"Di Chicago, ada berapa orang yang dicari?" "Dua." "Berarti kita fokus sama ini aja," tuturnya lantas membalik badan. Heran melihat Nabila yang tampak masih termenung. "Kenapa?" Nabila menghela nafas. Lantas menggelengkan kepala. "Masih syok aja. Gue kira beneran orang yang kita cari." Shadiq terkekeh. "Namanya juga hampir sama. Sebetulnya, yang bikin gue masih kaget itu adalah dia ternyata adiknya." Shadiq mengangguk-angguk. Lalu mengajak Nabila untuk masuk ke bandara. Melanjutkan perjalanan menuju Chicago. Lalu duduk di depan pintu keberangkatan sembari menunggu Ammar, Upik, dan Bastian. "Gue kira, mereka mungkin orang yang--" "Yang seperti ada di dalam kepala lo tentang orang Amerika? Bukan seseorang yang bahkan memeluk Islam bahkan menjadi imam masjid?" Nabila mengangguk-ang

