POV Nadira
"ok aku setuju dengan semua persyaratannmu , tapi aku sendiri meminta jangan pernah ikut campur dengan semua urusanku dan jangan macam-macam denganku "
"baiklah , saya setuju, pakailah bajumu , hari ini kita bertemu dengan keluargaku, dan keluargaku akan segera menghubungi keluargamu, persiapkan dirimu, ingat jangan sampai ada satu orangpun di luar dari keluarga kita yang tahu, kita akan menikah " ucapnya Robin sambil berdiri
karena memang di perusahaannya di buat aturan tidak di ijinkan menikah dengan satu perusahaan. atau salah satunya harus resign ,
"mau apa kamu " teriakku melihat Robin membuka pakaian tidurnya
"saya mau ganti baju "
sambil melepaskan piyama tidurnya
tubuh Robin yang kekar membuat mata ini tidak ingin mengalihkan pandangannya
tapi aku menepis semuanya
"apa-apaan sih , kalau mau ganti baju jangan di sini " teriakku ke Robin
"saya ini bos kamu , saya tidak suka kamu suruh2 seperti itu "
Robin mendekatkan wajahnya ke wajahku
kita berdua sangat dekat saat itu , hati ini berdebar sangat kencang,
tapi aku sendiri sadar bahwa pak Robin Danuarta tidak akan pernah mencintaiku ,
kita berdua akan menikah karena sebuah kecelakaan
huft sadar sadar Nadira kamu itu siapa ( ucapku dalam hati ),
"terserah kamu " ucapku sambil membawa pakaian ke kamar mandi
setelah membersihkan badan Robin memintaku untuk sarapan lalu membawaku ke salon dan memilih pakaian yang pantas
Robin mengajakku ke rumahnya , mengenalkan ke semua keluarga
dan mengumumkan bahwa akan menikahiku
di dalam mobil menuju salon
kita hanya diam kaku tidak ada obrolan apapun ,
aku pun segan untuk mengajaknya bicara
karena memang Robin terkenal sebagai bos yang dingin , sombong dan angkuh
aku sendiri seperti mimpi bisa duduk di samping Robin di dalam mobilnya berdua
"ingat ya , kalau sudah sampai rumah di depan orang tuaku kamu harus bilang kita sudah pacaran lama , saling mencintai dan siap untuk menikah "
ucap Robin dengan suara gagahnya , tapi dia tatap fokus menyetir mobil tanpa melihat ke arahku
"iya " jawabanku singkat
saat ini aku sudah di make over di salon ternama dan di pilihkan baju
aku memakai riasan yang tipis tapi terlihat elegan ,
rambutku di urai dan di gelombangkan
kacamataku di tanggalkan di ganti dengan memakai softlens berwarna grey
pakaiannku dress berwarna hitam di bawah lutut dengan belahan samping , dengan bagian d**a yang sedikit terbuka ,
saat aku keluar menghampiri Robin
Robin tidak berekspresi hanya diam
dan langsung menarik tanganku menuju ke mobil
aku semakin terpanah melihat Robin yang memakai jas warna hitam dengan rambut yang di sisir rapih ke samping
terlihat begitu tampan , dan saya yakin semua orang di salon itu pasti iri melihatku bersama Robin
mobil Robin masuk ke sebuah gerbang yang sangat besar dan tinggi
terparkir di luar dekat taman dengan hiasan air mancur seperti yang saya lihat di tivi,
kita berdua sampai di hunian yang mewah dan megah dengan nuansa putih dan gold
di depan kami berdua di sambut 6 orang yang berpakaian rapih
dan mereka menundukkan kepalanya saat kami lewat
aku terdiam melongo melihat suasana seperti ini
kami berdua menuju ruangan yang terdapat meja pajang yang sudah banyak makanan dan banyak orang yang sepertinya menunggu kedatangan kami berdua
Robin memeluk pinggangku dengan senyuman yang sangat tampan
"ya ampun aku seperti mau pingsan di buatnya " dalam hati ku bergumam
aku di sambut hangat oleh semua keluarganya
di sana saya di kenalkan dengan ayahnya Robin, ibunya , adiknya , istri ke 2 ayahnya dan ada ke dua pamannya yang sekaligus orang kepercayaan ayahnya
dan yang membuat saya kaget sampai tersendak, ternyata pernikahanku dan Robin sudah di siapkan semua dan saya tidak di ijinkan untuk pulang
"pernikahan kalian besok , Nadira semua kebutuhanmu sudah kami siapkan di kamar Robin , kamu tidak usah pulang "
ucap ayah Robin sambil menyuapkan makanannya , mereka semua terlihat sangat bahagia terkecuali istri ke dua ayahnya ,
"tapi....bagaimana dengan orangtuaku,
aku belum mengabari orang tuaku "
ucapku kepada mereka
"tenang saja , orang tua mu sudah di kabari, dan orang2 kami sudah menjemput orang tuamu untuk datang ke sini , kami sudah memberi tahukan kabar ini ke orang tuamu , dan orangtuamu menyetujuinya "
lanjut ibunya Robin memberitahuku dengan ekspresi yang ceria
"setelah makan kamu istrihat saja di kamar Robin , semuanya sudah kami siapkan "
ucap ayahnya robin
" hah , kamar pak Robin , eh maksudnya , kamar Robin ? "
jawabku sambil merasa risih
" iya , di kamar Robin , kaliankan akan menikah besok , jadi gak ada salahnya kamu sudah tinggal di kamar Robin "
ayahnya menjelaskan lagi
ku lirik ke arah Robin yang tanpa ekspresi dan komentar apapun.
