Seseorang bisa datang dan pergi kapan saja
Satu hal harus kita ingat
Jangan terlalu dalam menaruh harapan padanya
Sebab, sumber kecewa paling nyata adalah ketika harapan itu menjadi cambuk paling menyakitkan bagi kita...
***
Malam itu, semalaman disya tidak bisa tidur. Jangankan terlelap, memejamkan mata saja sulit dilakukan. Ia terus memikirkan kejadian tentang Abrar. Pikirannya memberontak ingin menolak kenyataan, bahwa ia ingin melupakan semuanya, dan sementara waktu menutup pintu hatinya rapat-rapat. Namun agaknya fakta semakin jelas. Bahkan Abrar justru semakin melekat di hatinya.
Disya galau malam itu. Gadis berhidung bangir dengan wajah cantik itu terus memukul-mukul bantal, serta menggerutu tak karuan. Sebab hatinya terus berdebar kencang. Bibirnya juga tak bisa berhenti tersenyum. Ia menyukai apa yang dilakukan Abrar untuknya. Ia menyukai ketulusan Abrar padanya. Dan ia juga menyukai kesetiaan Abrar padanya selama ini. Sesuatu yang belum ia dapatkan dari siapa pun, termasuk sang mantan kekasih.
Sebuah ketukan pintu mengganggu kegiatannya melamunkan Abrar, dengan segala Gejolak yang sulit dihentikan. Ibundanya masuk seraya berkacak pinggang. Dua matanya menyala-nyala bak harimau diganggu musuh. Jelas saja Rahayu tampak marah dan geram. Bisa dipastikan, tentu berkaitan dengan ulah Disya. Ia baru saja dapat telepon dari temannya di Jogja. Bahwa anaknya dan dan Pakleknya mengadu tentang sifat dan sikap Disa yang kurang pantas menurutnya. Disya tidak kaget. Ia tahu betul bagaimana seorang Arif. Sangat pengaduan pada ibunya. Tapi ia pun tidak ambil pusing dan cuek saja.
"Kamu itu apa-apaan sih Dis?! Kan Bunda sudah bilang, kamu harus baik-baik sama Arif. Kenapa malah kamu bikin dia kesal?! Bunda jadi malu sama ibunya tahu!" omel Rahayu sembari mengurut kening frustrasi.
"Memangnya Disya salah apa Bun? Kan udah aku bilang aku nggak suka di jodoh-jodohin. Aku nggak suka dipaksa-paksa. Hidupku ya aku yang jalani. Aku yang berhak. Bunda harusnya mendukungku, karena ini masa depanku, Bun." Sebentar Disya meneguk minuman di atas nakas. Lalu kembali terfokus menatap wajah ibunya.
Rahayu termenung sejenak mendengar kalimat anaknya tersebut. Hatinya sedikit bergetar dan merasa agak bersalah. Bila diingat lagi, pernikahan anak keduanya, -Laras- juga tak seberhasil harapannya malah kacau balau. Ia ingin yang terbaik untuk anaknya. Akan tetapi apa daya, takdir punya jalannya sendiri. Sekarang ia bimbang. Akankah meneruskan rencana perjodohan Disya dan Arif atau harus mengusaikannya?
"Bunda cuma ingin yang terbaik buat kamu. Buat semua anak-anak Bunda. Apa Bunda salah? Kenapa sih, sekali aja kamu nggak pernah nurutin mau Bunda? Padahal Bunda mikirin kamu. Pengen anak Bunda hidup enak, hidup nyaman, dan berkecukupan. Itu aja, nggak neko-neko," jelasnya. Kemudian duduk di dekat putri bungsunya yang sibuk memainkan rambut.
"Gini ya Bun, Disya ngerti apa yang Bunda pengen. Apa yang Bunda maksud. Apa yang Bunda harapkan. Disya juga sadar Bunda ingin yang terbaik untuk kami. Tapi, pernikahan itu bukan sebuah nota belanja, yang bisa kita minta dan kita terima angkanya gitu aja. Hati nggak bisa dipaksakan. Bahkan yang diawali dengan cinta aja belum tentu itu bisa dijalani dengan bahagia. Apalagi yang tanpa didasari cinta sama sekali? Mau jadi apa pernikahan kami nanti?"
"Terus sampai kapan kamu mau ngarepin Adit?! Laki-laki nggak jelas gitu kamu kejar-kejar. Ada hasilnya? Ada timbal baliknya? Hah?!" Rahayu tampak mengeram. Ia agak kesal dengan kebucinan anak ketiganya ini.
Wanita paruh baya tersebut belum tahu, anaknya tak berhasil membawa pulang cintanya. Disya hanya menghela napas panjang dan mengembuskannya kuat-kuat. Ia sedih ketika ingat Adit. Namun tak berlangsung lama. Saat wajah Abrar tergambar di pikirannya, seketika kepedihan itu berubah menjadi sebuah senyum. Senyum yang begitu manis. Senyum yang menandakan, bahwa gadis itu baru saja tertarik akan sesuatu. Hanya saja masih ia sembunyikan tanpa disadari.
Melihat wajah anaknya tiba-tiba berubah berbinar-binar, Rahayu sangsi. Ia pikir Disya baru kerasukan makhluk halus nyasar. Ibu tiga anak itu pun menggeser duduknya sampai ke sebelah Disya. Dan langsung menepuk pundak putrinya. "Kamu ngelamunin apa?! Kok mesam-mesem kayak semar mendem, nggak jelas," tukas Rahayu mengagetkan Disya.
