Malam berbagi menjadi pagi yang menyelimuti wajah Itomi.
Dia merasa pernah bertemu dengan wanita itu entah dimana. Setelah beberapa bulan sejak kejadian kecelakaan di Tokyo.
Dia belum mendapatkan kabar dari Nakano mengenai gadis itu.
Nakano hanya bilang gadis itu sudah siuman,lalu sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh dan hanya amnesia ringan dan tidak mengingat kejadian kecelakaan tersebut. Itomi sedikit menyesal tidak menemuinya ketika masih di Tokyo untuk sekedar minta maaf.
Namun,nasi telah menjadi bubur,waktu tak dapat diputar.
Hari ini rencananya Anako adik Itomi akan melakukan pemilihan model fashion barunya. Itomi segera bergegas memakai baju terbaik dan jas terbaiknya. Pemilihan Model akan dilakukan olehnya dan Anako,pengalaman dari Nakano yang kesal karah Mery Rose sang model selalu berulah,membuat para staff kelelahan berusaha memenuhi keinginannya yang aneh bin ajaib.Itomi keluar gedung apartemen dengan mobil Hyundai kesukaannya berwarna putih.Dan sebuah telepon berdering dari Anako.
"Konichiwa,Oniichan ada dimana?"Kata Anako bingung.
"Anako-chan, bersabarlah Oniichan sedang menuju ke tempatmu sekarang,Sudah dulu yah,Kata Itomi dengan wajah agak.kesal karena adiknya meneleponnya ketika dia sedang menyetir di mobil.
"Arigato Gosaimas Oniichan,aku akan menunggu Oniichan,"kata Anako girang.
"Tentunya Anako-chan, Aku akan segera tiba,"Kata Itomi berjanji pada adiknya.
Dengan cepat Itomi melajukan kendaraannya,menuju sebuah gedung dimana perusahaan adiknya berdiri.
Seorang satpam membukakan pintu kepadanya,menyapanya dan Itomi terus berjalan menuju lantai paling atas gedung.
3jam sebelumnya di Jakarta
"Apa kau yakin dengan keputusanmu?" Kata nenek Sonoko bingung.
"Tentu sajah,nenek."Kata sonoko antusias
"Dengar Sonoko kau itu bisa bekerja di Jepang ayahmukan orang sana,"kata Bibi Ana dengan Menahan nafas.
"Tidak,sayang kau sudah kubiarkan membantu Si Alan itu, sekarang kau ingin jadi model,yang bener sajah?"Kata Nenek Sonoko marah.
"Itu cita-citaku nenek,makanya aku jauh-jauh ke Indonesia, aku suka disini. Jika disana aku akan ingat kecelakaan itu,nenek.Maka Otosan dan Okaasan mengirimku kemari nenek."kata Sonoko dengan Suara dibuat melirik.
"Astaga seharusnya nenek membiarkan Ibumu melarang kesini,"kata Nenek frustasi.
"Ibu,jangan seperti itu kakak bermaksud baik,"kata Bibi Ana membela kakaknya.
"Benar,nenek lagipula Otosan sudah mengizinkan aku berada disini,"kata Sonoko dengan wajah berbinar.
"Nenek,mau kekamar sajah,terserah kamu mau ngapain.Tapi ingat Jam 23.00wib kau harus sudah dirumah,tidak boleh sampai tengah malam karena kau tidak mengenal siapapun di Jakarta,"Kata Nenek Sonoko tegas.
"Atau Bibi antaranya sajah ke Fashion itu,kebetulan searah dengan tempat kerja Bibi,"kata Bibi Ana.
"Mohon bantuannya yah,bi."kata sonoko riang.
"Ayo, bibimu bisa telat karena nanti, bos Bibi galak, walaupun belum tua sekali,"kata Bibi Ana bergurau,namun dia tidak tahu bahwa Bosnya adalah teman dari Itomi Zuzane.
Dan sesudah percakapan itu Sonoko dan bibinya meninggalkan rumah dengan mobil. Di Indonesia sangat mudah membeli mobil sedangkan di Jepang butuh perawatan khusus sehingga ayah dan ibu Sonoko memilih menggunakan Sepeda Listrik.
Mobil yang ada di rumah Nenek sebenarnya ada 2 satu punya ibu Sonoko tentunya hanya memang jarang digunakan, apabila berkunjung ke Indonesia baru digunakan. Bibi Ana melajukan mobilnya di tengah hiruk piruk Jakarta.
Tin-tin suara lalu lalang kendaraan disekitar Jakarta karena macet banyak angkutan kota,pedagang kaki lima dan motor yang memakan bahu jalan.
Sesampainya di Gedung berwarna Cokelat Gedung Fashion. Gedung itu merupakan tempat dimana Anako dan Itomi berada sekarang.
Melangkah dengan pasti tanpa kenal takut Sonoko berjalan. menuju resepcitoinis menanyakan kontes sedang berlangsung. didalam lift ada Itomi yang baru tiba dan menaiki lift sama dengan Sonoko. Itomi menekan angka 18 dimana
dilantai itu kontes modelnya dimulai. karena terlalu ramai Itomi tidak mengetahui mengenai keberadaan dari Sonoko,begitupun dengan Sonoko.
