwing up after drunk is not a disease. Instead, it signifies that your body is getting rid of toxins in the alcohol.”
Salini bangun dengan sedikit sempoyongan. Toleransi tubuhnya terhadap alkohol memang payah. Padahal baru beberapa detik yang lalu Salini merasa seperti sedang ada di atas awan.
“Kamu memang selalu bisa membuat orang lain merasa nyaman, Re,” kata Salini dengan mata yang semakin sayu. “This is your biggest fault.”
Reza hendak bertanya maksud dari ucapan Salini, namun harus urung dilakukan karena pada detik berikutnya tubuh Salini sudah limbung. Sebelum tubuh Salini membentur paving block yang keras, Reza sudah terlebih dahulu meraihnya ke dalam pelukan.
“Pulang hm ….” Salini meracau. “I wanna go home, Re … tapi jangan pulang ke rumahku.”
“Kenapa? Takut bertemu Om Jun?”
Salini menggeleng lemah. “Nope. Aku merasa payah kalau pulang dalam kondisi begini. But, I wanna go home so badly.”
“Pulang ke rumahku hm?” Reza menawarkan diri.
“Not bad.”
Setelahnya Reza benar-benar membawa Salini ke penthouse-nya. Reza merebahkan Salini pada salah satu kamar kosong. Tubuh Salini meringkuk seperti janin di atas kasur yang lembut. Tampaknya Salini kedinginan karena pakaian yang ia kenakan basah terkena muntahan tadi.
Reza tidak mungkin menggantikan pakaian Salini, jadi dengan cekatakan Reza meraih mangkuk plastik di dapur, mengisinya dengan air, dan membawa selembar handuk wajah ke kamar Salini. Hati-hati sekali Reza membersihkan sisa muntahan Salini yang menempel di baju dan sudut bibirnya.
Di tengah proses itu, Salini membuka matanya. Pandangannya terlihat redup, menandakan bahwa Salini belum sadar sepenuhnya dari pengaruh alkohol.
“Dingin, Re,” kata Salini dengan suara pelan, mirip bisikan. Satu tangannya bergerak guna meraih pergelangan tangan Reza, menghentikan laki-laki itu dari tindakan membersihkan bibir Salini. “Enough.”
Reza sedikit kikuk. Pertemuannya dengan Salini terlalu tiba-tiba, lamarannya juga tiba-tiba, dan sekarang Salini tidur di kasurnya. Semua ini benar-benar di luar dugaan Reza.
Secara pelan Reza menarik tangannya menjauh dari tubuh Salini. “Okay, kalau begitu sekarang sebaiknya kamu tidur. Besok pagi aku akan mengantar kamu pulang sebelum jam kerja dimulai.”
Reza meletakan mangkuk plastiknya pada nakas. Ia bersiap meninggalkan Salini jika saja perempuan itu tidak mengatakan sesuatu.
“Tidur di sini aja.”
“Ya?” Reza memandang Salini dengan tatapan terkejut. “Kamu mau apa?”
“Tidur di sini, malam ini, bersamaku. Just sleep.” Salini menepuk-nepuk sisi kosong di kasurnya untuk Reza.
Pada awalnya Reza berniat untuk menolak, namun urung. Reza berjalan memutari sisi kasur yang lain dan merebahkan tubuhnya di sana. Langit-langit kamar yang putih polos menjadi pemandangan Reza malam itu.
“Kamu sudah merasa lebih baik?” Reza bertanya setelah lima menit keduanya hanya diam.
“Hmm….” Salini bergumam seadanya.
Embusan napas halus sesaat kemudian menyapu wajah Reza. Ketika menoleh, Reza dapat melihat wajah Salini yang dekat. Perempuan itu tidur dengan wajah menghadap Reza. Kedua alis Salini sesekali mengkerut, dirinya tampak tidak nyaman.