Belum sempat menjawab, dering ponsel Rahayu menyelamatkannya dari cecaran panjang ronde kedua ibunya. Rahayu mengangkat dan ke luar dari kamar Disya. Sementara sepersekian detik, ponsel Disya juga berbunyi. Ada panggilan masuk dari seseorang. Suara di seberang sana mengucapkan salam. Dengan enggan dan setengah hati Disya membalas malas.
"Ada apa?"
"Kok ketus gitu sih? Nggak seneng ya aku hubungi kamu?"
"Udah tahu, pakai nanya segala. Ada apa? Aku ngantuk, mau rehat."
"Aku udah ambil keputusan."
"Soal apa?" Disya mengerutkan dahi. Baru kali ini ia tak suka Adit meneleponnya. Mungkin hatinya mulai layu pada pria itu.
"Soal hubungan kita. Aku akan balik ke Jakarta. Tabunganku lumayan, cukup buat kita menata masa depan sama-sama. Kamu mau kan nikah sama aku?"
Pertanyaan itu harusnya menjadi hal terbaik sepanjang hidup Disya. Ia menantikannya cukup lama. Entah kenapa, sayangnya sekarang semua tak lagi sama. Adit benar-benar bukan hanya tidak pandai mengambil dan memulangkan kepingan hati Disya secara benar. Ia juga tidak pintar memahami isi hati dan memperlakukan Disya dengan manis. Jauh berbeda sekali dengan Abrar. Kini, pikiran Disya mulai dipenuhi oleh nama Abrar.
"Kamu habis kejedot pintu?"
"Maksudnya?"
"Kayak gini caramu melamar seseorang? Adit, kamu itu udah nggak jago jaga hatiku. Ditambah nggak menguasai pengertian ke aku sama sekali. Lupain aja semua. Aku udah resign dari perasaan lamaku ke kamu. Kita nggak usah kontekan atau ketemu lagi. Bye maksimal!"pekik Disya secepat kilat. Ia mematikan telepon dan menarik selimut. Bersiap untuk mengarungi mimpi indahnya tanpa Adit lagi.
Dadanya meletupkan perasaan lega. Akhirnya, ia berani ambil keputusan besar. Menolak seseorang yang sempat ia perjuangkan dan kejar mati-matian sampai melewati pulau. Ujungnya, ia pula terdampar di lembah nestapa penuh pembelacaraan berharga. Berharap pada orang yang salah, adalah sumber kecewa paling besar. Dan ia baru saja mengusaikan semua. Berharap esok, hatinya yang patah disatukan kembali oleh seseorang yang lebih tepat.
Saat hampir setengah lelap, sayup-sayup terdengar suara ketukan, dari arah jendela kaca kamar Disya. Gadis itu terkesiap dan sigap melonjak. Ia pikir ada maling. Diambilnya tongkat panjang di sudut ruangan. Langsung mengendap perlahan mengintip dari ujung tirai. Begitu tahu siapa yang datang menyelinap, Disya langsung membuka pintu kaca di samping jendela. Ia juga menyibak tirai panjang agar tak menghalangi jalan.
"Lo ngapain?!" serunya kaget.
Abrar meringis. Satu tangannya menyodorkan kotak makan Tupperware pada Disya. "Buat elo," katanya cengengesan.
"Apaan?"
"Gue lihat lo bikin status pengen makan cilok pedes manis. Yaudah gue bikinin."
"What?! Lo dateng ke sini cuma buat ngasih ini? Nggak salah?" Disya tak menyangka. "Besok kalau gue bikin status pengen makanan Korea, apa lo juga bakal lari ke Korea dan bawain buat gue?! Stupid!" cecarnya. Meski di bibir ia tampak kesal, sebenarnya dalam batin Disya berbunga-bunga.
"Namanya juga lagi usaha."
"Terus lo kenapa nggak lewat pintu depan?"
"Ada Bunda. Ntar gue malah disuruh nemenin karaokean Campur Sari lagi. Bisa ambyar kuping gue denger lengkingan suara Bunda. Kecuali ada elo, gue nggak akan nolak sih."
"Idih, geli gue dengernya."
"Lama-lama lo bakal terbiasa kali. Malah bakal ketagihan."
"Ketagihan sama apa?"
"Sama ini-"
Dan sebuah kecupan kilat mendarat di pipi Disya. Abrar tak menunggu respon sang gadis pujaan. Ia langsung meloncat dari pembatas balkon dengan sigap. Untung kamar Disya bukan ada di lantai atas. Tidak sulit menjangkaunya. Pria itu menebar kissbay, lalu pergi secepat kilat setelah mengatakan sesuatu. "Jangan mimpiin gue, ntar lo nggak mau bangun, berabe!" ujarnya.
Sementara Disya sudah geleng kepala sambil mengusap pipi bekas kecupan Abrar. Bukan marah, ia malah tersipu-sipu menahan debaran dalam d**a. Malam itu, sampai subuh Disya terjaga bertemankan cilok rasa cinta. Menemani dirinya nonton drama Korea. Membayangkan lakon utama diperankan olehnya. Anehnya, bayangan Abrar juga muncul di sana.
"Kenapa gue gini sih?!" racaunya bimbang. Sudah berulang kali memukul kepala pelan, berharap enyah wajah Abrar dari isi kepalanya.
=======♡ Really Lover ♡=======
Sekilas sapa_
Duh, si Disya mulai klepek-klepek kayaknya ya. Hmm, memang perlu dipepet terus biar makin luluh lantak kali ya. #plakk
Tolong abaikan bila masih ada tipo berkeliaran. Hehe. #peace.
Keep strong gais!! Sehat-sehat yaw. Thank love dan komennya. Uwuwu.
=============================