Sesampainya dilantai sama keduanya segera melangkah Itomi dengan buru-buru menghampiri Anako yang sudah ada dekat Juri Lainnya bernama Kamatsu Hatoni, Nanao Itami, Kuane Itoru. Mereka semua adalahpara model cukup terkenal di Internasional Fashion Week.
Ada juga Aktris tanah air Chelsea Island sebagai juri.
Semua duduk berdampingan dan mulai memasang mic dikerah masing-masing dengan bantuan para staf Anako. Disisi lain Sonoko sedang bersiap-siap
merapihkan baju dan dandannya terlihat natural namun memancarkan kecantikan wanita Jepang Indonesianya. Saingan Sonoko adalah seorang model cukup terkenal di Indonesia dia menyabet gelar model tercantum yaitu Hana Yunanda, wanita blasteran Jepang dan Indonesia.
Pesaing lainnya adalah Nanako model cantik blasteran Indonesia dan Belanda.
Semua model bersaing memperebutkan gelar Miss Tercantik dan akan menandatangani kontrak menjadi brani ambasador.
satu persatu para model itu dipanggil dan juga Sonoko terakhir dipanggil berjalan dengan wajah harap-harap cemas menjawab semua pertanyaan dengan baik.
Itomi merasakan hal yang aneh saat dia menanyakan alasan mengapa Sonoko mau menjadi model di Indonesia.
Tempat lain Bibi Ana telah memarkikan mobilnya di tempat parkir tidak sengaja bertemu Gunawan Wiguna mantan kekasihnya telah berkhianat dengan sahabatnya.
"Hai,lihat siapa ini?"kata Gunawan dengan wajah menyebalkan.
"Aigoo,sial sekali nasibku bertemu dengan-mu?"kata Bibi Ana.
"Wah,mulut-mu sungguh keterlaluan perawan tua,lidah berbisa macam ular,"kata Gunawan dengan nada menghina.
"Mana sijalangmu itu? ini adalah kantor dan wilayahku apa urusannya denganmu walaupun aku perawan tua?"kata Bibi ana mulai marah.
"Dia bahkan 100% lebih baik darimu Perawan tua,"kata Gunawan dengan wajah meremhkan lagi.
"Walaupun aku perawan tua tapi kelakuan kalian lebih menjijikan lebih daripada babi, Camkan itu,"kata bibi ana dengan tegas.
"Bilang apa kamu akan saya tampar mulut lemesmu itu,"kata Gunawan drngan segera menghuyungkan satu tangannya.
"Berani main tangan kau tidak pantas disebut laki-laki bung,"kata laki-laki sendari tadi melihat mereka bertengkar.
Dia adalah Pemilik dari tempat Bibi Ana bekerja Ceo Alvian wijaya teman dari Itomi. Umur Alvian memang sedikit lebih tua karena pernah beberapa kali tidak lulus kuliah. Hanya beda 5 tahun dari Itomi persahabatan mereka lebih dari teman bisa dibilang kakak dan adik.
"Siapa kau berani membela wanita ini,kau tidak usah ikut campur dengan masalah kami!"kata Gunawan dengan suara nyaring seraya berteriak.
"Hey,kau tiba-tiba menegur dengan tidak sopan lalu kau malah marah karena aku dibela oleh laki-laki lain?"yang benar sajah kau sepertinya yang sudah tua aki2 dasar.menjijikan."kata bibi ana lagi dengan mulut dimajukan 5 centimeter karena kesal.
"Jika Kau adalah laki-laki tuan sebaiknya bertengkar tidak didrpan kantor orang lain, malulah pada dirimu sendiri",kata alvian lagi menegaskan.
"Siapa kau berani mengatur.aku? aku adalah manajer di perusahaan PT citra lestari kau tahu perusahaan terbesar dikota ini,"kata Gunawan dengan sombongnya.
"Persetan kau dengan Perusahaan-mu aku adalah bos disini, kau menganggu karyawanku yang ini berkerja sepagi ini, hanya demi ocehan dari mulut sampahmunitu bahkan kau ingin menamparnya."kata Alvian menegaskan sambil.menelepon security kantor.
Tidak beberapa lama kemudian sekurirti kantor pun datang membuat Gunawan Wigunakaget dan terperanjat karena dia adalah bos dari mantan pacarnya Ana. Sungguh sial nasibnya saat ini,apalagi perusahaannha akan melakukan kerjasama dengan PT Bunga Karya.
Setelah itu Gunawan Wiguna pergi dengan mobilnya tidak jauh berada diparkiran sana dengan perasaan campur aduk.
sementara Bibi Ana dan Alvian langsung menuju gedung kantornya. kemudian terjadi percakapan singkat antara keduanya.
"Terimakasih Pak,bos. Maaf merepotlan anda sepagi ini,"Kata bibi Ana dengan malu.
"Tidak Masalah lagi pula laki-laki itu keterlaluan, kamu seharusnya memangil security kantor sajah,"kata Alvian drngan tegas.
"Baiklah, pak bos. saya juga berharap laki-laki itu tidak akan datang lagi."kata bibi Ana.
Selanjutnya hari itu dilalui Bibi Ana dan Alvian dengan baik tanpa adanya hal aneh karena Gunawan Wiguna masih shock berat.