Kemudian, seperti kebiasan yang sudah sering Reza lakukan di masa lalu, telunjuk Reza bergerak mengusap kening Salini, membuat kerutan halus di permukaan kulit itu berangsur-angsur hilang.
“Sleep well,” bisik Reza, kepada dirinya sendiri juga kepada Salini.
Suara Reza membuat Salini terusik. Salini bangun untuk menjumpai wajah Aji Suwartapradja, mantan kekasihnya setelah Reza. Kadar alkohol yang terlalu tinggi di dalam darahnya membuat Salini berhalusinasi.
Salah satu tangan Salini menyentuh pipi Reza yang ia lihat sebagai Aji. Salini mengusap kulit pipi Reza untuk turun ke bagian rahang. Di sana, kulit Reza terasa lebih kasar karena bulu-bulu halus bakal jenggot.
“I miss you,” kata Salini. “I miss you so badly.”
Reza tentu saja mengira jika ungkapan itu diberikan untuknya.
“Can we get back together?” Salini bertanya dengan setitik air mata yang jatuh.
Reza yang kebingungan tidak dapat mengatakan apapun dan hanya memeluk Salini. Salini menangis di dalam pelukan Reza selama beberapa saat hingga jatuh tertidur.
Dengan kedua tangannya sendiri, Salini menjambak rambutnya. ASTAGA! Sekarang Salini sudah mengingat semua tindakan dan perkataan bodohnya.
“Kamu tidak apa-apa?” Reza bertanya sekali lagi, pasalnya Salini bertingkah aneh sejak bangun pagi tadi.
Salini menurunkan tangannya. “Kamu … melamarku? Semalam kamu melamarku? Di pub?”
Anggukan dari Reza terasa bagai cambukan petir bagi Salini. “Kita akan betulan menikah? Like, a real damn married? You and me?”
Reza mengembuskan napasnya kasar. “Tampaknya kamu sudah lupa.”
Merasa jika percakapan mereka tidak berarti, Reza memilih untuk berjalan menuju pintu dan meraih kenopnya. Sebelum meninggalkan Salini, Reza berkata, “Seandainya kamu tidak menginginkan pernikahan itu, maka sebaiknya tidak usah. Aku masih bisa mencari pengantin lain, begitu pula dengan kamu.”
Sudah, batin Salini. Salini sudah berusaha mencarinya melalui aplikasi kencan online. Hanya saja, mereka semua tidak ada yang sewarasa Reza. Selain itu, untuk beberapa alasan, Salini merasa jika Reza dapat dipercaya.
“Tunggu, tunggu!” Salini mengejar Reza dan meraih ujung pakaiannya. Hal tersebut membuat Reza berhenti melangkah dan berbalik guna menatap Salini.
“Begini … um ….” Salini sedang berpikir, mencari kalimat terbaik yang harus ia katakan kepada Reza. Sebuah kalimat yang tidak akan membuat Salini terkesan sedang memanfaatkan Reza. Toh, Reza juga membutuhkan Salini.
“Let’s get married then,” ajak Salini. “Just for two years. Aku butuh kamu hanya dua tahun. Hanya sampai nama baikku pulih dan bisnisku stabil. Tentu kita bisa saja menikah hanya dua atau tiga bulan, tapi kayaknya itu bukan ide bagus … orang-orang mungkin akan berpikir kalau kita problematic karena cerai padahal usia pernikahan baru seumur jagung. Tapi, kalau dua tahun pasti masyarakat akan paham kalau kita sama-sama enggak cocok. Gimana menurut kamu?”
Reza mendapatkan first unexpected proposal dari Salini yang merupakan mantannya sepuluh tahun silam.
Reza tahu Salini bukan orang yang terlalu buruk untuk dijadikan sebagai teman satu rumah. Pernikahan dengan Salini pastinya akan diisi tanpa cinta dan hanya ada kepentingan yang menguntungkan bagi kedua belah pihak. Hubungan keduanya adalah simbiosis mutualisme.
“Okay.” Reza menyetujuinya.
[]