Hari berganti bulan. Sudah semakin dekat dengan hari kelahiran bayi Khayra dan Aksa. Perut Khayra terlihat besar dan sudah menggantung di bawah. Katanya itu salah satu tanda kalau sebentar lagi akan melahirkan. Siang hari di Way Hujung udara tidak terlalu panas. Meski begitu Khayra kerapkali merasakan gerah luar biasa. Sebentar-sebentar menyeka pinggiran keningnya yang banjir oleh keringat. "Dik, harusnya pakai AC ya, biar kamu ga kegerahan gini." Aksa menyeka kening Khayra menggunakan tissue. Khayra tersenyum sekilas. Tidak masalah meski tidak memakai AC baginya, yang penting bisa berada dekat dengan sang suami. "Nggak pa-pa, Mas. Kalau siang aja agak gerah, kalau malam di sini malah dingin hawanya." Keduanya duduk di ruang tengah menikmati makan siang. Aksa pulang setiap kali ist