seolah Robin menyetujui semua yang di katakan ayahnya
tapi.. Robin sendiri yang meminta kalau kita tidak bisa satu kamar setelah menikah
setelah makan selesai , aku di antar oleh asisten rumah tangganya yang bernama Rina umurnya sekitar 30 tahunan
rina mengantarkanku ke kamar Robin
" silahkan nyonya , ini kamarnya tuan Robin , semua pakaian , perlengkapan nyonya sudah di siapkan tinggal pakai saja , jika butuh sesuatu panggil saya saja nyonya , karena saya di tugaskan untuk melayani nyonya"
saat pertama masuk kamar Robin
mata ini di buat melongo karena kamarnya sangat luas dan mewah ,
mungkin di banding rumahku dua kali lipat nya saja masih luasan kamar Robin
"jika nyonya sudah tidak butuh apa-apa , saya permisi dulu ya "
ucap Rina ART di rumah ini
" tunggu , nama kamu siapa ?"
tanyaku
" nama saya Rina nyonya "
" jangan panggil nyonya , panggil nama saja , saya Nadira "
" maaf nyonya saya tidak berani memanggil nama "
" gak PP ko , kamu udah lama kerja di sini , kamu temani saya dulu ya , saya masih belum biasa di sini "
pintaku ke Rina
" saya kerja disni baru 2 tahun nyonya "
" saya mau tanya pak Robin , sebelumnya apa pernah bawa perempuan ke rumah ini , atau masuk ke kamarnya "
tanyaku penasaran
" dari pertama saya bekerja disini , saya tidak pernah melihat tuan Robin membawa perempuan, saya juga jarang melihat tuan Robin pulang ke rumah "
rina menjelaskan sambil menunduk
" Rina kamu kalau bicara sama aku jangan nunduk ya , biasa aja gk usah kaya gtu "
pintaku ke Rina
"baik nyonya "
di saat kami berdua sedang mengobrol
tiba-tiba Robin datang
" ehem , masih lama mengobrolnya " suara Robin yang dingin membuat
Rina langsung pergi meninggalkan kami
" saya permisi nyonya , tuan " ucap Rina sambil meninggalkan Kami berdua
Robin menutup pintu kamarnya
dan dia mendekatiku
akupun terus mundur sampai akhirnya aku jatuh di kasur dan tubuh Robin yang perkasa menindih tubuhku
kami saling berpandangan satu sama lain
rasanya semua seperti mimpi bisa berdekatan seperti ini dengan Robin
" ingat ya pernikahan kita hanya karena malam itu, karna saya hanya takut kamu sampai hamil gara2 malam itu ,bukan karna rasa cinta "
ucap Robin yang membuatku sangat sakit
langsung aku mendorong tubuh Robin ,
untuk pertama kalinya tanganku menyentuh d**a bidang yg berotot
tapi Robin tidak sedikitpun tergeser
lalu Robin memegang tanganku seolah ingin menciumku
dan membisikan di telingaku
" hanya malam ini saja kita tidur di kamar yang sama , setelah menikah kita tinggal berdua di rumah yang sudah ku beli , dan di sana sudah di siapkan untuk kamarmu dan kamarku "
lalu Robin bangun dari tubuhku ,
Robin bergegas menuju lemari pakaian dan mengambil handuk putih ,
sepertinya Robin mau mandi , tapi aku harus bagaimana
aku masih di dalam kamarnya, apa aku harus keluar kamar
sebelum aku keluar kamar ,
Robin sudah menghentikanku terlebih dahulu
" kamu jangan kemana-mana , nanti keluargaku curiga jika kita tidak saling mencintai "
ucap Robin sambil berjalan ke arah kamar mandi
aku hanya diam tidak membalas perkataan Robin
selang beberapa menit Robin keluar dengan hanya memakai handuk putih ,
rambutnya yg basah , wajahnya yang maskulin , serta tubuhnya yg kekar membuat jantung ini tidak bisa berhenti berdenyut kencang
"andaikan kamu milikku , dan pernikahan ini atas rasa kasih sayangmu, mungkin aku adalah perempuan yang paling bahagia di dunia ini " gumamku dalam hati
Robin menghampiriku dan menyuruhku mandi ,
" handuknya ada dalam kamar mandi yang baru, kamu bebas pilih yang mana saja kamu suka, cepetan mandi , sebentar lagi orang tuamu datang "
mendengar hal itu aku buru2 langsung ke kamar mandi
sungguh menakjubkan kamar mandi ini rapih , bersih , elegan , wangi , seperti di film2 yang sering aku tonton ,
setelah aku mandi dan ku basahi juga rambutku agar pikiranku merasa segar
aku hanya memakai handuk berwarna putih juga , pakaian yg tadi ku pakai basah ,
aku melihat sekeliling tapi ternyata Robin tidak ada di dalam kamar
"loh , dia kemana , ah mungkin dia udah keluar , baguslah "
aku mencari baju baju ku yang katany di taruh di lemari
tapi aku tidak menemukan bajuku
aku ingin memberitahu Robin lewat pesan tapi ponselku tertinggal di mobil Robin.
jadi aku hanya menunggu sampai Robin kembali masuk ke kamar
karena menunggu Robin sangat lama
aku memutuskan untuk tiduran sebentar di kasurnya Robin.